BAB 5

Teknologi Media dan Ketahanan Budaya

Peran teknologi media, praktik media komunitas Galuh Prambanan TV dan Radio Komunitas Bayat, serta pengembangan media hiperlokal sebagai inovasi komunitas.

Key Insights

  • Media hiperlokal dikembangkan untuk menjangkau warga komunitas yang berada di luar wilayah geografis mereka.
  • Live streaming melalui Facebook dan YouTube menggantikan keterbatasan izin penyiaran konvensional.
  • Inovasi media lahir dari keterbatasan sumber daya dan ditopang komunikasi kooperatif antaranggota komunitas.

5.1Pengantar

Dalam bagian ini peneliti akan memaparkan bagaimana komunitas budaya mengembangkan inovasi teknologi media untuk sarana ekspresi. Dalam bab sebelumnya telah dipaparkan gambaran upaya komunitas budaya dan alasan untuk menjaga ketahanan budaya. Inovasi yang dilakukan oleh komunitas Bali Buja dalam menyebarluaskan konten seni dan budaya dilakukan dengan pertimbangan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas.

Kerangka konsep konvergensi digunakan untuk mengoptimalisasi teknologi media. Saat ini proses digitalisasi penyiaran telah berlangsung. Teknologi berbasis frekuensi yang sebelumnya dimanfaatkan media komunitas, kemudian ditunjang dengan pengembangan media daring. Infrastruktur internet di setiap daerah juga semakin mendukung optimalisasi teknologi media. Namun demikian, sebagian masyarakat khususnya di aera pinggiran masih mengalami kesulitan untuk beradaptasi dalam memproduksi konten. Salah satu temuan peneliti adalah perjuangan komunitas semakin meningkat ketika mendapatkan dorongan dari aktor sosial. Keterlibatan masyarakat di dalam komunitas bertambah ketika mengetahui bahwa inovasi yang sedang dikembangkan berupa media komunitas berbasis internet. Mereka melihat bahwa hal tersebut merupakan peluang untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Perhatian pengelola media dari Bali Buja adalah pencarian formula yang inovatif dengan menawarkan konten melalui beragam saluran. Multi-platform kemudian digunakan sebagai hasil pengembangan inovasi dari media komunitas.

Bab ini dibagi menjadi dua bagian utama: media komunitas; dan pengembangan media komunitas berbasis teknologi media. Pada bagian pertama, peneliti akan melaporkan temuan terhadap media komunitas yang menyokong keberadaan Bali Buja serta aksi pelestarian budaya. Elaborasi temuan data dilakukan peneliti melalui konsep media hiperlokal dan konsep komunikasi partisipatif yang diketahui menjadi landasan kegiatan bagi media komunitas. Data yang digunakan berasal dari pengamatan peneliti, informasi yang dipublikasikan, kajian pustaka, film dokumenter, dan hasil wawancara. Bagian kedua dari bab ini adalah temuan peneliti mengenai sifat media komunitas yang mengalami transformasi model media menjadi media hiperlokal. Selanjutnya, peneliti juga mendeskripsikan aktivitas partisipasi masyarakat yang menggunakan media baru dalam media komunitas.

Dalam penelitian berkaitaan dengan inovasi teknologi media ini, peneliti melakukan pemilihan informan relawan Bali Buja. Mereka merupakan anggota Bali Buja yang mengendalikan operasional media komunitas. Dua media komunitas yang mendukung teknis penyiaran konten dari Bali Buja yaitu Galuh Prambanan Televisi (selanjutnya disebut dengan: GPTV) dan Radio Komunitas Bayat (RKB). Bab ini akan memaparkan temuan peneliti setelah melakukan pendalaman terhadap peran media komunitas. Salah satu yang menjadi perhatian peneliti untuk melakukan analisis yaitu melalui pernyataan-pernyataan yang disampaikan informan.

Upaya inovasi yang dilakukan sebuah kelompok, namun berkesan sepele dan kurang waras, serta lebih mudah ditolak karena beragam alasan disebut Safi Bachall sebagai loonshots (Bahcall, 2019a). Peneliti berargumen bahwa apa yang dikoordinasikan oleh pengelola komunitas Bali Buja merupakan hasil loonshots.

Peneliti tidak mengalami kendala untuk menemukan informan dari Bali Buja guna mendapatkan informasi berkaitan dengan pemanfaatan teknologi media. Hal ini ditunjukkan dengan keterbukaan informasi dan akses yang diberikan oleh informan utama. Pak Sentot sebagai koordinator Bali Buja yang menjadi informan utama telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan eksplorasi. Berdasarkan informasi yang disampaikan Pak Sentot, peneliti kemudian menemui informan berikutnya yaitu Mas Barun dan Mas Winardi. Kedua sosok tersebut merupakan pelaku teknis dalam dua media komunitas Bali Buja. Pada bab sebelumnya, Mas Barun telah menjelaskan perihal keberadaan RKB yang secara tidak langsung menambah jaringan baru bagi Bali Buja untuk didengarkan lebih luas pada wilayah Kabupaten Klaten. Pada bagian ini, peneliti akan mendeskripsikan motivasi RKB melalui Mas Barun, selain itu juga untuk mengetahui teknologi media yang digunakan RKB. Informan berikutnya adalah Mas Winardi atau yang lebih sering dipanggil "Mas Kliwon" di kalangan warga komunitas. Mas Winardi akan menjelaskan pola teknologi media live streaming yang digunakan Bali Buja melalui kanal YouTube dan Facebook GPTV.

Inti dari bab ini adalah untuk mendeskripsikan sebuah proyek yang dirancang antara seniman pertunjukan tradisional dan seniman muda dalam mewujudkan kolaborasi produksi konten melalui tahapan adaptasi media baru. Praktik kolaboratif bertujuan menyuarakan aksi pelestarian budaya lokal atau nguri-uri budaya.

Pada bagian tulisan ini, peneliti akan menyajikan gambaran dari teknologi media yang digunakan Bali Buja untuk tujuan ketahanan budaya berdasarkan hasil analisa data dengan perangkat lunak atlas.ti. Beberapa perangkat data penelitian yang digunakan peneliti adalah dengan melakukan eksplorasi data, antara lain melalui film dokumenter Bali Buja disertai hasil wawancara peneliti dengan informan kunci Bali Buja khususnya yang mengelola media komunitas. Kegiatan observasi peneliti dilakukan dalam periode waktu 2018 -- 2021.

Secara metodologis, sejalan dengan bab sebelumnya, peneliti mengadopsi metode etnografi, salah satu penelitian kualitatif yang menggunakan metode pengamatan terhadap aktivitas media dalam suatu komunitas. Pendekatan ini dipilih sebagai strategi peneliti agar mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan yang mendalam terhadap sekelompok orang. Asumsi awal peneliti bahwa komunitas budaya tidak hanya sekadar menyelesaikan kendala mereka terkait keterbatasan akses pada media arus utama. Peneliti mengamati bahwa motivasi yang terbentuk di dalam diri pengelola media komunitas dilandasi dengan nilai-nilai kearifan lokal yang melekat dan mereka yakini. Berangkat dari hal tersebut, peneliti mengembangkan pendekatan etnografi dengan aksi partisipasi bersama komunitas budaya. Selain tetap konsisten melakukan serangkaian wawancara, pengumpulan data video dan audio, observasi jejak etnografi terhadap film dokumenter; peneliti juga mengintegrasikan kegiatan etnografi yang bersifat "menyajikan budaya" dengan tindakan pengembangan proyek.

Peneliti mengadopsi pendekatan etnografi aksi partisipatoris. Ruang lingkup pendekatan ini digunakan untuk mengembangkan proyek melalui pemahaman yang kaya tentang masyarakat (Tacchi et al., 2009). Pendekatan ini dirancang agar sedapat mungkin peneliti mengikuti arus kehidupan komunitas budaya termasuk memastikan temuan terkait partisipasi warga. Penggunaan metode ini memberikan keuntungan bagi peneliti karena menghubungkan peristiwa nyata dengan kerangka teoritis secara logis. Dalam publikasi penelitian sebelumnya, etnografi digunakan untuk menguji tantangan dan manfaat dari proses inovasi (Hoholm & Araujo, 2011). Etnografi 'real-time' menjadi metode dalam studi atas proses kreativitas dan organisasi (Håkansson & Waluszewski, 2009; Pavitt, 2005). Fleksibilitas aktivitas peneliti ini akan mendorong anggota masyarakat sebagai informan untuk berbicara secara lebih bebas terhadap pandangan mereka mengenai media komunitas, keberadaan teknologi media dan tujuan yang dianggap esensial dalam melestarikan budaya lokal.

Dilandasi oleh motivasi untuk menciptakan kontribusi terapan dalam ilmu sosial dan humaniora, peneliti memutuskan untuk membangun proyek kolaboratif dengan anggota Bali Buja. Untuk alasan tersebut, peneliti bersama relawan Bali Buja menjalani proses produksi konten lokal, produksi film dokumenter dan pengembangan kanal podcast. Kontribusi yang dijalankan ini merupakan karya pengembangan penelitian berbasis terapan. Terdapat antusiasme yang dirasakan peneliti ketika melaksanakan observasi, melakukan diskusi dengan komunitas budaya, serta mengkonseptualisasikan ragam inovasi media yang sekaligus untuk menjadi bahan bereksperimen dalam proses praktis bersama mereka.

Peneliti memiliki keinginan untuk membangun metodologis berbasis kreativitas dalam penelitian ini. Baik film dokumenter yang telah digunakan pada implementasi metodologis pada bab sebelumnya, serta kemudian melanjutkan praktik produksi media kreatif yang akan diurai pada bab ini. Podcast sebagai praktik produksi media kreatif dapat diterapkan sebagai implementasi dan presentasi penelitian akademik (Lundström & Lundström, 2021; D. Rogers et al., 2020). Inovasi teknologi yang mengkaitkan digitalisasi pembuatan data, produksi dan distribusi, mengubah proses penelitian dalam melihat mereka, mengalami apa yang diupayakan mereka, bagaimana pengarsipan produksi media. Sebagai konsekuensi dari kerja kolaboratif, peneliti melaksanakan wawancara, perekaman audio, perekaman video, dan kerja lapangan. Teknologi membantu peningkatan akurasi dalam rekaman digital untuk tujuan transkripsi dan pemeriksaan silang yang diperoleh di lapangan.

5.2Peran Teknologi Media

Berdasarkan dari hasil analisis data yang tercantum dalam gambar 5.1, bahwa dapat dijelaskan penelitian ini memiliki temuan terkait inovasi pengembangan media komunitas yang menggunakan teknologi internet. Pada awalnya, radio komunitas merupakan media satu-satunya yang menjalankan tugas Bali Buja untuk menyiarkan konten hasil pertunjukan seni. Namun, keterbatasan yang dimiliki radio komunitas kemudian menjadikan motivasi bagi Bali Buja untuk melakukan eksplorasi terhadap aneka ragam pilihan teknologi media. Hasil studi ini menegaskan bahwa eksistensi Bali Buja untuk melakukan langkah besar dalam mengatasi kendala akses yaitu didorong oleh gagasan relawan donatur. Keinginan untuk mempromosikan seni tradisional lebih luas kepada warga dunia adalah salah satu alasan relawan donatur.

Penelitian berkaitan media komunitas telah berargumentasi selama beberapa waktu bahwa dengan memfasilitasi masyarakat "biasa" dengan teknologi media serta mendorong mereka untuk membuat konten lokal akan membentuk mereka menjadi 'warga negara yang aktif' (Fox, 2019; Rodríguez, 2001). Teknologi media memungkinkan bagi pengelola media untuk menyampaikan dengan beragam cara untuk 'berkomunikasi' baik dalam jenis informasi yang disajikan maupun dalam cara kita mengalaminya (Croteau & Hoynes, 2018). Media komunitas berbasis teknologi media seperti internet dapat membantu pemberdayaan masyarakat 'biasa' (Tacchi et al., 2009) serta menjadi daya tarik bagi lembaga-lembaga yang peduli atas pembangunan masyarakat. Teknologi media merupakan bagian dari teknologi informasi dan komunikasi yang dieksploitasi dalam program-program bagi negara berkembang (Achimugu et al., 2009; Bhatnagar, 2000; Krishna & Madon, 2018; Quibria & Tschang, 2001; Wu et al., 2018). Teknologi media kemudian menjadi komponen pembangunan dan bagian alat komunikasi untuk perubahan sosial.

Bachall (2019a, 2019b) menyebutkan istilah loonshots yang didefinisikan sebagai proyek kreatif yang tidak dianggap pada awalnya, namun kemudian proyek tersebut berhasil mendisrupsi pasar. Teknologi media berbasis internet menciptakan loonshots, sebuah inovasi yang mengubah industri. Loonshots merupakan sebuah inovasi. Kemudian bagaimana penerapannya dengan media? Krumsvik (2019) menyebut penerapan teknologi media sebagai inovasi media. Pengembangan platform media baru, model bisnis baru, dan cara baru memproduksi teks atau genre media adalah contoh inovasi media. Perubahan dalam produk, proses, posisi, paradigma, genre, dan masyarakat termasuk dalam definisi inovasi media (Francis & Bessant, 2005). Inovasi media adalah inovasi dalam praktik media, setidaknya melalui perubahan teknologi media (Bruns, 2014). Seperti halnya dengan teknologi media, perubahan praktik media mencerminkan perubahan cara orang menggunakan media. Baik inovasi komersial dan nirlaba dapat mengambil manfaat dari pendekatan loonshots ini. Seperti yang telah diungkap pada bab sebelumnya, platform internet menjadi pilihah utama Bali Buja. Media daring yang sebelumnya belum dilirik oleh pengusaha media di Klaten, menjadi opsi utama Bali Buja untuk kemudian mengolah teknologi media sebagai landasan media hiperlokal. Mereka meyakini keterlibatan partisipasi masyarakat Bali Buja akan mengatasi kendala adaptasi terhadap teknologi.

Salah satu inovasi yang berkembang akibat dari teknologi informasi dan komunikasi yaitu platform. Platform memiliki karakteristik tersendiri sebagai hasil inovasi (Kasali, 2018), plaftorm merupakan bentuk ekstensi dari 'produk'. Masyarakat lebih mengenal dengan istilah produk. Produk didefinisikan sebagai bentuk bahan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Terdapat perbedaan cara memahami antara produk dengan platform. Ketika produk lebih mengutamakan penggunaan satu fungsi dan tujuan yang dapat dimanfaatkan penggunanya, sedangkan platform mengutamakan kepada pemanfaatan beragam produk untuk berbagai tujuan.

Secara umum diyakini bahwa konvergensi benar-benar terjadi sebagai akibat dari pertumbuhan pesat penggunaan internet dan perangkat multi-media, serta meningkatnya ketersediaan konten media di beragam platform (Doyle, 2010b). Platform semakin banyak dikenal dan diketahui oleh orang bersamaan dengan berkembangnya era digital, dimana banyak produk aplikasi yang bermunculan berbasis platform. Aneka kebutuhan masyarakat dapat diselesaikan dengan cara mengakses platform. Tidak dapat dipungkiri platform kemudian mengubah interaksi khalayak, baik sebagai produsen ataupun konsumen. Sebagai tambahannya, adanya platform menciptakan interaksi yang beragam antara pengguna.

Bali Buja sebagai bagian dari komunitas budaya turut mengembangkan media komunitas. Sebuah literatur menunjukkan upaya partisipasi masyarakat dalam membangun media disebut sebagai media warga. Rodríguez (2014) menyebut media warga sebagai sebuah konsep yang menyiratkan teknis kolektif media baru disertai interaksi sosial yang dilembagakan, identitas yang dilegitimasi, dengan memberdayakan komunitas (J. Downing, 2012). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan istilah media komunitas yang jika dikaitkan dengan konsep media warga memiliki kesamaan tujuan yaitu adanya komunikasi yang dikirim dari satu tempat dan diterima di banyak tempat oleh khalayak luas. Istilah media komunitas sebagai 'media warga' mendorong proses media dua arah, yang mencerminkan komunikasi partisipatif dan meningkatkan akses media melalui jaringan dan penyiaran warga ke warga.

Sebagai sebuah komunitas yang bergerak dalam kepedulian terhadap eksistensi seni dan budaya Jawa, Bali Buja berupaya melakukan beberapa aktivitas dengan memanfaatkan media komunitas. Pada dasarnya, peran Bali Buja adalah mengumpulkan kelompok-kelompok kecil seni di Klaten dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil. Sebelumnya, di Klaten juga telah banyak kelompok-kelompok seni budaya yang melakukan latihan dan berbagi apresiasi. Ada beberapa pertunjukan seni yang secara rutin didukung oleh Pemerintah Daerah, namun demikian beberapa komunitas juga lahir secara independen untuk bergerak mandiri dilandasi dengan kecintaannya terhadap kesenian.

Gambar 5.2 Penonton Siaran Langsung Pertunjukan Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

Bali Buja sebagai paguyuban dapati dikategorikan sebagai "asosiasi" yang menaungi kelompok-kelompok seni budaya. Studi ini menunjukkan bahwa peran Bali Buja hampir mendekati konsep agregator. Disebut sebagai agregator karena Bali Buja berupaya menyatukan kelompok-kelompok seni dan budaya yang sebelumnya tidak memiliki tempat di media arus utama dan tidak mudah untuk mendapatkan kesempatan tampil di panggung khusus pada media-media konvensional seperti panggung terbuka. Bali Buja meyakini bahwa kelompok seni yang diisi oleh 'warga biasa' tersebut justru membawa nilai-nilai kearifan lokal yang berlandaskan filosofi kehidupan yang mereka telah yakini.

Gambar 5.3 Kelompok Karawitan Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

<figure> <img src="media/image17.gif" style="width:3.72016in;height:2.09259in" alt="A picture containing person Description automatically generated" /> <figcaption><p>Gambar 5.3 Kelompok Karawitan Bali Buja</p></figcaption> </figure>

Keputusan Bali Buja dalam menggunakan teknologi media baru berbasis internet dicapai setelah melewati beberapa tahapan diskusi. Koordinator komunitas mengadakan diskusi dengan relawan, dan pengelola media komunitas untuk menggagas pola distribusi konten Bali Buja. Diawali dengan rutin mengadakan aksi ekspresi kesenian pada panggung-panggung kesenian rakyat, kemudia Bali Buja bekerja untuk menghasilkan gagasan menampilkan pertunjukan seni kepada khalayak yang lebih luas. Publikasi konten yang menggunakan media massa, selain digunakan sebagai media eksistensi, merupakan langkah Bali Buja untuk ketahanan budaya. Bali Buja menginginkan generasi muda akan terus menghargai budaya tradisional mereka serta memahami nilai-nilai kearifan lokal.

Salah satu gagasan awal yang menjadi hasil diskusi antar pengelola Bali Buja adalah keinginan untuk mendirikan radio komunitas atau televisi komunitas. Namun, setelah mempelajari tahapan pendirian, pertimbangan perizinan dan beberapa regulasi yang harus dihadapi, Bali Buja kemudian memilih untuk mendahulukaan pola kerjasama dengan media komunitas yang telah beroperasi.

RKB merupakan radio komunitas yang menjadi pilihan awal kerja kolaborasi Bali Buja. Sebagai konsekuensi dari pengembangan media baru yang digagas Bali Buja, pengelola RKB kemudian turut mempelajari teknik relay dalam model penyiaran mereka serta model siaran langsung live streaming. Konvergensi media yang dioperasikan oleh RKB mendapatkan respon dari luar lokasi pertunjukan, salah satu pengrawit Bali Buja yang juga pengamat Bali Buja yaitu Pak Martani menyampaikan informasi demikian.

"Kerap nyetel, penonton di luar, ada Youtube, ada streaming dari rumah, sekarang disiarkan RKB, sarananya banyak"

Perbedaan utama antara kelompok seni yang bergabung dalam Bali Buja dengan kelompok-kelompok seni yang sebelumnya telah berhasil pentas dalam panggung-panggung yang disediakan oleh pemerintah ataupun media arus utama yaitu terletak pada kemampuan para pelaku seninya. Mereka memiliki skill atau kemampuan yan beragam. Ada kelompok warga yang memang telah terlatih dengan baik, namun ada sekelompok anggota yang masih mempelajari teknik. Bagi kelompok semacam ini, kesempatan untuk dapat tampil dalam media arus utama tentu mengalami kendala. Media arus utama akan melihat mereka belum layak tampil. Karakter media arus utama memang harus selektif dalam menayangkan konten. Mereka akan lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada komunitas yang telah dianggap "jadi" dan siap tampil di depan publik.

Peneliti menunjukkan bahwa kelompok-kelompok seni yang dikategorikan belum layak tampil pada media arus utama sebenarnya tetap memiliki hak yang sama untuk berekspresi kesenian. Bahkan, berdasarkan pengamatan peneliti, setiap komunitas yang akan tampil melalui media Bali Buja, mereka pun mengadakan serangkaian latihan terlebih dahulu. Tidak hanya menjalan latihan, Koordinator Bali Buja pun turut memantau hasil latihan mereka.

Gambar 5.4 Seniman Karawitan Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

<figure> <img src="media/image18.gif" style="width:3.65741in;height:2.05729in" alt="A picture containing shop Description automatically generated" /> <figcaption><p>Gambar 5.4 Seniman Karawitan Bali Buja</p></figcaption> </figure>

Perkembangan platform media sosial turut menyumbangkan ruang baru bagi keberadaan konten lokal. Beberapa laporan sebelumnya menunjukkan aksi seniman tradisional yang telah memiliki fans atau massa dalam menggunakan aplikasi YouTube. Ki Dalang Seno (Almarhum Ki Seno Nugroho) adalah salah satu dalang yang dianggap pionir dalam mengelola secara profesional kanal akun YouTube. Kanal YouTube Ki Dalang Seno tidak hanya mendapatkan atensi dari kalangan masyarakat yang telah mengenal dalang Seno sebelumnya, melainkan juga turut menerima perhatian masyarakat yang merasa peduli dengan seni Wayang dari berbagai wilayah. Keberhasilan Ki Seno Nugroho kemudian diikuti oleh beberapa seniman wayang lainnya.

Beberapa seni tradisional kemudian juga turut memanfaatkan sarana teknologi berbasis internet untuk dijadikan sebagai sarana berekspresi. Pemanfaatan teknologi media disebut sebagai bagian upaya seniman untuk menjaga eksistensinya. Ketika media arus utama mulai mengurangi jatah penampilan tradisional atau seni budaya, seniman justru cenderung mempertimbangkan keberadaan multi-platform.

Penggunaan media baru cenderung dipilih karena kemampuan meraih khalayak yang lebih luas tanpa dibatasi dengan area geografis. Berdasarkan penelusuran peneliti, media lokal seperti media-media turunan dari media nasional juga berupaya untuk menjaga konten lokal. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah konten bermuatan lokal yang mendominasi konten-konten yang ditampilkan pada media lokal.

TVRI, sebagai stasiun televisi nasional juga menggunakan sarana internet untuk kebutuhan penyiaran berbasis streaming. TVRI merespon keberadaan media baru dengan menghadirkan aplikasi yang dapat diunduh melalui smartphone. Dalam aplikasi tersebut, terdapat fitur yang dapat mengajak pengguna untuk memilih tayangan-tayangan lokal sesuai keinginan. Masyarakat diberikan kesempatan untuk mengakses TVRI sesuai dengan wilayah mereka tinggal. Namun demikian, terdapat perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi media. Misalnya kebiasaan mengkonsumsi streaming melalui situs web, sebenarnya sudah menjadi salah satu alternatif pilihan masyarakat. Namun, khalayak masyarakat cenderung akan mengkonsumsi konten yang sesuai dengan cara yang mereka anggap paling mudah.

Seleksi khalayak dalam memilih konten dapat disebut sebagai konten berbasis on-demand. Masyarakat memilih konten yang disesuaikan dengan kebutuhannya saat itu. Kebutuhan yang semakin memenuhi ceruk khusus ini dimaknai sebagai pergeseran model bisnis media menuju "ceruk pasar" (Cook & Sirkkunen, 2013; Hess & Waller, 2016). Perspektif ini kemudian memberikan jalan baru untuk keberlanjutan operasional media massa di era digital. YouTube kemudian semakin dipertimbangkan kehadirannya, salah satu alasannya adalah kemudahan masyarakat dalam mengakses media melalui platform tersebut.

YouTube semakin populer karena memberikan kemudahan baik untuk kreator konten ataupun penggunanya. Pemilihan aplikasi yang masuk kategori media sosial seperti YouTube, Facebook atau Instagram oleh seniman-seniman dilandasi karena kemudahan masyarakat dalam mengakses aplikasi. Di samping itu, seniman juga dimudahkan dengan pengembangan media ekspresi melalui perangkat yang memang telah menjadi alat komunikasi sehari-hari seperti telepon pintar dan komputer.

Teknologi media dianggap berhasil dalam upaya menyebarluaskan ekspresi kesenian secara luas. Sebuah kondisi yang sebelumnya cukup sulit ketika ingin meraih massa secara luas dengan masif. Seperti yang telah diungkap di atas, perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi konten turut mendorong keberadaan teknologi media berbasis internet. Masyarakat semakin meninggalkan model konsumsi pada media konvensional seperti televisi, terutama di kota-kota besar, dan menggantikannya dengan konsumsi konten hiburan melalui media berbasis internet. Sebagai konsekuensi dari kebiasaan masyarakat ketika mengkonsumsi konten. Peralihan pun turut terjadi dari sudut pandang kreator konten. Masyarakat yang sebelumnya intens sebagai penonton kemudian termotivasi untuk memproduksi konten dan menyebarluaskan melalui fasilitas internet. Kreator konten juga dengan mudah mengelola kebutuhan produksinya. Produksi dapat dihasilkan tanpa perlu membutuhkan dukungan modal dan finansial yang besar.

Dalam tinjauan penelitian berikutnya, peneliti akan memaparkan keberadaan peran media komunitas yang semakin besar peluangnya jika dihadapkan dengan pemanfaatan teknologi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan semakin berkembangnya media siber yang dianggap legal (karena tercatat ataupun dicatat oleh Dewan Pers) ataupun dianggap ilegal atau liar. Jika kembali menelusuri sejarah berkembangnya radio komunitas, pada dasarnya tumbuhnya media komunitas diawali dari semangat 'radikal' atau bagian perlawanan sebagian masyarakat terhadap akses media yang cenderung dikuasai oleh konglomerat pemegang kendali media arus utama. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa media komunitas dibatasi dengan adanya beragam undang-undang dan peraturan pemerintah.

Respon pemerintah terhadap era digitalisasi, membentuk sebuah argumen bahwa media komunitas 'diarahkan' untuk lebih melakukan optimalisasi dengan teknologi media berbasis internet dibandingkan fokus kepada jatah frekuensi. Sampai dengan laporan penelitian ini diangkat, secara spesifik pemerintah belum merilis peraturan yang mengikat bagi komunitas yang ingin mengembangkan media komunitas berbasis internet.

Komunikasi Partisipatif Dalam Media Komunitas

Media komunitas lahir atas pergerakan sekelompok masyarakat yang tidak ingin terpengaruh dengan kekuasaan media arus utama. Media arus utama seperti televisi misalnya, akan secara spesifik menampilkan konten-konten yang bersifat umum dapat dikonsumsi oleh siapapun yang sedang memiliki kendali atas remote control. Kebutuhan khalayak menjadi seakan disesuaikan dengan arah tujuan para penguasa media. Konten-konten yang dihadirkan pun tidak secara spesifik mewakili setiap elemen kelompok masyarakat. Dalam kasus ini, media arus utama kemudian dikenal atas kemampuannya yang hanya menampilkan tayangan berdasarkan kepentingan penguasa media.

Bali Buja memiliki komitmen mengembangkan media komunitas yang berbasiskan partisipasi masyarakat. Rodríguez (2014) menyebutkan gerakan partisipasi masyarakat yang mengolah teknologi media dengan istilah media warga. Media warga didefinisikan sebagai media yang melepaskan diri dari definisi media yang kuat (media arus utama) dan media yang tidak berdaya (media alternatif). Media warga dianggap tidak membatasi potensi media alternatif yang memiliki kemampuan untuk melawan konglomerat media besar. Namun demikian, media warga memperhitungkan proses pemberdayaan masyarakat untuk tujuan 'merebut kembali' media mereka sendiri.

Bagi komunitas, konten-konten yang sifatnya generalisasi tidak sesuai dengan semangat independensi. Media berbasis kewargaan adalah salah satu bukti bahwa masyarakat semakin sensitif dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi untuk berbagi informasi yang dianggap lebih nyata dibutuhkan masyarakat. Status media "kewargaan" memang pada dasarnya memang tidak dipungkiri disematkan bagi pengelola media yang memang dianggap belum memiliki kompetensi dan kapabiltas dalam menyampaikan berita. Namun, dari hal tersebut dapat juga dikaitkan bahwa masyarakat tidak memiliki 'kemerdekaan' yang cukup luas ketika ingin tampil dalam media arus-utama.

Selain hadirnya jurnalisme warga, keberadaan media komunitas juga menjadi 'suara ekstensi atas kebutuhan masyarakat' yang tidak terpenuhi melalui media arus utama. Media komunitas biasanya cenderung fokus pada konten-konten yang memiliki semangat lokalitas yang tinggi. Radio komunitas misalnya, berdasarkan temuan pada kajian literatur sebelumnya, disebutkan di Indonesia cukup berkembang dengan pesat khususnya pada saat era transisi reformasi. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat menginginkan sebuah ruang publik dengan tingkat kesempatan partisipasi yang tinggi. Jika akses masyarakat dalam media arus utama dibatasi, berbeda dengan media komunitas. Bahkan jika dibandingkan dengan media lokal sekalipun, media komunitas memiliki tingkat partisipatif yang tinggi. Beberapa peneliti sebelumnya menyebutkan komunikasi partisipatif sebagai bagian dari bukti keterlibatan yang intensif bagi sekelompok masyarakat dalam membangun media komunitas.

Komunikasi partisipatif adalah bagian dari komunikasi pembangunan yang terkait dengan paradigma pembangunan modernisasi, ketergantungan, dan multiplisitas. Para pencipta paradigma modernisasi berasumsi bahwa faktor internal di setiap negara bertanggung jawab atas keterbelakangan dan dapat diatasi dengan bantuan negara maju (Servaes & Malikhao, 2008). Dengan kata lain, keterbelakangan yang terjadi di negara-negara dunia ketiga merupakan hasil dari masyarakat maju (Servaes, 1996). Namun demikian, komunikasi pembangunan pun terjadi dengan berkembangnya pesan-pesan program pembangunan yang ditransmisikan melalui komunikasi satu arah dari pusat (Servaes, 1989). Kritik terhadap paradigma pembangunan tersebut, kemudian muncul bentuk pembangunan baru dalam paradigma multiplisitas (Servaes, 2020). Konsep sentral dari paradigma multiplisitas adalah partisipasi masyarakat. Alat komunikasi dalam paradigma ini yaitu model partisipatif atau komunikasi bottom-up. Servaes (2020) menunjukkan bahwa model partisipatif menempatkan masyarakat di bawah kendali pengembang.

Gambar 5.5 Kelompok Seni Menggunakan Truk Datang ke Lokasi Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

Langkah Bali Buja dalam mewujudkan komunikasi partisipatif anggotanya diawali dengan kerja kolaborasi dengan radio komunitas. Opsi awal pilihan radio komunitas bermula dari informasi salah satu anggota Bali Buja, bahwa di antara beberapa radio komunitas yang berkembang di Klaten, terdapat sebuah radio yang memiliki visi sama dengan Bali Buja yaitu peduli dengan keberadaan seni tradisional. RKB sebagai media komunitas pertama dari Bali Buja dikelola dengan model manajemen media komunitas yang secara independen dimiliki oleh warga Bayat. RKB dikenal oleh warga karena secara konsisten menyajikan konten dengan ragam kesenian seperti wayang kulit, karawitan dan campursari. Pada bagian lain bab ini, peneliti akan menyajikan informasi terkait RKB, mulai dari latar belakang RKB hingga motivasi yang mendorong pengelola RKB untuk tetap bertahan.

Komunikasi Media Baru di Komunitas Budaya Bali Buja

Komunitas Bali Buja sebagai paguyuban atau perkumpulan dari beragam komunitas seni terdapat di Klaten memiliki aktivitas daring melalui media sosial seperti Facebook dan aplikasi YouTube. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian terdahulu tentang pemanfaatan teknologi media khususnya media baru yang mengubah infrastruktur dan ritme kehidupan sehari-hari (Horst, 2020; López-Gómez et al., 2021; Tacchi, 2002). Bali Buja menggunakan kanal bernama Galuh Prambanan Televisi (selanjutnya disebut sebagai GPTV) sebagai media perantara dalam menyampaikan konten ekspresi kesenian. GPTV merupakan media komunitas berbasis pemanfaatan media internet yang tergolong sebagai produk media baru.

Gambar 5.6 Aktivitas Siaran Langsung Karawitan Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

Peneliti dalam studi kualitatif ini memilih GPTV sebagai tujuan informatif untuk memperoleh wawasan ke dalam fenomena media komunitas Bali Buja. GPTV, sebagai bagian dari objek penelitian, berpusat di Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten. Lokasi operasional GPTV berada di sebuah pendopo bernama Grha Purbo Waseso Kencono. GPTV merupakan media komunitas yang secara langsung dikoordinasi oleh komunitas Bali Buja. Bagi peneliti, GPTV kemudian menjadi sumber yang tepat untuk dikaji dalam mendapatkan informasi berkaitan dengan pengelolaan dan inovasi media komunitas. Meskipun dalam nama akun media-nya menggunakan kata atau istilah "televisi", namun luaran distribusi konten yang dihasilkan oleh GPTV berbentuk kanal yang disiarkan melalui aplikasi Facebook dan YouTube.

GPTV dengan rutin menyiarkan hasil siaran streaming-nya melalui aplikasi. Perangkat teknologi yang digunakan GPTV antara lain berupa perangkat keras komputer personal dengan spesifikasi sedang. Dengan bekal perangkat lunak yang disematkan dalam komputer tersebut, GPTV kemudian juga mendistribusikan hasil rekaman siaran streaming-nya secara bersamaan melalui dua aplikasi yaitu YouTube dan Facebook. Temuan dalam penelitian ini yaitu khalayak komunitas Bali Buja merespon dengan baik siaran streaming yang ditawarkan melalui kedua aplikasi. Namun demikian, jika ditinjau dari fitur pengguna dan komentar, pada aplikasi Facebook GPTV lebih banyak mendapatkan umpan balik.

Gambar 5.7 Tampilan Facebook Siaran Langsung Galuh Prambanan Televisi
Gambar 5.7 Tampilan Facebook Siaran Langsung Galuh Prambanan TelevisiSumber: Facebook Galuh Prambanan Televisi

<figure> <img src="media/image21.png" style="width:5.61544in;height:2.39796in" alt="A picture containing text Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015607" class="anchor"></span>Gambar 5.7 Tampilan Facebook Siaran Langsung Galuh Prambanan Televisi</p></figcaption> </figure>

Penelitian ini berfokus pada penggunaan teknologi media berbasis internet untuk mengembangkan media komunitas yang digunakan Bali Buja dalam memelihara seni budaya lokal dengan segala kearifan lokal yang melekat di dalamnya. Penampilan kesenian yang ditampilkan oleh Bali Buja tidak hanya fokus pada satu jenis kesenian tradisional, begitu pandangan dari Pak Sentot sebagai informan peneliti yang merupakan koordinator utama dari aktivitas Bali Buja.

"Ada ketoprak.. Ada karawitan.. Ada wayang orang.. Itu yang wayang kulit yang sementara ini diwadahi oleh Bali Buja.. terus secara kegiatannya kalau wayang kulit itu setiap malam minggu legi" (Sentot)

Konten-konten seni dan budaya yang ditampilkan GPTV mengikuti program yang telah dijadwalkan oleh Bali Buja. Berdasarkan jejak etnografi yang dilakukan peneliti dalam kanal YouTube GPTV, seni karawitan mendominasi konten seni Bali Buja. Beberapa kali GPTV juga menayangkan kegiatan wayang kulit. Seluruh konten Bali Buja yang ditayangkan GPTV adalah hasil siaran langsung. Hasil siaran tersebut kemudian melalui proses pengaturan yang dilakukan dalam aplikasi YouTube kemudian terekam secara otomatis.

Data yang didapatkan terkait pendirian GPTV, peneliti menemukan bahwa gagasan awal untuk mengembangkan GPTV diawali dari ide relawan donatur Bali Buja yaitu Djaetun Hardjosaputro atau lebih sering dipanggil oleh warga komunitas dengan nama Bapak Djaetun. Dimulai dengan evaluasi media komunitas Bali Buja yang memanfaatkan fasilitas RKB, Bapak Djaetun kemudian mengusulkan pertimbangan inovasi bagi Bali Buja dengan memanfaatkan internet. RKB berkontribusi kepada Bali Buja melalui membuka jaringan yang lebih luas kepada masyarakat Klaten. Namun karena konsekuensi terbatasnya siaran radio menggunakan jalur frekuensi, RKB tidak mampu memberikan layanan kepada khalayak di luar area Klaten. Dalam bagian lain dalam bab ini, peneliti akan memaparkan proyek kolaborasi Bali Buja dengan Radio Komunitas Bayat.

Peneliti berargumen bahwa pilihan media daring yang menjadi praktik Bali Buja sejalan dengan konsep media hiperlokal. Karakteristik hiperlokalitas dalam media hiperlokal ditandai dengan pemilihan platform media baru untuk menembus batasan geografis wilayah asal komunitas. Konteks menjangkau khalayak yang lebih luas untuk media hiperlokal adalah untuk menjangkau warga masyarakat yang masih memiliki satu ikatan identitas dengan komunitas. Sehingga, anggota komunitas yang memiliki domisili jauh dari pusat lokasi kegiatan, masih memiliki kesempatan untuk berpartisipasi. Karakteristik lain yang dapat ditunjukkan sebagai media hiperlokal adalah keberadaan konten GPTV yang diproduksi oleh anggota komunitas.

GPTV tidak masuk ke dalam kategori sebagai media televisi lokal, melainkan masuk ke dalam media komunitas yang memanfaatkan jalur daring. Sebagai media komunitas yang memiliki sumber daya manusia terbatas dan tidak memiliki bekal profesional dalam bidang penyiaran, Bali Buja mengalami kendala pada saat awal kemunculannya. Bali Buja berupaya menjawab tantangan tersebut dengan mempersiapkan beberapa relawan anggotanya. Mereka memilih beberapa relawan yang telah memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan sarana audio-visual dan paham dengan teknologi internet. Mereka tidak hanya memilih relawan yang rata-rata masih berusia muda, namun, Bali Buja juga menjalin kerjasama dengan sekelompok akademisi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Tujuan kolaborasi tersebut adalah meletakkan fondasi awal atau pengaturan awal terhadap media komunitas GPTV. Operasional GPTV yang dijalankan oleh SDM yang tidak memiliki pengalaman kemudian secara perlahan diminimalisir dengan konsep 'belajar sambil melakukan'. Evaluasi yang rutin dilaksanakan setiap akhir siaran menjadi cara yang dianggap paling sederhana dan mudah oleh Bali Buja.

Langkah inovasi yang berani diambil oleh Bali Buja mendapatkan respon yang baik dari khalayak. Terlepas dari segala kekurangan teknis yang dialami GPTV, perkembangan positif GPTV kemudian dapat diraih melalui umpan balik khalayak. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, aplikasi-aplikasi yang utama digunakan dalam GPTV yaitu aplikasi YouTube dan Facebook. Kedua aplikasi tersebut digunakan untuk mempublikasikan konten video. Sedangkan sarana komunikasi untuk mengirimkan pesan apresiasi, memberikan masukan terhadap kualitas tayangan dan diskusi antar anggota atau khalayak, GPTV mengelola aplikasi jejaring sosial WhatsApp dan pesan singkat SMS. Melalui hasil pengamatan peneliti terhadap fitur komentar di dalam Facebook, pesan apresiasi khalayak juga disampaikan melalui kolom tersebut.

Dengan memanfaatkan aplikasi yang sangat dekat dengan generasi muda merupakan langkah yang dianggap strategis agar masyarakat kelompok muda juga perlahan mengenal, kemudian turut mendukung serta menjadi bagian dari komunitas budaya yang berupaya mempertahankan seni dan budaya Jawa.

"Kalau streaming itu sekarang sudah mendunia Mas. Namanya streaming kan untuk dunia. Terutama kami dapat WA itu, yang nonton bareng ya itu dari Nganjuk Jawa Timur Pak Tri Cahyono itu pasti nonton bareng, terus juga dari Cawas itu juga nonton bareng selain itu yang pribadi dari luar negeri juga ada Mas. Dari Suriname dari Arab dari Amerika terus itu dari Belanda juga pernah juga, dari Jerman, Jerman sering."(Sentot)

Sesuai dengan tujuan Bali Buja yaitu ketahanan budaya, penggunaan aplikasi yang memang cenderung lebih dekat dengan generasi muda saat ini. Kemudahan dalam akses karena cukup menggunakan perangkat telepon seluler

Gambar 5.8 Penggunaan Teknologi Streaming oleh Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

GPTV menggunakan peralatan yang memadai dalam mencapai kualitas hasil gambar yang dianggap cukup untuk ditayangkan melalui streaming. GPTV memiliki perangkat kamera video definisi tinggi dan sejumlah peralatan webcam untuk menyempurnakan sistem multi-kamera. Di dalam perangkat komputer juga telah diinstalasi dengan aplikasi perangkat lunak untuk membantu perpindahan gambar antar kamera.

Bali Buja menggunakan teknologi media baru berbasis internet setelah melewati beberapa tahapan gagasan untuk distribusi konten. Bali Buja yang mengawali kegiatannya melalui panggung terbuka kemudian berkembang dengan upaya distribusi konten melalui penggunaan media massa. Tidak hanya digunakan untuk mempublikasikan beragam seni dan budaya Jawa, Bali Buja secara tidak langsung ingin menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diresapi oleh generasi muda.

5.3Media Komunitas

Sebelum memasuki diskusi berkaitan media komunitas, peneliti akan memaparkan terlebih dahulu konsep komunitas berdasarkan kajian literatur. Dalam wacana akademik kontemporer, terdapat berbagai konsepsi komunitas. Demikian halnya sama dengan pemahaman media komunitas yang memiliki ragam definisi dan pandangan, 'komunitas' juga memiliki istilah lain yang bervariasi, meliputi istilah lokal, akses, radikal, alternatif, pedesaan, nirlaba (Meadows et al., 2009). Freilich (1963) menyebutkan syarat komunitas yaitu kumpulan atau pusat dari orang-orang dalam yang bersatu karena adanya interaksi di area tertentu. Definisi tersebut sejalan dengan apa yang diungkap Hillery (1955) yaitu ikatan bersama dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya terjadi interaksi sosial, lokasim dan ikatan. Brown (2004) mengidentifikasi karakteristik dalam suatu komunitas adalah pengelompokan geografis, transgeografis atau kombinasi dari keduanya yang membentuk aktivitas sosial kolektif. Geografis, tindakan sosial, dan orang-orang adalah kata kunci khas yang ditemukan dalam definisi komunitas.

Perkembangan teknologi pada arus globalisasi menantang konsep komunitas. Komunitas tidak hanya diperhitungkan sebagai bagian dari sebuah wilayah atau daerah tertentu, melainkan komunitas menjadi semakin kompleks dengan digitalisasi. Komunitas tidak lagi hanya menjadi perwujudan sebuah kelompok masyarakat yang tinggal di area geografis tertentu. Sebagai konsekuensi dari berkembangnya media baru, komunitas kemudian didefinisikan ulang. Beberapa komunitas terbenam dalam bentuk definisi yang ditentukan secara geografis, namun demikian saat ini kelompok masyarakat semakin mengandalkan komunikasi yang dimediasi komputer untuk mengakses informasi dan bertemu dengan orang lain (Yao & Ling, 2020) keluar dari jangkauan wilayah. Jaringan sosial kemudian menjadi sarana paling sederhana untuk menunjukkan bahwa kelompok masyarakat terhubung (Khatoon & Banu, 2018). Karena itu, komunitas tidak harus secara ketat didefinisikan sebagai kelompok yang berisi individu dalam sebuah area geografis. Akibatnya, teknologi memungkinkan komunitas terbentuk karena jaringan sosial yang bahkan tidak tinggal pada lingkungan yang sama. Dalam konteks diskusi penelitian ini yaitu media komunitas, penggunaan istilah 'komunitas' kemudian tidak hanya diasumsikan bahwa khalayak harus berada dalam wilayah geografis yang sama.

Konsep tentang media komunitas, telah menunjukkan dalam tradisi teoritis dan empirisnya yang panjang dan sulit dipahami (van de Fliert, 2021). Atton (2015) mengajukan konsep media alternatif dalam mendefinisikan media komunitas. Dengan kata lain, alternatif memiliki pengertian yaitu sebagai pilihan atau opsional bagi khalayak yang tidak mengkonsumsi media arus-utama. Media komunitas mengambil banyak bentuk dan mode, termasuk media cetak, radio, televisi, video, film, dan media daring. Di era digitalisasi yang mengutamakan fasilitas jaringan internet, media komunitas melibatkan beberapa jenis kolaborasi. Internet digunakan oleh media komunitas sebagai fitur bertahan di tengah pesatnya globalisasi (Coyer, 2011). Media daring menjadi sebuah sarana alternatif bagi media massa jalur konvensional seperti televisi lokal, radio, dan surat kabar yang menurun. Media daring menciptakan kesempatan bagi pengelola media untuk menjangkau khalayak secara daring. Kemampuan digitalisasi, kecepatan akses, dan tingkat jangkauan khalayak yang lebih luas adalah karakteristik dari media daring. Penelitian ini tidak fokus kepada partisipasi daring yang dilakukan oleh masyarakat Bali Buja yang tersebar di luar wilayah Klaten, melainkan peneliti akan mengarah kepada partisipasi anggota komunitas yang di dalam wilayah geografis ketika melakukan kegiatan awal untuk membentuk media komunitas.

Teknologi digital kemudian hadir sebagai inovasi bagi pengembangan media penyiaran. Inovasi ini menciptakan peluang tidak hanya spesifik bagi media arus-utama, melainkan juga memberikan kesempatan bagi media komunitas yang selama ini termarjinalkan. Era digitalisasi membuka peluang dan ruang baru bagi media komunitas untuk bertahan dengan memanfaatkan multi-platform. Namun demikian, untuk mampu bisa menyatu dengan teknologi digital tentu media komunitas juga perlu mengatur strategi dengan teknologi apa mereka harus bertahan. Bagi komunitas seperti Bali Buja, memanfaatkan teknologi media berbasis digital tentu bukan hal yang murah ataupun mudah dijangkau. Komunitas membutuhkan peran dari anggota ataupun relawan yang memiliki kemampuan untuk mendukung keberadaan 'infrastruktur' teknologi media. Peran aktor sosial dalam Bali Buja diperlukan agar eksistensi dan tujuan atas ketahanan budaya tetap mampu diperjuangkan.

Semangat dan motivasi membangun media berbasis online atau daring pada dasarnya sudah dianggap menjadi karakteristik alamiah media komunitas. Sebuah media komunitas akan berkembang menyesuaikan dengan trend ataupun teknologi yang berkembang. Media komunitas seperti radio komunitas misalnya. Mereka berkembang menyesuaikan dengan teknologi yang tersedia di masyarakat. Berangkat dari model radio amatir, kemudian penggunaan sarana frekuensi hingga pemanfaatan sarana konvergensi. Hal ini juga diungkapkan oleh Sinam Sutarno atau Mas Sinam sebagai Ketua Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Dalam suatu kesempatan, peneliti bertemu dengan Mas Sinam untuk mendapatkan gambaran yang lebih terkini berkaitan dengan kondisi perkembangan radio komunitas khususnya di Indonesia. Saat ini, radio komunitas mempertimbangkan pemanfaatan media daring untuk sarana eksistensi.

Radio komunitas tidak hanya saja fokus kepada pengembangan frekuensi, namun juga memperluas teknologi media yang digunakan. Dalam penjelasannya, Mas Sinam menuturkan bahwa konsep three on atau 3ON dijalankan oleh radio komunitas. 3ON ini merupakan singkatan dari On Air, Off Air, dan Online. Secara independen, pengelola radio komunitas berupaya mengintegrasikan model 3ON tersebut sebagai inovasi untuk terus mampu berekspresi dan menyampaikan suara. 3ON lahir sebagai konsep pengembangan inovasi radio komunitas yang tidak lagi melihat frekuensi radio sebagai satu-satunya jalur sarana berekspresi. Layaknya pengelolaan radio komersial, bahwa pendekatan dengan khalayak yang loyal tetap diperlukan agar keberadaan radio terus diakui. Demikian halnya dengan radio komunitas, pengelola akan melakukan rangkaian kegiatan Off Air sebagai kegiatan pendukung sarana komunikasi dengan pendengarnya. Radio komunitas pun melihat bahwa kegiatan off air tidak lagi menjadi 'kegiatan pendamping'. Radio komunitas tidak lagi sebagai sebuah produk, melainkan sebagai platform. Radio komunitas menjadi ruang publik bagi kalangan masyarakat dengan ceruk khusus.

Lebih lanjut mengenai inovasi radio komunitas, mereka juga benar-benar melakukan optimalisasi media baru (Birowo et al., 2016). Media daring dalam konteks media baru tidak hanya saja dibatasi dalam model pemanfaatan teknologi streaming. Namun, seperti pada penjelasan sebelumnya, bahwa radio komunitas juga memperhitungkan penggunaan model-model teknologi media yang sedang berkembang dan dikonsumsi oleh masyarakat. Seperti halnya penggunaan podcast yang digunakan oleh radio komersial pun juga dipertimbangkan oleh radio komunitas. Meskipun teknik penyiarannya pun berbeda dengan siaran konvensional berbasis frekuensi, tetapi jenis model podcast ini pun juga menjadi pertimbangan pengembangan. Pengelola radio komunitas terus memperkaya wawasan teknologi media agar eksistensi mereka tetap terjaga. Bagi pengelola radio komunitas, saat ini yang menjadi perhatian utama adalah tujuan mereka melakukan siaran. Misi yang dirancang kemudian tujuan melakukan aktivitas siaran adalah hal yang paling esensial. Untuk alasan ini, radio komunitas kemudian juga menggunakan multi-platform atau aneka platform yang berkembang di masyarakat. Pengolahan media sosial seperti Twitter atau Instagram dan aplikasi video seperti YouTube dan TikTOk menjadi alternatif bagi radio komunitas untuk terus menyampaikan pesan. Bahkan agar tetap menjaga karakteristik "radio", produksi konten mereka dikembangkan dengan terus menjaga ciri-ciri radio yaitu auditif. Konten yang ditampilkan dalam media sosial, dimunculkan dengan kombinasi audio-visual.

Gambar 5.9 Pengawasan Penggunaan Kamera Video GPTV
Gambar 5.9 Pengawasan Penggunaan Kamera Video GPTVSumber: Dokumentasi Peneliti

<figure> <img src="media/image23.JPG" style="width:3.52222in;height:2.34815in" alt="A picture containing text, indoor Description automatically generated" /> <figcaption><p>Gambar 5.9 Pengawasan Penggunaan Kamera Video GPTV</p></figcaption> </figure>

Bagi pengelola media komunitas, pemilihan platform media sosial yang tepat perlu diperhitungkan dengan cermat. Pengelola akan mempelajari aplikasi yang paling sering digunakan oleh kebutuhan khalayak. Untuk konsekuensi tersebut, penelitian ini menjadi penting karena memberikan gambaran bahwa setiap media komunitas memiliki karakteristik penggunaan teknologi media yang berbeda. Penggunaan aplikasi tidak lagi hanya sekadar mengikuti tren media sosial yang sering digunakan oleh warga dunia secara global. Misalnya, aplikasi TikTok. Meski TikTok dianggap menjadi fenomenal karena banyak kalangan warga dunia yang menggunakan untuk aneka ragam tujuan, bukan berarti sebuah media komunitas langsung memilih aplikasi tersebut. Pilhan paling bijak dalam memilih aplikasi yaitu mempertimbangkan mayoritas penggunaan masyarakat komunitas yang masih masuk dalam wilayah ceruk khusus.

Dalam kasus Bali Buja, komunitas budaya ini memilih untuk melakukan optimalisasi terhadap media daring. Meskipun sarana media konvensional seperti radio komunitas tetap dipertahankan, namun, mereka cenderung untuk mengembangkan lebih fokus pada media daring. Pemilihan aplikasi yang digunakan untuk mendistribusikan konten mereka pun diperhitungkan dari mayoritas anggota komunitas. Mereka menggunakan aplikasi Facebook dan YouTube untuk jalur distribusi konten. Kedua aplikasi tersebut cenderung lebih akrab digunakan anggota komunitas Bali Buja.

Media Komunitas Galuh Prambanan Televisi

Pada bagian sebelumnya peneliti telah memaparkan konsep media komunitas dan istilah media alternatif. Media komunitas dapat didefinisikan sebagai media alternatif (Atton, 2015; Couldry, 2002) yang memiliki organisasi media dan praktik dengan berbagai tujuan, teknologi, konten, genre, cara pengorganisasian, dan sumber pendanaan (Pandit & Chattopadhyay, 2018). Media alternatif dapat memiliki pemahaman yang berbeda dengan konsep media publikasi akar rumput, proyek media sosial kecil, organisasi media masyarakat, atau proyek jurnalistik berbasis partisipasi warga. Konsep media alternatif dikaitkan dengan konsep media untuk masyarakat yang ingin menampilkan ekspresi ke publik khususnya berkaitan dengan kritik atau isu yang tidak dibahas melalui media arus-utama. Tidak semua media komunitas 'harus' dianggap sebagai media alternatif (Holt, 2019; Pandit & Chattopadhyay, 2018). Jelas bahwa media alternatif tidak hanya disebut sebagai media yang melakukan perlawanan terhadap media arus-utama. Media alternatif mampu menembus karakteristik jenis media komunikasi yang digunakan. Sebagai konsekuensi dari perkembangan digital, situasi media komunitas kemudian menjadi lebih kompleks. Praktik partisipatif yang biasa menjadi ciri khas media komunitas kemudian memunculkan cara-cara "alternatif" dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.

Gambar 5.10 Sistem Penyiaran Galuh Prambanan TVSumber: Dokumentasi Peneliti

GPTV merupakan bagian dari hasil pengembangan konsep media komunitas dari Bali Buja, lebih mengutamakan kepada keragaman dan kualitas konten, khususnya genre musik seperti Karawitan yang kurang terlayani. Pelestarian budaya melalui ekspresi seni dan budaya menjadi fokus penting bagi mereka. Bali Buja ingin memastikan warga di dalam lingkungan mereka mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi menjaga seni dan budaya. Setiap komunitas warga yang menginginkan tampil di siaran langsung GPTV, Bali Buja memastikan untuk mempersiapkan alokasi waktu. Bali Buja juga turut melakukan pengamatan terhadap kesiapan dari setiap komunitas yang akan tampil. Mereka memastikan bahwa komunitas telah melakukan latihan sebelumnya, sehingga komunitas akan dalam kondisi siap tampil pada giliran waktu untuk siaran langsung telah tiba.

Peneliti bertemu dengan Winardi, seorang relawan Bali Buja yang bertanggung jawab untuk mengelola bagian teknis dari GPTV. GPTV diceritakan oleh Winardi, bahwa saat awal mulai aksi menyiarkan langsung menggunakan dukungan internet tidak langsung mendapatkan respon dari khalayak. Winardi menyebutkan jika masyarakat membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Strategi lain yang digunakan Bali Buja adalah menyampaikan informasi dan edukasi pemanfaatan telepon seluler kepada anggota komunitas melalui pembawa acara. Strategi tersebut dilakukan pada saat pertunjukan berlangsung. Selain itu, Bali Buja menyebarluaskan pesan tersebut melalui radio komunitas yang dikelola salah satu relawan Bali Buja.

"Dulu fokusnya kan kita distreaming YouTube dan Facebook ya mungkin karena banyaknya peminat atau mungkin orang yang menyaksikan kan enggak..enggak punya HP yang lebih canggih makanya terus dari Bali Buja sendiri mengundang salah satu dari penyiar radio untuk menyiarkan acara dari Bali Buja tersebut supaya bisa didengarkan semua orang yang bisa menyaksikan siaran di radio. Namanya radio komunitas RKB tuh yang punya Pak Baron.." (Winardi)

GPTV memiliki visi sebagai media yang berkomitmen menyiarkan budaya Jawa. Kesenian yang ditayangkan melalui GPTV terutama seni dan budaya yang berasal dari Jawa Tengah. GPTV adalah bagian dari inovasi Bali Buja untuk memajukan gerakan pelestarian budaya Jawa. Sebagai komunitas yang terpinggirkan karena dianggap komunitas kecil, Bali Buja menggunakan media GPTV sebagai upaya untuk mempublikasikan gerakannya. Alasan penggunaan nama "Galuh Prambanan" dalam kanal GPTV baik melalui Facebook dan YouTube adalah peran dari Hotel Galuh Prambanan yang juga turut mendukung kegiatan Bali Buja. GPTV dikelola secara sederhana dengan struktur organisasi yang tidak besar. Pak Djaetun sebagai relawan donatur dalam Bali Buja menyerahkan koordinasi utama GPTV kepada Pak Sentot Murdoko selaku Koordinator Pengisi Acara di setiap pertunjukan seni Bali Buja. Sementara itu, Winardi selain bertanggungjawab dari segi teknis peralatan secara keseluruhan, juga menjadi Koordinator dari setiap siarang langsung GPTV melalui internet.

Winardi dibantu oleh dua orang rekannya pada saat melakukan siaran langsung. Tanggungjawab dua orang tersebut yaitu pada pengawasan kamera dan audio. Sementara Winardi sendiri bertindak mengawasi kontrol multi-kamera melalui aplikasi yang telah diinstalasi dalam perangkat komputer. Winardi menceritakan kendala awal ketika Bali Buja memutuskan untuk siaran melalui GPTV. Kesulitan yang dialami Winardi adalah proses belajar yang dianggap tidak sederhana. Winardi belum memiliki pengalaman untuk mengoperasikan perangkat live streaming berbasis internet.

"kalau dulu awalnya sebelumnya saya nggak paham tentang multimedia jadi dulu itu ada seorang temen ya diajarin sampe bisa gitu itu. Temennya namanya mas Putro jadi kita dilatih dari belum bisa sampai kita harus bisa ya untungnya kita cepat menangkap ya bisa untuk pertama kita belajarnya dari program dasarnya" (Winardi)

Winardi bersama tim yang telah ditunjuk untuk mengelola GPTV kemudian bekerjasama dengan relawan Bali Buja lainnya yang memang telah memiliki pengalaman sebelumnya dalam bidang teknologi media. Relawan Bali Buja yang mendampingi Winardi selama latihan dan belajar sambil melakukan ialah Putro Nugroho, akademisi yang merupakan lulusan sekolah penyiaran. Putro telah beberapa kali turut menyumbangkan tenaga untuk aktivitas multimedia dari Bali Buja. Melalui metode live streaming yang disederhanakan oleh Putro, kemudian ditambah dengan latihan berulang kali kepada Winardi dan tim, menjadikan tim teknis GPTV semakin siap untuk beroperasi.

Keseluruhan siaran langsung yang ditayangkan melalui Facebook turut diunggah melalui kanal YouTube. Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap telusur data jejak khalayak Facebook dan YouTube, ditemukan pengguna konten lebih banyak memanfaatkan media Facebook untuk menonton sekaligus berinteraksi. Temuan ini kemungkinan terkait dengan tingkat kemudahan atau lebih akrabnya pengguna telepon seluler dengan menggunakan aplikasi Facebook. Winardi melaporkan bahwa kebiasaan anggota Bali Buja dan masyarakat yang tinggal di area terdekat dengan Bali Buja yang masih cenderung lebih banyak menggunakan Facebook.

"Ya untuk sejauh kita streaming kalau untuk penonton ya Mas ya kalau saya amati itu dia lebih antusias banyak sekali dia melihatnya di Facebook Mas karena Facebook itu kan mungkin ya secara apa ya secara kita mainin HP "

Berdasarkan laporan tahunan Digital 2022: Global Overview Reports (We Are Social & Hootsuite, 2022) menampilkan data bahwa Facebook masih menjadi platform media sosial yang sering digunakan oleh orang Indonesia. 99,3% pengguna perangkat telepon pintar mengakses Facebook. Pertimbangan Bali Buja dalam memilih media sosial Facebook sebagai bagian platform yang digunakan antara lain fleksibilitas dalam menyampaikan pesan dan komentar. Namun demikian, YouTube juga menjadi perhatian mereka, alasannya adalah kemudahan akses konten video. Khalayak GPTV termasuk loyalis dan penikmat seni budaya yang tinggal di luar Klaten diberikan kemudahan akses melalui YouTube.

Asumsi yang diajukan dalam penelitian ini yaitu penggunaan media sosial yang memungkinkan masyarakat yang berada di sebuah area geografis terlibat untuk kebutuhan misi utama. Peran media komunitas yang membawa misi tertentu memberikan kesempatan kepada anggota masyarakat, termasuk pengelola komunitas untuk menjadi aktivis.

Nah.. aku kan punya rasa.. Rasa sangat suka.. Sangat sangat anu.. Maksude rasa seneng gitu lho.. Meskipun saya orang ndak punya.. Tapi.. saya rasa seneng diangkat ke seniman.. Seniman tradisi itu diangkat dari sana.. Yang Instansi saja nggak seperti itu.. Event di Klaten itu.. (Saimin)

Salah satu relawan Bali Buja, Saimin adalah pendengar setia Radio Komunitas Bayat dan pengamat GPTV. Saimin mengungkapkan kebanggaannya terhadap kehadiran dan keberadaan Bali Buja melalui media komunitas yang dipilih untuk berbagi konten kesenian. Saimin secara rutin mengikuti setiap konten yang dihadirkan melalui kanal akun YouTube ataupun secara konvensional melalui radio komunitas. Saimin merasa senang ketika mengetahui ada rekan atau kerabatnya bisa tampil dalam pertunjukan yang ditayangkan melalui GPTV.

Itu belum ditambah malem Rabu Kliwonan.. Untuk Cokekan.. Aku selalu ngikutin soale.. Sampai hapal.. Dan itu kan kebetulan temenku juga semua kan.. Seniman seluruh Klaten.. Hampir hafal aku.. Nggak ada yang tidak hapal.. Sana hapal sama saya.. Saya juga hapal sama mereka.. (Saimin)

Media sosial dikenal sebagai platform media baru yang memiliki tingkat partisipasi audiens yang tinggi. Menurut Mayfield (2008) media sosial dapat diamati melalui partisipasi, keterbukaan, komunikasi, komunitas serta koneksi. Partisipasi masyarakat yang berperan aktif melalui Facebook dapat ditentukan melalui jumlah pengikut dari Facebook Page. Tingkat partisipasi juga dapat ditinjau melalui tanggapan dan pendapat masyarakat. Komunikasi yang muncul melalui kolom komentar ataupun fitur pesan dalam Facebook merupakan hasil interaksi dua arah yang menjadi bukti partisipasi. Hadirnya pengikut yang bukan anggota Bali buja juga dapat dipantau melalui media sosial. Bali Buja dalam GPTV juga mengaktifkan fasilitas pengiriman pesan di dalam aplikasi WhatsApp. Melalui aplikasi WhatsApp, mereka memberikan kesempatan kepada khalayak untuk menyampaikan pesan bisa berupa motivasi, dukungan, serta menyampaikan kritik terhadap hasil tayangan di GPTV.

"Dari saya streaming sini itu ketika di Facebook tuh banyak komentar yang mendukung Mas banyak, komentar yang bagus dan sangat senang sekali dengan adanya siaran budaya Jawa. Jadi banyak yang nyengkuyung atau bahasa Indonesianya ya mendukung. Dan sangat terbantu sekali yang apalagi yang ada di luar Jawa itu, kayak di Jakarta bahkan ada yang di luar negeri juga berkomentar di Facebook ya tanggapannya positif dan sangat sangat senang sekali karena masih jarang sekali ketika pas di sosial media itu yang namanya kebudayaan itu masih ada yang nguri-uri" (Winardi)

Platform media sosial mempromosikan kebudayaan lokal dengan menautkan video hasil siaran streaming. Pemanfaatan beragam platform berbasis teknologi media yang digunakan oleh pengelola komunitas adalah bentuk dari apa yang disebut dengan hiperlokalitas. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan Pandit & Chattopadhyay (2018) mengungkapkan bahwa gagasan hiperlokal adalah upaya media komunitas untuk dapat meraih atau merangkul warga komunitas yang dibatasi dengan jarak ataupun lokasi. Pada bagian lain dari bab ini peneliti juga akan memaparkan gagasan media hiperlokal sebagai bagian dari inovasi untuk media komunitas di era digital.

Radio Komunitas Bayat

Sekilas mengenai sejarah radio komunitas di Indonesia, memang kemudian terdapat pembatasan-pembatasan yang diatur oleh pemerintah. Hal ini semata untuk menjaga keteraturan dalam berbagi informasi dan meminimalisir benturan yang terjadi antar warga masyarakat yang ingin berekspresi. Keberadaan peraturan jangkauan siaran 2,5 kilometer frekuensi misalnya yang cukup sering digaungkan oleh pejuang radio komunitas, tentu satu sisi memang memberatkan pengelola media komunitas. Namun, sisi lain dari peraturan ini dapat dipelajari bahwa memang untuk beberapa wilayah geografis cenderung padat penduduk dan padat media komunikasi seperti radio dan televisi perlu ditertibkan. Bagi sebagian pengelola media komunitas yang relatif 'sepi' penduduk, bahkan media penyiaran juga tidak banyak, apalagi ditunjang dengan jarak antar penduduk relatif jauh, peraturan pembatasan jarak jangkauan siaran memang terkesan tidak adil.

Radio Komunitas Bayat (RKB), seperti kebanyakan stasiun radio komunitas merupakan lembaga media (J. Downing, 2012) yang melakukan praktik media komunitas, alternatif, oposisi, partisipatif dan kolaboratif yang juga sebagian diperkuat oleh internet (Deuze, 2006). Pertemuan pertama peneliti dengan pengelola RKB diawali dengan Subari atau yang lebih sering dipanggil di dalam lingkungan komunitas dengan nama Mas Barun. Mas Barun adalah pemuda asli Klaten yang menjadi inisiator dari RKB. Selama perjalanan penelitian ini, peneliti memiliki kesempatan untuk melakukan kunjungan dan wawancara dengan Mas Barun dan tim di RKB.

Jarak antara studio RKB dan lokasi Bali Buja yaitu sekitar 19 kilometer. Studio RKB memiliki lokasi di daerah Kecamatan Bayat, Klaten. Bayat adalah salah satu kecamatan di bawah pemerintahan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bayat juga dikenal menjadi daerah industri pariwisata seperti gerabah dan batik tulis (Rachmawati & Taryono, 2022). Mata pencaharian penduduk Bayat selain bertani yaitu sebagai pengrajin gerabah dan batik. Bayat diketahui berasal dari kata tem-bayat-an yang berarti hidup rukun saling membantu dan bersinergi (Fitinline, 2013). Literatur lainnya menyebutkan bayat berasal dari petembayatan, istilah yang terkait dengan syahadat tembayat (Kusuma, 2017).

Selama menyusuri jalan menuju studio RKB, peneliti melihat posisi lokasi RKB berada di antara beberapa desa yang masih memiliki cukup banyak lokasi lahan hijau. RKB memiliki lokasi studio yang menjadi satu dengan rumah Mas Barun. Sebagian ruangan dari rumah Mas Barun digunakan untuk sarana aktivitas RKB. Lokasinya dapat disebut sederhana. Ruangan yang digunakan RKB terdiri dari 4 bagian atau ruang, meliputi teras, satu ruang yang diisi dengan kursi panjang, satu studio dan satu ruangan teknis. Pada saat peneliti melakukan observasi pada bulan Maret 2021, RKB masuk pada masa vakum atau masa kosong karena terdampak pandemi Covid-19. Peneliti tidak melihat aktivitas di RKB. Mas Barun menjelaskan bahwa selama pandemi, RKB otomatis juga menghentikan aktivitasnya untuk kegiatan radio komunitas, kegiatan membantu Bali Buja dalam menyiarkan siaran seni karawitan pun juga berhenti. Meski demikian, aktivitas Mas Barun juga tidak berhenti. Kecintaannya dengan seni dan budaya, termasuk minat yang besar untuk bisa tetap eksis melakukan siaran kemudian dilanjutkan dengan menerima tawaran untuk mengisi konten di Radio Wijaya Kusuma Klaten (RWK), radio swasta komersial yang mengudara di Klaten. Tawaran RWK merupakan bentuk kerjasama konten dengan RKB, setiap jam 8 malam, Mas Barun mengisi konten RWK dengan menggunakan sistem relay dari lokasi RKB. Hasil siaran Mas Barun di RKB kemudian dikirim melalui pemancar ke studio RWK.

Gambar 5.11 Studio RKB
Gambar 5.11 Studio RKBSumber: Dokumenter Bali Buja

RKB didirikan sebagai radio komunitas yang pada awalnya membantu menjadi sarana hiburan bagi warga Klaten pasca bencana gempa pada tahun 2006. Berangkat dari tujuan mulia Mas Barun dan teman-teman untuk memberikan hiburan sekaligus informasi kepada warga Klaten khususnya daerah Bayat, Mas Barun tidak memulai radio dari mengurus perizinan. RKB memiliki kelompok pendengar aktif yang turut berpartisipasi dalam siaran radio. Untuk memastikan RKB tetap berjalan legal dan tidak menjadi radio gelap, Mas Barun juga mengajukan proses perizinan. Namun, karena alasan perizinan yang tidak mudah dilakukan oleh Mas Barun, RKB kemudian tetap mengudara dengan caranya sendiri. RKB melibatkan khalayak dalam praktik produksi media komunitas. Stasiun ini memiliki pendengar yang loyal karena hiburan yang ditawarkan oleh RKB fokus kepada konten seni dan budaya.

Gambar 5.12 Ruang Studio Siaran RKB
Gambar 5.12 Ruang Studio Siaran RKBSumber: Dokumentasi Peneliti

<figure> <img src="media/image27.jpeg" style="width:3.59259in;height:2.69444in" alt="A picture containing text, wall, indoor, cluttered Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015611" class="anchor"></span>Gambar 5.12 Ruang Studio Siaran RKB<br /> Sumber: Dokumentasi Peneliti</p></figcaption> </figure>

Perkenalan pertama peneliti dengan pengelola RKB adalah ketika melaksanakan perjalanan penelitian di lokasi Bali Buja melaksanakan aktivitas, yaitu di Grha Purbo Waseso Kencono. Peneliti melihat langsung bagaimana sosok Mas Barun, pengelola RKB yang pada saat pelaksanaan live streaming Bali Buja juga memiliki tanggung jawab untuk merekam audio kegiatan Bali Buja dan memastikan siaran dapat dipancarkan langsung melalui frekuensi. Mas Barun tinggal di Desa Bayat Klaten. Jarak antara Desa Bayat dan Desa Tlogo memiliki jarak 25 km. Masih dalam satu kabupaten yang sama yaitu Kabupaten Klaten namun berbeda Kecamatan. Desa Tlogo berada di Kecamatan Prambanan, sedangkan Desa Bayat termasuk dalam lingkungan Kecamatan Bayat. RKB sebagai radio komunitas mengudara dan menyiarkan siarannya melalui perangkat sederhana dan dipancarkan dari rumah pribadi Mas Barun. Sebagai sebuah radio siaran, posisi RKB merupakan siaran komunitas dan independen dikelola oleh masyarakat lokal. RKB memiliki latar belakang pendirian yang unik, dimulai dari rasa empati Mas Barun pada saat terjadinya bencana Gempa Bumi tahun 2006. Pada saat masyarakat yang sedang mengalami rasa ketakutan dan kecemasan. Mas Barun tergerak untuk memanfaatkan sarana teknis yang dimilikinya sebagai sarana media komunikasi. Awalnya, perangkat sederhana yang digunakan fokus pada media penyampaian pesan. Namun, Mas Barun melihat ini menjadi peluang untuk dijadikan sebagai media komunitas yang menyiarkan hiburan. Mas Barun memiliki tujuan utama untuk memberikan rasa senang kepada masyarakat.

Gambar 5.13 Konversi Format Lagu oleh RKBSumber: Dokumentasi Peneliti

Berdasarkan data yang dihimpun peneliti terdapat beberapa radio siaran yang mengudara melalui jalur frekuensi FM. Namun demikian, posisi RKB belum masuk ke dalam daftar radio yang diakui Pemerintah (KPID).

---------------------------------------------------------------------------------- *No Frekuensi Nama Pengelola Radio Nama Lokasi Radio* -------- --------------- ------------------------- ----------- ------------------- 1 89,9 FM PT Radio Swara Sumbing RWK FM Jl Wijaya Kusuma, Wijaya Kusuma Klaten Tengah

2 91,6 FM LPPL Klaten/Radio Siaran LPPL Klaten Jl Pemuda, Klaten Publik Daerah Kabupaten Tengah Klaten

3 96,6 FM PT Radio Bumi Candi Sewu Candisewu Jl Bhayangkara, FM Klaten Selatan

4 103,3 FM PT Radio Suara Al-Mabrur Salma Radio Jl Klaten-Solo, Bersinar Klaten Utara

5 107,7 FM Botani FM (Perkumpulan Botani Jl Yogya Solo, Komunitas Bolo Tani) Delanggu, Klaten ----------------------------------------------------------------------------------

Salah satu alasan yang diungkap Mas Barun terkait permasalahan izin ini adalah pengalaman yang dianggap Mas Barun kompleks.

"Pernah sempat ngurus.. gelombangnya radio komunitas kan 107... 108 he em... 107,7... 107,8.. 107,9.. Iya "dll" nya kudu.. kui regane jaman semono 10 juta dhewe PLL.. kuwi wis diarahkan.. tukune neng kono.. wis kerjasama karo BalMon-e.. Gek ngriki ke Semarang kui adohe.. bola bali karepe niku ngeten.. kon mbayar wong njero kono. Digawekke dadi.. pirang puluh juta karep" (Barun)

Permasalahan biaya menjadi hal utama yang memberatkan pengelola RKB dalam mengurus perizinan. Mas Barun mengungkapkan bahwa untuk mengurus perizinan ada beberapa tahapan yang harus dilalui, diantaranya biaya standar peralatan yang tidak murah. Alih-alih menjadi jalur 'bersuara' bagi masyarakat lokal atau komunitas, tetapi keinginan membuat RKB menjadi 'formal' dan 'legal' menjadi berat karena terbebani biaya. Namun, hal tersebut bukan menjadi hambatan dan kendala besar yang membuat Mas Barun untuk mengembangkan RKB.

"Tahun berapa niku.. rung ewu piro mubeng-mubeng.. 2007-an...nggih.. dadi kulo niku diarahke nek ngurus dhewe gur diubeng-ubengke wae.. (menit 22:07) kon bali sik.. sesuk kon moron meneh. Wegah aku.. ngantek.. Kulo mrono ki peng swidak rolas.. wegah wektune.. angele.. terus kulo niku marai meng niku ngeten.. sing dilindungi hukum mung 2 kilo setengah.. radio komunitas itu.. itu dilindungi hukum.. ning mancare kliwat kui yo rapopo ning nek ketumpuk yang lain.. munjul 2,5 ojo laporke.. kui wis ra dilindungi hukum.. 2,5 kuwi ono sing numpuk, lah kui laporno.. (nggak fair.. nggak adil)... lah nggih.. (beda wilayah beda daerah, yo sing ra ketutupan gunung).. lah mriki niki nggon gunung gunung je.. La nggih.. lah mung 2,5 ki dilindungi hukum ki.. ra kurup sing ubek usek.. la gek 2,5 ki dugi pundi.. cara wong siaran ki senenge nek monitore akeh ki.. adoh adoh" (Barun)

Regulasi yang ditetapkan Pemerintah seperti daya pancar yang dibatasi sekitar 2,5 kilometer dari lokasi siaran, menjadi pertimbangan Mas Barun dalam mengembangkan RKB akan menggunakan frekuensi ataupun jalur lain. Namun, sekitar tahun 2007, sebagai tahun-tahun awal RKB mengudara, pengelola belum memiliki kesempatan yang luas dalam menggunakan teknologi media berbasis internet. Hal ini menjadi berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sepuluh tahun kemudian, yaitu 2017. Merujuk dari peraturan dan rancangan legal yang ditetapkan Pemerintah, Mas Barun menganggap terdapat ketidakadilan apa yang diterima sebagai radio komunitas.

Gambar 5.14 Praktik Siaran RKBSumber: Dokumentasi Peneliti

5.4Pengembangan Media Hiperlokal Sebagai Inovasi Media

Dalam bagian awal bab ini, peneliti telah menyebutkan bahwa penelitian ini juga menjadi perwujudan kerja kolaborasi antara peneliti dengan komunitas. Memahami teknologi media secara mendalam dapat mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ini, penelitian juga menjalankan logika langkah penelitian tindakan etnografi. Tacchi (2003) mengusulkan penelitian tindakan etnografi sebagai metode inovatif untuk mengkaji dampak teknologi informasi dan komunikasi. Setelah melaksanakan perjalanan penelitian yang disertai dengan analisa penyebab dan hambatan penggunaan teknologi oleh masyarakat, peneliti kemudian merancang beberapa proyek yang menjadi rekomendasi bagi komunitas budaya. Pada bagian ini, peneliti akan mengurai hasil dari kombinasi penelitian etnografi dan tindakan. Etnografi digunakan untuk mendapatkan pemahaman berkaitan budaya, selanjutnya tahapan penelitian tindakan merupakan metode untuk memperoleh cara baru dalam melakukan sesuatu dengan melihat keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Kedua langkah tersebut digunakan bersama-sama untuk menghubungkan temuan etnografi dengan rencana proyek.

Hiperlokalitas adalah model perubahan interaksi manusia yang dibangun berbasis teknologi internet. Hiperlokalitas atau hiperlokal berorientasi kepada kepentingan komunitas. Hiperlokal dapat dikaitkan dengan bisnis atau organisasi di sekitar area komunitas (Rai & Suhas, 2021). Platform hiperlokal dimanfaatkan untuk mengatasi tantangan untuk menyamakan permintaan langsung kebutuhan komunitas pada area terdekat. Dengan demikian, hiperlokal memiliki dua aspek yaitu geografi dan waktu. Kedua aspek tersebut membantu identifikasi jenis konten hiperlokal. Layanan geolokasi telah berkembang sebagai salah satu sektor utama di negara kita dan telah mengubah gaya hidup, kesehatan, dan hubungan kita. Sistem offline lama telah direkayasa ulang dengan bantuan teknologi untuk menciptakan pengalaman yang segar dan tak terlupakan.

Media hiperlokal (Metzgar et al., 2011b; Murinska, 2019; Tenor, 2018b) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan inisiatif media lokal semi-profesional, yang dapat ditemukan di berbagai platform internet dan situs jejaring sosial (Dovbysh, 2021). Media lokal tradisional telah ditantang oleh munculnya situs web, blog, dan sejumlah kelompok media sosial. Dalam konteks penelitian ini, Bali Buja sebagai komunitas budaya telah menghasilkan embrio inovasi teknologi media berupa optimalisasi platform internet. Temuan dari penelitian ini menunjukkan mereka mengupayakan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi bagian identitas budaya untuk terus bertahan dengan cara pemanfaatan teknologi media.

Peneliti merancang proyek pengembangan situs web yang menjadi pusat media komunikasi bagi media komunitas Bali Buja. Pengelolaan situs web didasari dari rancangan media komunitas yang berkarakteristik independen. Jika sebelumnya Bali Buja telah beradaptasi dengan siaran langsung yang kemudian diteruskan melalui aplikasi Facebook dan YouTube, langkah berikutnya adalah mengintegrasikan keduanya ke dalam situs web.

Proyek yang dirancang berdasarkan tahapan yang diusulkan dalam penelitian tindakan etnografi yaitu perencanaan kemudian diikuti dengan tindakan proyek. Refleksi yang dihasilkan peneliti berdasarkan temuan adalah upaya pemecahan kendala yang dihadapi komunitas. Esensi dari aktivitas mereka adalah pelestarian budaya melalui ragam media. Tahapan pertama yang dilakukan adalah menentukan kebutuhan konten situs web. Perancangan terwujud berdasarkan hasil wawancara, observasi dan analisa dokumentasi.

Gambar 5.15 Diskusi Rutin Pengembangan Kegiatan Bali Buja
Gambar 5.15 Diskusi Rutin Pengembangan Kegiatan Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

Beberapa dokumen dalam bentuk gambar dan arsip dikumpulkan untuk mendukung proyek situs web (Jati et al., 2021). Platform situs web berbasis WordPress digunakan sebagai dasar dalam pembuatan situs web ini. Alasan WordPress digunakan sebagai fondasi awal situs web dilandasi atas kenyamanan pengguna dan kemudahan dalam mengelola fitur administrasi situs web. Dengan menggunakan basis WordPress, pengelola situs web tidak perlu mengetahui bahasa pemrograman yang kompleks ketika mulai mengoperasikannya.

Proses berikutnya adalah perancangan desain situs web. Situs web ini menggunakan sistem manajemen konten yang didasarkan pada WordPress untuk desainnya (CMS). Desain situs web dimulai dengan memetakan kebutuhan konten yang akan ditampilkan. Situs web akan memprioritaskan konten video sehingga bagian antarmuka awal situs web akan menyajikan beberapa thumbnail atau gambar yang mengarah ke tautan konten karya seni budaya yang ditampilkan oleh Bali Buja.

Gambar 5.16 Desain Awal Tampilan Depan Situs Web Galuh Prambanan TV
Gambar 5.16 Desain Awal Tampilan Depan Situs Web Galuh Prambanan TVSumber: Diolah oleh peneliti

Bagian Menu ditempatkan di bagian atas halaman (di atas gambar utama atau slide utama) dan menyediakan koneksi utama ke halaman situs web yang telah ditentukan. Dalam rancangan desain konsep yang pertama, gambar utama akan menggunakan gambar dinamis yang terdiri atas beberapa gambar atau foto yang merepresentasikan konten situs web.

Gambar 5.17 Tampilan Depan Situs Web Galuh Prambanan TV
Gambar 5.17 Tampilan Depan Situs Web Galuh Prambanan TVSumber: Situs web www.galuhprambanan.tv

<figure> <img src="media/image32.png" style="width:3.42668in;height:2.52241in" alt="A person speaking into a microphone Description automatically generated with low confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015616" class="anchor"></span>Gambar 5.17 Tampilan Depan Situs Web Galuh Prambanan TV</p></figcaption> </figure>

Desain situs web menggunakan domain nama yang disesuaikan dengan kanal utama media komunitas Bali Buja yaitu Galuh Prambanan Televisi. Alasan lain penamaan ini adalah sebagai implementasi kemitraan yang terhubung antara Bali Buja dengan Hotel Galuh Prambanan. Argumen utama yang mendukung kemitraaan yaitu kesamaan misi dan tujuan komunitas yaitu pelestarian budaya.

Optimalisasi proyek pengembangan media komunitas bagi Bali Buja tidak hanya berhenti pada produksi situs web. Fitur audio yang dihasilkan oleh teknologi podcast juga dipertimbangkan sebagai sarana pendukung eksistensi Bali Buja. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah kendala kurangnya informasi pengelola RKB terkait hak cipta. Pada awalnya, Mas Barun pernah rutin mempublikasikan hasil konversi perangkat audio lama (kaset) ke dalam bentuk audio digital untuk kebutuhan distribusi konten di komputer. Dengan dilandasi keinginan untuk mempertahankan seni tradisional yang menjadi ciri khas Jawa, Mas Barun berusaha untuk mendapatkan koleksi lama hasil rekaman karya seni seperti hasil siaran wayang kulit, langgam (lagu Jawa) yang dianggap legendaris. Temuan ini menjadi menarik karena upaya alih wahana koleksi lama dilakukan oleh seseorang yang masuk ke dalam bagian komunitas yang terpinggirkan.

"Pomo ono enten. Iki wis ono. Tapi kok rekamane kemresek banget. Saya pengen ngupload yang rekamannya bagus. Misale langgam Waljinah, jane wis eneng, tapi kemrosak koyo ngene, elik, dirungokke angel. Kulo pengenne gawe sing luwih apik. (kalaupun ada -koleksi lama-, sudah ada, tapi hasil rekaman tidak jernih. Saya ingin mengunggah hasil rekaman yang bagus, misalnya langgam Waljinah, sebenarny masih ada, tapi kondisi tidak jernih seperti ini, jelek, didengarkan pun tidak nyaman, saya inginnya membuat lebih baik)."(Mas Barun)

Produk konversi audio yang berhasil di-sunting menjadi audio layak dikonsumsi oleh Mas Barun kemudian diunggah melalui akun YouTube yang dikelola RKB. Namun karena kurangnya edukasi terkait hak cipta, sehingga produk hasil suntingan Mas Barun kemudian dianggap sebagai pelanggaran hak cipta oleh YouTube, sehingga akun Mas Barun terpaksa ditutup. Pada awalnya akun tersebut direncanakan sebagai perpustakaan audio koleksi langgam dan lagu lama khusus Jawa Tengah.

Motivasi untuk menyimpan hasil karya seni yang dihasilkan oleh komunitas-komunitas seni di bawah naungan Bali Buja kemudian menciptakan rancangan proyek podcast. Jalur ini dianggap paling sederhana dan mudah dilakukan oleh pengelola media komunitas Bali Buja. Akun khusus podcast menjadi media alternatif bagi khalayak masyarakat yang ingin mendengarkan karya seni dari Bali Buja.

Gambar 5.18 Tampilan Depan Kanal Podcast Galuh Prambanan
Gambar 5.18 Tampilan Depan Kanal Podcast Galuh PrambananSumber: spotify.com

Seperti yang diungkap pada hasil studi Way dkk. (2020) bahwa preferensi konsumen untuk konten lokal tumbuh karena keberadaan teknologi streaming audio yang dihasilkan oleh platform audio seperti Spotify. Khalayak semakin mudah untuk mendengarkan musik berkat layanan streaming audio. Digitalisasi tidak diragukan lagi melahirkan perubahan paling signifikan dalam industri musik. Demikian pula Bello & Garcia (2021) menemukan bahwa tren kenaikan dalam keragaman konsumsi musik yang dimulai pada 2017 dan mencakup banyak platform. Preferensi konsumen pendengar dipengaruhi oleh bahasa yang sama dan kedekatan geografis.

Pola konversi yang dilakukan Bali Buja pada kanal podcast Galuh Prambanan yang dipublikasikan melalui aplikasi Spotify melalui beberapa tahap. Khusus untuk konten yang didistribusikan di dalam Spotify adalah hasil konversi audio dari kanal akun Galuh Prambanan Televisi di YouTube. Hasil audio yang telah diunduh dari YouTube agar memiliki kualitas audio layak dengar kemudian memasuki proses editing.

5.5Diskusi

Dalam bab ini, peneliti menggunakan alat analisis data atlas.ti untuk memetakan bagian-bagian konsep yang dapat dielaborasikan dengan temuan data.

Gambar 5.19 Pemetaan Analisis Data Teknologi Media (atlas.ti)
Gambar 5.19 Pemetaan Analisis Data Teknologi Media (atlas.ti)Sumber: Diolah oleh peneliti

<figure> <img src="media/image34.png" style="width:6.15373in;height:3.34313in" alt="Diagram Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015618" class="anchor"></span>Gambar 5.19 Pemetaan Analisis Data Teknologi Media (atlas.ti)</p></figcaption> </figure>

Beberapa hal yang bisa dikaji dalam bagian ini adalah peran teknologi dalam komunitas budaya dan media komunitas. Pada dasarnya teknologi merupakan ibarat kulit atau luaran dari proses perkembangan manusia. Esensi yang bisa dirasakan teknologi ketika manusia mampu mengembangkan inovasi terhadap teknologi. Pemberdayaan teknologi menjadi bermakna bahkan dapat dinilai mampu dan 'bijaksana' ketika manusia mampu membawa keberadaan teknologi kepada apa yang dianggap paling penting.

Media berbasis komunitas lokalitas yang adaptif atau dalam konteks penelitian ini disebut sebagai media hiperlokal, kemudian mudah diakses oleh semua anggota masyarakat menjadi tantangan bagi pengembangan media komunitas di lingkungan Bali Buja. Kontribusi mereka dalam membangun media hiperlokal adalah wujud media komunitas modern yang berhadapan dengan media arus-utama. Media tradisional yang disandingkan dengan teknologi media berbasis TIK diakui memiliki dampak lebih besar dalam menarik partisipasi khalayak generasi internet (Bakker & de Vreese, 2011). Disrupsi teknologi kemudian menciptakan jalan baru "media baru" melalui pengolahan media. Media baru adalah bagian integral dari masyarakat modern (Rajendran & Thesinghraja, 2014). Dalam komunitas, manusia adalah media yang paling kuat, menggambarkan relevansi yang lebih besar dari media pribadi daripada media eksternal dalam konteks komunitas. Proses komunikasi dan pengambilan keputusan dalam komunitas sangat bergantung pada pekerjaan para pemimpin komunitas.

Beragam penelitian telah menilai peran komunikasi partisipatif pada media komunitas (Fombad & Jiyane, 2019; Fraser & Restrepo-Estrada, 2002; Rampersaud, 2020; Servaes, 2020). Sebagaimana ditekankan dalam konsep media komunitas, bahwa terciptanya konsensus adalah ciri khas dari media komunitas. Media hiperlokal yang berkembang di Amerika (Chadha, 2016), Inggris (Harte, 2013), Belanda (van Kerkhoven & Bakker, 2014), Jerman (Harnischmacher, 2015), Swedia (Leckner et al., 2019), dan Rusia (Dovbysh, 2021), mengungkapkan bahwa media tersebut dilatarbelakangi oleh inisiatif orang-orang yang bekerja di media. Sedangkan, Bali Buja mengembangkan media komunitas dilandasi oleh dominasi inisiatif anggotanya.

Dalam mengurai kerjasama ataupun kolaborasi yang digunakan oleh sekelompok masyarakat dalam mengelola media hiperlokal. Peneliti mengadopsi pemahaman konsep mendasar dari komunikasi kooperatif. Komunikasi kooperatif berangkat dari konsep yang diajukan oleh Robert Bacal (1998). Istilah komunikasi kooperatif digunakan untuk menggambarkan teknik komunikasi yang mendorong orang untuk bekerja secara kolaboratif. Disebut sebagai kooperatif karena terdapat aktivitas tindakan pengiriman pesan ke tujuan melalui beberapa jalur. Dalam pandangan yang sama, Lull (2020) mengungkapkan bahwa manusia perlu bekerjasama dan mengutamakan kolaborasi yang saling menguntungkan agar mampu bertahan untuk menempuh suatu tujuan.

Dari perspektif jaringan, komunikasi kooperatif dapat berperan menghasilkan keragaman teknik untuk mentransmisikan salinan informasi. Ketika saluran nirkabel sensitif terhadap fading, komunikasi kooperatif mampu secara efektif menghindari masalah yang memudar atas saluran tersebut dengan menggunakan teknik keragaman spasial. Dengan kata lain, dalam mesin nirkabel komunikasi kooperatif, pengguna tidak hanya sekadar mengirimkan data atau menerima data tetapi mereka juga akan bertindak sebagai agen kooperatif untuk pengguna lain (Katiyar et al., 2011). Sehingga, komunikasi kooperatif membawa perubahan besar dalam menyampaikan pesan. Dalam arsitektur jaringan kooperatif, jalur independen di dalamnya disebut sebagai sumber (source) dan tujuan (destination) melalui saluran relai (relay) (Nabar et al., 2004).

Gambar 5.20 Foto Bersama Relawan Warga dalam Bali BujaSumber: Dokumentasi Peneliti

<figure> <img src="media/image35.gif" style="width:3.47222in;height:1.94444in" alt="A group of women posing for a photo Description automatically generated with medium confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106542115" class="anchor"></span>Gambar 5.20 Foto Bersama Relawan Warga dalam Bali Buja</p></figcaption> </figure>

Temuan dari penelitian ini mengungkap bahwa aktor media komunitas menggunakan model media hiperlokal untuk kegiatan penyiaran seni dan budaya. Partisipasi masyarakat dalam komunitas merupakan bentuk gerakan masyarakat yang menggunakan nilai-nilai kearifan lokal untuk menuju tujuan utama yaitu pelestarian budaya. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, nilai-nilai lokal memiliki peran yang penting dalam menentukan pergerakan dan perjalanan komunitas. Masyarakat di dalam Bali Buja menyadari bahwa menunggu akses dan kesempatan dalam media arus utama bukan menjadi jawaban satu-satunya. Begitu pula, kekuatan pemerintah daerah pun disadari tidak cukup menyelesaikan kebutuhan masyarakat secara luas. Nilai-nilai lokal kemudian menjadi landasan motivasi bagi masyarakat untuk secara swadaya memenuhi tujuan kolektif. Aktor sosial di dalam komunitas budaya berperan sebagai pemimpin informal untuk mendampingi dan mengarahkan kepada tujuan.

Ditinjau dari konsep komunikasi kooperatif, kanal Galuh Prambanan TV dan kolaborasi dengan RKB adalah embrio dari implementasi media hiperlokal. Secara simultan kedua media tersebut sama-sama berupaya mendorong pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestarian budaya lokal. Setiap pengelola media komunitas menjadi aktor dalam kolaborasi (komunikasi kooperatif) masyarakat untuk mendorong pelestarian budaya lokal Jawa.

Gambar 5.21 Konsep Komunikasi Kooperatif
Gambar 5.21 Konsep Komunikasi KooperatifSumber: Diolah oleh peneliti

<figure> <img src="media/image36.png" style="width:3.80938in;height:1.83333in" alt="Diagram Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015619" class="anchor"></span>Gambar 5.21 Konsep Komunikasi Kooperatif</p></figcaption> </figure>

Apa yang dilakukan oleh Bali Buja merupakan upaya pemberdayaan teknologi yang bertujuan pelestarian budaya. Ketika teknologi media kemudian dikembangkan menjadi inovasi media komunitas. Inovasi teknologi media pada media komunitas berangkat dari ketidakmampuan media arus-utama dalam memberikan ruang bagi kelompok penggerak seni dan budaya yang terpinggirkan. Untuk alasan tersebut, Bali Buja kemudian memilih untuk berinovasi dalam media komunitas yang berbasis teknologi internet. Dalam kasus radio komunitas RKB yang juga menjalin kerjasama dengan Bali Buja pun mereka memanfaatkan teknologi streaming termasuk teknologi rekaman digital sebagai sarana produksi dokumentasi. Tidak hanya untuk keperluan dokumentasi, tetapi mereka melakukan hal tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Media hiperlokal adalah bagian dari inovasi yang berkembang setelah muncul beragam istilah media komunitas seperti media alternatif, media radikal, media warga. Seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya pada bab ini, esensi utama dari beragam istilah tersebut adalah media komunitas. Sejalan dengan argumen Fuchs (2010) media pada dasarnya bukan hanya sistem sosial; mereka seeperti media komunitas adalah sistem sosial yang mampu menjangkau khalayak yang besar dan dengan demikian dapat berkontribusi pada proses komunikasi di bidang publik. Karena itu, konsep ruang publik menjadi penting dalam mengkaji media komunitas. Menurut Habermas (1974, 2020) ruang publik yang ideal adalah ketika sarana dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat serta memungkinkan mereka dalam mengendalikan pesan yang akan disampaikan.

Gambar 5.22 Tampilan Tangkapan Layar Facebook dari Akun Galuh Prambanan Televisi
Gambar 5.22 Tampilan Tangkapan Layar Facebook dari Akun Galuh Prambanan TelevisiSumber: Facebook Galuh Prambanan Televisi

<figure> <img src="media/image37.png" style="width:5.3617in;height:3.04108in" alt="A person speaking into a microphone Description automatically generated with medium confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106542117" class="anchor"></span>Gambar 5.22 Tampilan tangkapan layar Facebook dari akun Galuh Prambanan Televisi</p></figcaption> </figure>

Menjelajahi laman akun Facebook Galuh Prambanan Televisi, terlihat bahwa batasan geografis yang menjadi kendala bagi penyiaran konvensional radio komunitas dapat diatasi melalui model media hiperlokal. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5.23, konten lokal seperti wayang kulit di dalam GPTV mendapatkan perhatian dari khalayak di luar wilayah Klaten. Sebagai media komunitas, kemudian GPTV mendefinisikan diri sebagai media hiperlokal yang merepresentasikan konten budaya Jawa.

Gambar 5.23 Laporan Penonton Live Streaming dari Facebook
Gambar 5.23 Laporan Penonton Live Streaming dari FacebookSumber: Facebook Galuh Prambanan Televisi

<figure> <img src="media/image38.png" style="width:5.71181in;height:3.52665in" alt="Graphical user interface, text, application Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106542118" class="anchor"></span>Gambar 5.23 Laporan Penonton <em>live streaming</em> dari Facebook</p></figcaption> </figure>

Spesifikasi media hiperlokal adalah konten unik yang dapat diwakili oleh perwakilan masyarakat dalam ruang yang sama, kemudian hadir dalam media tersebut untuk berbagi kontribusi yang sama. Kategori konten yang dominan mewakili Bali Buja adalah budaya. Konten-konten seperti wayang kulit, cokekan, dan seni karawitan didedikasikan untuk mempromosikan penguatan terhadap nilai-nilai spiritual dan identitas masyarakat Jawa.

Gambar 5.24 Tangkapan Layar Fitur Chat YouTube Galuh Prambanan TV
Gambar 5.24 Tangkapan Layar Fitur Chat YouTube Galuh Prambanan TVSumber: Kanal YouTube Galuh Prambanan TV

<figure> <img src="media/image39.png" style="width:5.16488in;height:2.5463in" alt="Graphical user interface, application Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106542119" class="anchor"></span>Gambar 5.24 Tangkapan Layar Fitur <em>Chat</em> YouTube Galuh Prambanan TV</p></figcaption> </figure>

Seperti disebutkan dalam bab sebelumnya, tujuan media hiperlokal adalah untuk memberikan ruang bagi komunitas lokal dan melayani kepentingan kelompok orang tertentu dengan wilayah geografis yang diperluas secara digital. Interaksi yang terdapat di dalam platform seperti kolom komentar dalam Facebook ataupun YouTube akan menguntungkan proses komunikasi antara anggota Bali Buja dan masyarakat Jawa di luar wilayah Klaten. Salah satu karakteristik paling signifikan dari media hiperlokal adalah ikatan antar anggota masyarakat serta keterlibatan sosial.

Media hiperlokal menekankan bahwa salah satu fitur media ini yaitu partisipasi pemirsa dalam memproduksi konten. Temuan peneliti menunjukkan keterlibatan khalayak memiliki perbedaan antar platform. Keterlibatan khalayak melalui Facebook cenderung mendominasi dibandingkan platform YouTube. Hal ini merujuk kepada data umpan balik di dalam kolom pendapat atau komentar.[ ]