Panggung pertunjukan BALI BUJA dengan latar lukisan Candi Prambanan dan seperangkat gamelan

Disertasi Doktor Ilmu Komunikasi · 2022

Media Komunitas Budaya di Era Digital

Studi etnografi atas komunitas budaya Bali Buja di Klaten: bagaimana warga membangun media hiperlokal sendiri untuk merawat kesenian, melawan marjinalisasi konten lokal, dan mewujudkan ketahanan budaya.

Penulis
Rocky Prasetyo Jati
Institusi
Universitas Indonesia, FISIP
Promotor & Ko-Promotor
Prof. Dr. Donna Asteria · Endah Triastuti, Ph.D

Abstrak

Tersedia dalam Bahasa Indonesia dan English.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengeksplorasi inovasi komunitas agar produksi makna yang disampaikan melalui setiap simbol seni dan budaya tetap lestari. Penelitian juga untuk mengetahui upaya komunitas budaya yang mengatasi keterbatasan berekspresi melalui media arus utama. Komunikasi partisipatif merupakan konsep penting dalam kajian pemberdayaan komunitas. Dalam beberapa tahun terakhir, media komunitas berkembang dengan memanfaatkan media daring sebagai konsekuensi atas globalisasi dan digitalisasi. Komunitas budaya melakukan optimalisasi terhadap multi-platform untuk mengembangkan media komunitas berbasis daring.

Penelitian kualitatif ini menggunakan metode etnografi dengan unit analisis komunitas masyarakat penggerak seni dan budaya. Jejak etnografi digunakan untuk menggambarkan dan menginterpretasikan upaya komunitas budaya dalam mewujudkan media komunitas. Hasil wawancara dan observasi dielaborasikan dengan penggunaan film dokumenter. Film dokumenter dalam penelitian ini tidak hanya menjadi data analisis, melainkan sebagai upaya proyek kolaborasi komunitas, sekaligus strategi baru untuk penelitian kualitatif.

Hasil penelitian ini adalah: pertama, komunitas mengandalkan partisipasi masyarakat yang secara kooperatif membangun inovasi teknologi media. Kedua, media hiperlokal dikembangkan untuk tujuan menjangkau warga komunitas yang berada di luar wilayah geografis mereka. Ketiga, peran aktor sosial memengaruhi usaha komunitas dalam mempertahankan aksi pelestarian budaya. Berlandaskan falsafah kehidupan Jawa seperti memayu hayuning bawana dan ngeli ning ora keli, komunitas budaya berupaya mewujudkan ketahanan budaya.

Kata kunci: media komunitas · komunitas budaya · ketahanan budaya

Tiga Temuan Utama

Hasil penelitian atas praktik komunitas budaya dalam mengelola media komunitas berbasis teknologi.

Partisipasi Kooperatif

Komunitas mengandalkan partisipasi masyarakat yang secara kooperatif membangun inovasi teknologi media, dari peralatan hingga tata kelola siaran.

Media Hiperlokal

Media hiperlokal dikembangkan untuk menjangkau warga komunitas yang berada di luar wilayah geografis mereka tanpa kehilangan kekhasan lokal.

Peran Aktor Sosial

Peran aktor sosial memengaruhi usaha komunitas dalam mempertahankan aksi pelestarian budaya, berlandas falsafah memayu hayuning bawana.

Pesinden berkebaya hijau dan pengrawit di depan gebyok kayu
Pesinden dan pengrawit dalam gelaran Bali Buja — Dokumentasi Peneliti

Dari pendapa ke kanal daring

Komunitas tidak menunggu ruang diberikan oleh media arus utama. Mereka merakit studio sederhana, menyiarkan pertunjukan secara langsung, dan menumbuhkan khalayaknya sendiri — sebuah praktik media komunitas yang tumbuh dari keterbatasan.

"Berlandaskan falsafah kehidupan Jawa seperti memayu hayuning bawana dan ngeli ning ora keli, komunitas budaya berupaya mewujudkan ketahanan budaya."
Baca BAB 5 — Teknologi Media dan Ketahanan Budaya