BAB 4
Komunikasi Kooperatif dalam Eksistensi Komunitas Budaya
Potret komunitas Bali Buja di Klaten, kreativitas komunitas budaya, dan peran aktor sosial dalam menjaga keberlangsungan aktivitas budaya.
Key Insights
- Bali Buja menghimpun beragam kelompok seni yang tidak mendapat ruang di media arus utama menjadi satu asosiasi.
- Relawan seperti IPPK dan warga sekitar menopang produksi kegiatan secara kooperatif, bukan komersial.
- Peran aktor sosial — terutama inisiator dan koordinator — menentukan daya tahan komunitas dalam pelestarian budaya.
4.1Pengantar
Dalam bagian ini peneliti akan menyajikan hasil penelitian berkaitan dengan eksistensi komunitas budaya "Bali Buja". Pengumpulan data dalam bagian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang gambaran eksistensi komunitas budaya dalam menjalankan aktivitas ketahanan budaya. Pada bab sebelumnya telah disampaikan bahwa pilihan peneliti dalam menggambarkan komunitas budaya ditempuh dengan metode pendekatan video dokumenter.
Video menjadi alat analisis dari penelitian untuk memahami realitas komunitas budaya Bali Buja yang mengembangkan inovasi atau alternatif untuk media komunitas. Pendekatan video tidak hanya terbatas sebagai alat penelitian, namun, digunakan untuk alat penyajian hasil penelitian. Peneliti menggunakan pendekatan video dokumenter. Video dokumenter ataupun ada beberapa sarjana yang menyebutnya dengan video etnografi masih memiliki perdebatan karena metode ini dianggap baru dan memiliki tantangan metodologis berkaitan etik, keabsahan dan terbuka peluang bias yang tinggi. Namun, studi visual yang dilakukan beberapa sarjana (Aguayo, 2014; Friend & Caruthers, 2016; Wayne, 2008) memperkuat argumen peneliti berkaitan dengan penggunaaan video. Heath (2017) menyebutkan bahwa video yang sebenarnya sudah dikenal sejak lama sebagai alat penelitian khususnya untuk pendekatan kualitatif. Produksi film disebut sebagai metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara empiris (Hughes, 2021) untuk mendapatkan informasi serta pengalaman hidup sekelompok orang. Video dianggap relatif menjadi semakin dibutuhkan, khususnya untuk menggambarkan secara nyata terhadap temuan data penelitian (Borish, 2021; McIlvenny, 2020). Kemajuan peralatan pendukung penelitian berbasis video semakin memperkuat keberadaan video untuk menjadi alat penelitian, jika sebelumnya penelitian terbatas dengan penggunaan peralatan gambar atau foto yang bersifat statis, seperti fotografi.
Dalam bab ini, penggunaan video dokumenter sebagai bagian dari alat analisis akan dibahas terlebih dahulu sebelum diterapkan dalam mengurai penggambaran eksistensi komunitas budaya "Bali Buja". Bab ini akan membatasi diskusi dalam eksplorasi aktivitas dan keberadaan fungsi komunikasi kooperatif yang digunakan "Bali Buja" dalam mewujudkan guyub kolaborasi masyarakat untuk tujuan pelestarian budaya. Bab terdiri dalam beberapa bagian, pertama peneliti akan menggambarkan bagaimana komunitas budaya ini bisa berdiri dan menjadi sarana bagi masyarakat di sekitar Prambanan (tepatnya desa Tlogo, Klaten) untuk berekspresi. Metode kombinasi akan digunakan untuk menjawab tantangan pertanyaan ini. Kemudian, bagian berikutnya peneliti akan memaparkan beberapa data yang menunjukkan upaya komunitas budaya yang dikelola secara terstruktur namun tetap memegang konsep kearifan lokal dalam berorganisasi.
Proses penelitian serta upaya produksi film "Bali Buja" bertujuan sebagai aktivitas mendukung kegiatan seni Bali Buja dalam upayanya menciptakan gerakan ketahanan budaya di tengah posisi marjinal seniman yang berada di Kabupaten Klaten. Kemunculan Bali Buja merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat ketika mereka tidak terdengar dari proses pembangunan dan industri media yang lebih berorientasi pada keuntungan. Produksi film dokumenter "Bali Buja" merupakan proyek kolaborasi antara peneliti, seniman pertunjukan tradisional dan produsen film modern (film perkotaan). Dengan demikian, film digunakan sebagai media alternatif untuk mengeksplorasi kisah mereka melalui film.
Tujuan penelitian pada bab ini yaitu untuk merekam, memahami, dan menganalisis komunikasi kooperatif yang terjadi dalam paguyuban Bali Buja. Mereka menggunakan media baru berbasis teknologi media dalam pengelolaan media komunitas. Media komunitas Bali Buja termasuk strategi mereka untuk menjaga eksistensi masyarakat yang peduli atas kesenian tradisional yang identik dengan kearifan lokal.
Selain digunakan sebagai alat penelitian, hasil dokumenter digunakan sebagai proyek promosi ketahanan budaya atas tradisi budaya lokal. Karena itu, peneliti menjadikan film dokumenter sebagai proyek portofolio media kolaboratif yang menggunakan pengalaman seniman tradisional dari internal Bali Buja untuk pengembangan konten. Peneliti beargumen proyek dokumenter ini juga akan menjadi produk media yang memiliki muatan suara atas visi ketahanan budaya Bali Buja. Dalam salah satu sub bab pada bab ini juga akan memaparkan hasil analisis peran aktor sosial dalam pemberdayaan komunitas budaya.
Pada bagian ini, penelitian memiliki objek pengamatan pada pemanfaatan film dokumenter yang dihasilkan berupa kolaborasi komunitas budaya. Data penelitian berupa hasil observasi, data video dan foto dokumentasi termasuk hasil produksi dari film dokumenter digunakan untuk menganalisa dan menjabarkan penggambaran aktivitas Bali Buja.
Bagian akhir dalam bab ini akan mengelaborasikan antara konsep, temuan data, serta hasil penelitian pada komunitas Bali Buja untuk menjaga eksistensi keberadaan seni dan budaya. Konsep yang telah diungkapkan dalam bab sebelumnya yaitu ketahanan budaya, komunikasi kooperatif yang berkembang dalam aktivitas komunitas budaya, dan konsep kearifan lokal yang diketahui sebagai salah satu panduan hidup masyarakat Jawa yaitu 'ngeli ning ora keli'.
Membangun Metode
Penelitian ini pada dasarnya berbasis pengamatan praktik dari komunitas. Aktivitas yang dikelola oleh komunitas seperti produksi konten dalam media dokumentasi merupakan bagian dari upaya komunitas untuk menunjukkan ketahanan budaya. Dengan kata lain, aktivitas komunitas Bali Buja merupakan bangunan ekosistem untuk pelestarian budaya. Untuk alasan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan dokumenter untuk mengkaji dan menggambarkan aktivitas individu dan komunitas Bali Buja. Peneliti mengamati harapan, pengalaman, nilai, pengetahuan serta kepercayaan yang dialami komunitas budaya tersebut melalui pengalaman kolaboratif serta pendekatan audio-visual.
Peneliti menggunakan logika trace etnography atau jejak etnografi (Geiger & Ribes, 2011) dalam mendalami dan mengkaji gambaran komunitas Bali Buja. Film dokumenter digunakan dalam analisis data yang terperinci dan heterogen -- mencakup data video, transkrip percakapan -- dapat memberikan gambaran wawasan kualitatif yang memungkinan peneliti untuk merekonstruksi pada tingkat perincian yang baik. Narasi interaksi dapat dibangun dalam penelitian ini melalui jejak etnografi.
Jejak dokumenter ini memungkinkan peneliti untuk mengikuti praktik koordinasi, rutinitas, fenomena sosial dari komunitas. Geiger & Ribes (2011) lebih lanjut menyebutkan bahwa jejak etnografi merupakan metode yang dianggap dapat menangkap beragam fenomena yang tersebar dalam beragam data sehingga memiliki kompleksitas untuk dianalisis. Metode jejak etnografi dikenal sebelumnya sebagai penggabungan atau perluasan dari beragam teknik yang telah mapan dalam bidang ilmu sosial dan komputer (Chang et al., 2016; Ekström, 2021). Jejak etnografi menjadi metodologi untuk mengeksploitasi dokumen yang berbasis teknologi media. Dengan demikian, langkah ini dapat menjadi teknik untuk memberikan deskripsi yang rinci untuk kolaborasi dan organisasi dari komunitas budaya Bali Buja.
Film dokumenter dikelola peneliti dengan tujuan mengubah data dokumentasi yang tipis menjadi deskripsi tebal (thick description). Dalam bagian berikutnya pada bab ini, peneliti akan menggunakan data wawancara untuk memperkuat dan mengkonfirmasi terhadap teks dokumenter. Film dokumenter yang diwujudkan dalam penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara pengelola komunitas, anggota komunitas dan pemerhati komunitas. Dengan kata lain, dokumenter melibatkan suatu jaringan antar aktor yang tidak hanya internal anggota komunitas melainkan termasuk hasil interaksi dengan individu atau kelompok di luar Bali Buja. Melalui dokumenter, peneliti dapat mengkaji aktor, kegiatan yang ditampilkan Bali Buja, peran anggota komunitas, serta nilai yang ditampilkan. Jejak etnografi menjadi metodologi yang digunakan peneliti untuk lakukan eksplorasi komunitas dalam penggunaan media baru berbasis teknologi media guna memproduksi diskursus ketahanan budaya. Produksi media digunakan oleh komunitas budaya sebagai bentuk perawatan atas ketahanan budaya. Melalui media komunitas, Bali Buja membangun diskursus ketahanan budaya seperti nilai-nilai kearifan lokal. Seperti yang disarankan oleh Marsh (2016) bahwa melalui berbagai cara -- diskursus ketahanan budaya dapat dikonstruksikan. Semua hubungan, jaringan serta nilai adalah gugusan dari hasil data yang dicatat. Film dokumenter yang diwujudkan Bali Buja sebagai hasil kolaborasi produksi merupakan formasi pengetahuan, kepercayaan, harapan dari setiap anggota Bali Buja tentang ketahanan budaya.
Membangun Hubungan dengan Seniman dalam Produksi Dokumenter Bali Buja
Sub bagian ini memberikan gambaran mendalam tentang berbagai tahapan yang terlibat dalam produksi film dokumenter. Dengan kata lain, disebut sebagai proses pengumpulan data. Tentu saja penting bagi peneliti menguraikan bagaimana data dikumpulkan dan diubah menjadi film dokumenter dan data dokumentasi penelitian karena memengaruhi pemahaman keseluruhan proyek penelitian. Aspek metode penelitian kualitatif tradisional seperti pelaksanaan wawancara dan transkripsi tetap digunakan, sedangkan hasil produksi dokumenter digunakan untuk menambah lapisan analisis lain pada data. Sebagai bagian dari penelitian, peneliti mempertimbangkan daya tarik visual data serta keefektifannya dalam bercerita.
Pada bab sebelumnya telah diuraikan kajian literatur yang menjadi landasan penggunaan film dokumenter sebagai bagian alat penelitian. Peneliti memutuskan bahwa hasil film dokumenter bukan sekadar menjadi luaran penelitian yang dihasilkan dari suntingan atas rangkaian informasi dari data visual. Karena itu, penting dalam proses penelitian ini, peneliti melibatkan anggota komunitas Bali Buja sebagai informan penelitian dan juga menjadi bagian dari proses produksi. Seperti yang diungkap oleh Burawoy (2005) bahwa pengambaran sosiologi publik, keterlibatan anggota komunitas menjadi pembawa pesan ke publik. Mereka tidak hanya akan memberi saran tentang bagaimana komunitas budaya ingin difilmkan, tetapi mereka juga memberikan kontribusi visual yang dirasa paling mewakili mereka sendiri.
Hubungan dengan orang-orang yang bekerja dengan peneliti menjadi bagian paling penting. Alih-alih, menyebut mereka sebagai "subjek penelitian", peneliti menganggap mereka lebih seperti teman yang peneliti anggap setara daripada sebagai subjek studi. Peneliti tidak mengembangkan hubungan yang baru tetapi mengubah hubungan yang sudah ada menjadi lebih dekat dan produktif. Sejak awal, peneliti telah berbicara dengan mereka tentang proyek penelitian ini, sekaligus menjadikan film dokumenter yang diproduksi menjadi bagian dari media komunikasi mereka sebagai komunitas budaya yang terus berupaya menjaga ketahanan budaya.
Untuk keperluan produksi film dokumenter ini, selain melibatkan warga komunitas budaya sebagai bagian dari informan atau narasumber dalam dokumenter. Peneliti juga melibatkan pembuat film yang memiliki kemampuan dalam mengaplikasikan peralatan kamera dan editing. Tahapan awal dimulai dari diskusi antara peneliti dengan pembuat film yang berperan sebagai sutradara dan produser. Pra produksi diisi dengan arahan target informan yang akan menjadi narasumber utama, sumber-sumber data yang diperlukan sebagai bagian rekaman atau footage. Selama pelaksanaan produksi dan pasca produksi, secara simulatan peneliti juga memulai tahap analisis dengan cara kualitatif seperti menyalin hasil rekaman dan membaca transkrip. Hasil rekaman tersebut juga turut disesuaikan dengan hasil pengamatan peneliti baik melalui observasi, catatan harian, dokumentasi foto peneliti.
Melalui analisis tersebut, beberapa alur cerita menjadi narasi khas yang mampu menyatukan sumber data dan anggota komunitas budaya yang terlibat. Film dokumenter ini memiliki alur berdasarkan tiga alur pembabakan cerita, dimulai dari sejarah awal Bali Buja, teknologi media yang digunakan komunitas, kemudian harapan esensial yang ingin dicapai dari komunitas tersebut. Beberapa hasil rekaman tidak digunakan dalam film dokumenter karena bukan menjadi bagian dari jawaban penelitian pada bab ini yaitu untuk penggambaran komunitas budaya, melainkan untuk lebih menggambarkan kepada esensi inti pesan yang ingin disampaikan sang realwan donatur atau inisiator dari komunitas. Mengenai bagian tersebut, peneliti akan menguraikan pada bab lain dari penelitian ini. Sebagaimana yang dikerjakan dalam penelitian kualitatif, proses pengkodean membantu untuk melakukan sintesis materi penelitian.
4.2Bali Buja
Penelitian berawal dari tahun 2018, ketika peneliti mendapatkan kesempatan untuk merancang proyek kolaborasi dengan sekelompok seniman berasal dari kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Proyek kolaborasi tersebut yaitu mengerjakan rancangan bentuk inovasi media baru bagi komunitas seni Bali Buja. Peneliti bersama dengan tim yang memiliki keahlian dalam bidang teknologi informasi turut mempersiapkan perangkat rancangan teknologi internet untuk menyiarkan live streaming (siaran langsung) dari aktivitas Bali Buja. Rancangan teknologi internet tersebut merupakan bagian dari proyek awal sebelum pengembangan situs web yang akan digunakan untuk menyiarkan lebih luas Bali Buja. Beberapa usulan platform yang akan digunakan mulai dari situs web, aplikasi Facebook, YouTube dan teknologi podcast. Pertemuan awal antara peneliti dengan beberapa sosok-sosok yang akan menjadi informan tidak terlampau sulit dilakukan. Keterlibatan peneliti sebelumnya dalam kolaborasi menyusun strategi pengelolaan Bali Buja adalah salah satu alasan yang memudahkan akses ke informan.
Selanjutnya peneliti memanfaatkan kesempatan tersebut untuk aktivitas observasi dan pendalaman terhadap informan yang akan menjadi sumber data dengan informasi signifikan dengan kebutuhan penelitian. Kontribusi peneliti pada Bali Buja diwujudkan dengan mengikuti dan terlibat ke dalam beberapa aktivitas seni Bali Buja seperti pertunjukan wayang wong (atau: wayang orang), wayang kulit, seni karawitan dan sendratari. Peneliti mengamati kegiatan Bali Buja mulai dari aktivitas saat masih menggunakan panggung terbuka sebagai media komunitas hingga pemanfaatan media baru.

<figure> <img src="media/image3.jpeg" style="width:4.6087in;height:2.25686in" alt="A group of people on stage Description automatically generated with medium confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015594" class="anchor"></span>Gambar 4.1 Kegiatan Bali Buja di Panggung Terbuka Tahun 2018</p></figcaption> </figure>
Kegiatan proyek kolaborasi yang dilakukan peneliti menjadi keuntungan dalam proses penelitian Bali Buja. Tidak hanya proyek kolaborasi berkaitan dengan pengembangan teknologi media baru, peneliti juga mempersiapkan rancangan film dokumenter. Dalam proses produksi dokumenter yang berjudul "Bali Buja", seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa peneliti bekerjasama dengan pembuat film berpengalaman untuk menjadi produser dan sutradara. Kedua personil tersebut menjadi mitra dalam memproduksi karya dokumenter dengan tujuan memperkenalkan Bali Buja. Tidak hanya itu, karya audio-visual tersebut juga diajukan sebagai media dokumentasi dalam menunjukkan upaya eksistensi yang dibangun Bali Buja. Dalam produksi dokumenter ini, peneliti sekaligus bertindak sebagai pengarah dan penggagas dari arah dokumenter. Kerjasama produksi ini diawali dengan pertemuan pra produksi dengan mitra produksi yang dilaksanakan di Jakarta dan juga di Klaten, tempat lokasi aktivitas Bali Buja. Sebagai konsekuensi dari kedekatan antara tim produksi dan objek film, lokasi yang kemudian menjadi tempat diskusi adalah Hotel Galuh Prambanan, Klaten. Dalam diskusi awal, disepakati bahwa beberapa bagian dokumenter akan mencakup: sejarah terbentuknya Bali Buja, bagaimana Bali Buja dikembangkan, kolaborasi apa saja yang telah dilakukan Bali Buja dalam mewujudkan program ketahanan budaya dalam bidang seni dan budaya.
Peneliti sebagai pengarah produksi melakukan pendekatan awal dengan beberapa personil Bali Buja. Anggota dari komunitas yang dipilih sebagai narasumber adalah sosok yang memiliki kepentingan esensial dalam pengelolaan Bali Buja. Misalnya, komunikasi awal yaitu dengan Bapak Sentot sebagai Koordinator Bali Buja, kemudian dengan Bapak Djaetun selaku perintis atau penghimpun awal Bali Buja. Dalam perjalanan penelitian dan produksi dokumenter, peneliti kemudian bertemu dengan Mas Subari atau yang lebih akrab dipanggil dengan Mas Barun, seorang seniman yang juga menjadi pengurus dari Radio Komunitas Bayat atau RKB Klaten. Dalam bab lain dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan alasan dan latar belakang Bali Buja dalam mengembangkan media komunitas sebagai sarana penyebarluasan hasil aktivitas seni mereka. Informasi terkait pemanfaaatan media komunitas salah satunya adalah melalui data yang dihimpun dari wawancara dengan Mas Barun.
Setelah melewati proses penyuntingan, produksi dokumenter "Bali Buja" diwujudkan dalam durasi 20 menit. Dokumenter disajikan dengan tujuan utama untuk memperkenalkan secara mendasar Bali Buja, untuk memenuhi hal tersebut diperlukan seleksi atas informasi melalui penyuntingan data video. Rangkaian data berupa hasil catatan observasi, rekaman audio dan video yang tidak masuk menjadi bagian dari film dokumenter kemudian dimanfaatkan oleh peneliti untuk pengembangan dari proses penelitian. Sebagai contoh, beberapa hasil wawancara dengan Bapak Djaetun diolah dan dipaparkan peneliti dalam sub bab lain untuk menjelaskan peran aktor sosial dalam Bali Buja.
Tentang Bali Buja
Bali Buja adalah paguyuban seni, sebuah asosiasi penghimpun kelompok-kelompok masyarakat yang peduli dengan kesenian tradisional. Nama Bali Buja sendiri merupakan singkatan dari Paguyuban Peduli Budaya Jawa. Bali Buja memiliki pusat lokasi pertemuan di Desa Tlogo, Prambanan, Kabupaten Klaten. Desa Tlogo yang menjadi tempat studi ini dilakukan, merupakan sebuah desa yang terletak di sebelah barat Candi Prambanan. Desa Tlogo juga dikeliling beberapa candi peninggalan sejarah diantaranya terdapat Candi Plaosan dan Candi Sojiwan. Letak geografis Desa Tlogo ini menjadi nilai tambah dari keunikan Bali Buja sebagai paguyuban seni yang tidak jauh tempat operasionalnya dari lokasi bersejarah. Candi-candi yang terdapat di wilayah Jawa Tengah ini pun hingga saat ini masih aktif menjadi pusat kegiatan spiritual selain berfungsi sebagai objek wisata.

<figure> <img src="media/image4.jpeg" style="width:4.10779in;height:2.27826in" alt="A picture containing outdoor, mountain, dirt, day Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015595" class="anchor"></span>Gambar 4.2 Candi Prambanan Klaten</p></figcaption> </figure>
Desa Tlogo menjadi pusat kegiatan Bali Buja yang berjarak 1,2 kilometer dari Candi Prambanan. Desa Tlogo memiliki mayoritas penduduk dengan mata pencaharian dalam bidang pertanian dan perdagangan. Begitu pula relawan Bali Buja yang tergabung dalam anggota kelompok seni rata-rata memiliki profesi sebagai petani, pedagang dan sebagian adalah pegawai negeri. Bali Buja merupakan wadah bagi para anggotanya untuk mengembangkan minat dan semangat terhadap kegiatan berkesenian. Selama pertunjukan, mereka menunjukkan motivasi dan kegembiraan melalui manifestasi artistik.

Tidak hanya untuk mengembangkan minat dan meluapkan ekspresi kesenian, partisipasi relawan Bali Buja juga didasari dengan tujuan yang sama yaitu pelestarian budaya tradisional. Mereka melakukan aktivitas seni sebagai bagian dari menjaga nilai kearifan lokal yang terkandung dalam produk kesenian. Seperti nilai filosofis keluhuran budi, sebuah nilai yang terus dipertahankan oleh masyarakat Jawa untuk menjaga identitas. Aktivitas berkesenian yang mereka lakukan kemudian sekaligus menjadi media untuk pendalaman makna filosofis kehidupan.
Berkesenian Bali Buja seperti melalui permainan gending di dalam seni karawitan, menari, memainkan karakter dalam sendratari, adalah sarana perwujudan guyub warga. Bali Buja sebagai paguyuban seni menjadi tempat bagi kelompok-kelompok seni daerah untuk beraksi. Dengan kata lain, jika meminjam terminologi dari komputer, Bali Buja disebut sebagai aggregator atau pengumpul bagi kelompok seni yang tidak memiliki ruang di media arus-utama. Kelompok-kelompok seni yang bergabung dianggap belum memiliki kualitas layak tampil secara luas melalui media arus-utama. Akibatnya, kesempatan untuk menunjukkan diri pun menjadi terbatas. Tujuan mereka berkolaborasi yaitu menciptakan ruang bagi kelompok-kelompok seni terpinggirkan.
Bali Buja diikuti oleh anggota masyarakat dengan latar belakang aneka profesi dan status. Misalnya kelompok seni dari warga yang terdiri petani dan pedagang. Di samping itu, terdapat pula kelompok pelajar dan guru. Bali Buja pun menampung pengisi konten dari seniman yang senior. Mereka saling berkolaborasi dan secara kooperatif membangun konten seni sesuai dengan minat dan kreativitas masing-masing kelompok.
Sebagai sebuah paguyuban, Bali Buja menaungi beberapa kelompok seni yang terdapat di Klaten. Seni karawitan lebih sering mendominasi jadwal penampilan Bali Buja jika dibandingkan dengan jenis seni lainnya. Sesekali Bali Buja mengadakan kegiatan wayang kulit dan sendratari. Beberapa dusun yang berada di sekitar Desa Tlogo yang memiliki kelompok seni rakyat, diberikan kesempatan untuk tampil melalui media yang telah disediakan oleh Bali Buja. Setiap kelompok seni yang menginginkan tampil tidak ditarik atau dipungut biaya, prosedurnya pun cukup mudah yaitu mendaftarkan diri langsung ke Koordinator Bali Buja yaitu Bapak Sentot Murdoko (Pak Sentot). Kemudian, setiap Rabu malam atau setiap pertunjukan berlangsung, kelompok yang ingin tampil mendaftarkan diri dan dijadwalkan oleh Pak Sentot. Bagi para warogo atau pengrawit atau anggota yang tampil akan mendapatkan apresiasi dari pengelola Bali Buja.
Pak Sentot sebagai Koordinator Bali Buja pada awalnya juga merupakan seniman dari Kabupaten Klaten. Pak Sentot adalah sosok yang menjadi motor penggerak dari paguyuban Bali Buja. Bersama dengan peneliti, Pak Sentot menceritakan perkenalan awalnya dengan Bali Buja. Pak Sentot memulai aktivitasnya di Bali Buja diawali dengan menjadi pemain wayang orang dalam sebuah lakon cerita yang diadakan oleh Bapak Djaetun. Para pengelola Bali Buja memang sebagian besar adalah seniman. Kepedulian atas roso atau rasa seni dan budaya yang sama, menjadi salah satu pendorong bagi seniman untuk lebih mengupayakan keberadaan Bali Buja.
Pak Sentot merupakan informan pertama dari kerja penelitian ini. Kemudian, studi ini berlanjut ketika peneliti dipertemukan dengan Bapak Djaetun Hardjosaputro sebagai sosok dari keberadaan Bali Buja. Beberapa kali nama Pak Djaetun disebut oleh Pak Sentot sebagai inovator dari kegiatan Bali Buja. Peneliti mendapatkan informasi yang mendalam terkait makna yang ingin dihadirkan dari aktivitas Bali Buja, termasuk dalam bagian lain pada bab ini akan dipaparkan alasan Pak Djaetun mengadakan kegiatan pemberdayaan masyarakat kelompok kesenian.
Bali Buja dibentuk sejak tahun 2002 dan dipimpin bapak Ratno Raharjo mantan Sekretaris Desa Tlogo atas perintah dan arahan bapak Djaetun. Arahan Pak Djaetun terkait pembentukan Bali Buja yaitu berdasarkan pengamatan bahwa belum ada wadah yang secara khusus memfasilitasi keperluan aktivitas seni dan budaya di Prambanan. Gagasan awal pembentukan Bali Buja adalah berbentuk asosiasi atau paguyuban. Bali Buja dibentuk sebagai perantara beragam komunitas seni dan budaya yang berdomisili di Klaten.
Kemudian, lahirlah kelompok atau paguyuban yang dinamakan Bali Buja. Seperti yang telah diungkap sebelumnya, Bali Buja merupakan singkatan dari Paguyuban Peduli Budaya Jawa. Berdasarkan pemaparan Pak Sentot, kegiatan Bali Buja awalnya adalah pertunjukan seni setiap hari Rabu malam yang dinamakan Malam Kemisan. Kegiatan ini diisi dengan kelompok karawitan yang dibentuk oleh Pak Djaetun. Selain seni karawitan, Bali Buja juga mengadakan pertunjukan wayang kulit pada hari Sabtu legi dengan menghadirkan dalang-dalang muda. Kegiatan tersebut kemudian diikuti dengan ide penampilan seni karawitan dalam jenis cokekan. Cokekan adalah bagian dari seni gamelan yang mengutamakan iringan berupa kendang, gender, dan siter. Kegiatan ini dilaksanakan secara khusus pada hari Selasa Kliwon. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Sentot, bahwa seni cokekan ini memiliki latar belakang yang sedikit berbeda dibandingkan dengan gagasan acara Malam Kemisan ataupun pertunjukan wayang kulit. Seni cokekan ini diadakan sebagai bentuk kegiatan mengenang atau memperingati meninggalnya ayah dari Pak Djaetun.

<figure> <img src="media/image6.jpeg" style="width:3.9913in;height:2.19774in" alt="A group of people sitting on the ground Description automatically generated with medium confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015597" class="anchor"></span>Gambar 4.4 Penonton Pertunjukan Bali Buja<br /> Sumber: Dokumenter Bali Buja</p></figcaption> </figure>
Mayoritas kegiatan Bali Buja dilaksanakan pada waktu malam hari. Pelaksanaan waktu malam hari diamati oleh peneliti sebagai konsekuensi dari pemain karawitan yang lebih banyak memiliki aktivitas harian pada pagi hari. Seperti yang telah disebutkan di atas, sebagian besar relawan Bali Buja adalah petani dan pedagang. Pertunjukan seni biasa dilaksanakan mulai pukul 9 malam. Komunitas seni yang telah mendapatkan kesempatan untuk tampil akan datang ke lokasi pendopo pada jam 7 malam atau setelah waktu Isya. Dilihat dari kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas, setiap komunitas seni tidak hanya membawa rombongan pengrawit atau kelompok seni yang akan tampil tetapi juga membawa sekelompok penonton pendukung yang berasal dari rekan atau kerabat komunitas. Mereka bisa datang bersama-sama dengan menggunakan satu kendaraan truk besar atau dengan kendaraan kecil. Bahkan pada beberapa kesempatan, peneliti melihat pemimpin warganya pun turut hadir, misalnya Kepala Desa yang datang untuk tujuan mendampingi.
Terdapat dua lokasi yang digunakan bagi komunitas budaya Bali Buja untuk tampil, dalam kegiatan pentas mereka lebih sering menggunakan lokasi di Grha Purbo Waseso Kencono. Terdapat bagian khusus yang memang dipakai untuk menempatkan seperangkat gamelan, teras bagi penonton yang hadir langsung dan sebagian lagi terdapat taman outdoor yang digunakan untuk penonton undangan. Tempat lainnya adalah Grha Mahardhika Saniyasa, sebuah lokasi yang tidak jauh dari lokasi pertama, yaitu sekitar 1 kilometer. Di tempat ini Bali Buja memberikan kesempatan bagi seniman yang akan mengadakan latihan untuk pertunjukan khusus. Kedua lokasi tersebut masih menempati tempat dengan area geografis yang sama yaitu Desa Tlogo, Kabupaten Klaten.

<figure> <img src="media/image7.png" style="width:3.45975in;height:2.80851in" alt="Map Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015598" class="anchor"></span>Gambar 4.5 Peta Lokasi Komunitas Bali Buja di Kabupaten Klaten</p></figcaption> </figure>
Dalam beberapa kali pengamatan oleh peneliti, tempat ini digunakan sebagai lokasi latihan karawitan atau gamelan dan juga latihan menari. Sejak tahun 2020, tempat ini kemudian tidak digunakan lagi untuk acara yang melibatkan keramaian. Akibatnya, pusat latihan kemudian dipindahkan ke lokasi lain yaitu Grha Purbo Waseso Kencono. Lokasi awal yaitu Grha Mahardhika Saniyasa menjadi lokasi yang dirancang oleh pemiliknya, yaitu Pak Djaetun sebagai tempat untuk menerima tamu dan pada malam tertentu dimanfaatkan sebagai ruang pribadi untuk kegiatan spiritual.
Bali Buja memanfaatkan media komunitas untuk menyiarkan aksi ekspresi keseniannya. Penggunaan medium konvensional seperti panggung terbuka dilakukan pada awal terbentuknya Bali Buja. Panggung terbuka didirikan di lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat, ataupun diadakan bersamaan dengan kegiatan 'syukuran' warga. Lokasi terbuka menjadi semakin mendukung guyub-nya antar warga. Seperti yang diungkapkan Pak Sentot berikut ini:
"Lha terus kalau ada warga yang menginginkan kita muter Mas. Katakan Saya punya hajatan kok nggak mampu, ya sudah minta Pak Djaetun, untuk dibantu pak. Acaranya apa? katakan khitanan. Mau syukuran pakai apa? ada wayang kulit ada wayang orang ada ketoprak ada. Itu siapa yang menginginkan? dan itu muter setiap Kecamatan Mas.. dan kita juga menyediakan.. dulu ada sound system.. kostum panggung tratak kita sediakan semua.. tapi karena sekarang tenaga kita terbatas itu kita hanya menyediakan kostum sama gamelan.. dan sekarang tidak muter.. Setiap malam kamis di balai witono purbo kencono. Setiap malam minggu legi di tempatnya pak One, ada wayang kulit dari dalang-dalang se-Kabupaten Klaten.. Ini (karawitan) juga ini juga dari grup karawitan se-Kabupaten Klaten secara bergantian"
Kegiatan awal Bali Buja yang memanfaatkan panggung terbuka, pada awalnya memang dilaksanakan berdasarkan permintaan warga. Tidak hanya memberikan tempat bagi komunitas-komunitas budaya yang terpinggirkan, Bali Buja juga turut memberikan kesempatan bagi warga masyarakat yang ingin mengadakan kegiatan seni dan budaya untuk merayakan kegiatan syukuran. Proses pendaftaran begitu mudah diorganisir oleh Pak Sentot selaku koordinator. Bali Buja bersifat terbuka untuk umum, bahkan tidak melihat asal daerah kelompok seni. Jika sebuah kelompok menginginkan untuk tampil, cukup hadir pada saat pementasan kemudian langsung mendaftarkan diri melalui Pak Sentot.
Eksistensi Bali Buja kemudian dilanjutkan dengan perannya pada kegiatan-kegiatan yang menyangkut pelestarian budaya. Bali Buja mendukung menjadi kolaborator dari penyelenggara. Mereka pernah membantu koordinasi kegiatan wayangan yang diadakan oleh Kepala Desa. Tidak hanya aktivitas penampilan atau pertunjukan seni dan budaya, Bali Buja turut memfasilitasi kegiatan lain bersifat akademik. Sebagai contoh adalah pelaksanaan Ceramah Budaya yang bertujuan memperkenalkan wawasan seni kepada publik.
Kepedulian lainnya terhadap seni dan budaya yaitu keterlibatan Bali Buja dalam memfasilitasi sekolah-sekolah seni yang membutuhkan tempat dan dukungan untuk kegiatan ujian kompetensi, seperti ujian karawitan untuk pelajar seni karawitan. Berdasarkan informasi yang diterima oleh Pak Sentot, SMK yang pernah berkolaborasi dengan Bali Buja diantaranya SMK Negeri 8 Surakarta dan SMK Negeri Bantul. Ujian yang pernah dibantu koordinasinya yaitu Ujian Rebab, Gender dan Sinden.
Bali Buja juga tercatat mengadakan kegiatan sendratari di panggung terbuka Alun-Alun Klaten. Pada tahun 2010, Bali Buja mulai memperkenalkan diri kepada publik melalui pertunjukan sendratari yang mengangkat judul "Jonggrang Love Story", sebuah cerita yang diadaptasi dan dikembangkan berdasarkan kisah legendaris Roro Jonggrang. Berdasarkan penuturan Pak Sentot, Bali Buja memang identik dengan inovasi. Dalam lakon "Jonggrang Love Story", mereka mengutamakan pengembangan cerita dan penggunaan teknologi dalam panggung terbuka. Bali Buja merespon keinginan masyarakat yang ingin mendapatkan akses hiburan melalui pendekatan teknologi. Untuk alasan ini, Bali Buja beradaptasi dengan berupaya mempelajari teknologi yang dibutuhkan dalam rangka merealisasikan kedekatan dengan komunitas. Meskipun tidak mudah, namun inovasi tersebut diperjuangkan oleh mereka atas dasar semangat mewujudkan pelestarian budaya lokal. Konsep ketahanan budaya kemudian diterapkan oleh mereka, beradaptasi dengan perkembangan jaman termasuk teknologi media yang diterapkan dalam menyiarkan konten seni. Bali Buja memahami bahwa kreativitas dan inovasi diperlukan untuk mempertahankan eksistensi seni itu sendiri.
Pada bagian sebelumnya, peneliti mengungkap bahwa seni karawitan mendominasi penampilan Bali Buja. Seni karawitan merupakan salah satu jenis seni gamelan Jawa yang diakui menjadi warisan leluhur. Kekhasan dari seni karawitan yaitu menggunakan seperangkat alat musik gamelan yang terbuat dari besi bercampur kuningan. Berdasarkan data yang peneliti dapatkan dari BPS Kabupaten Klaten, seni karawitan merupakan jenis kesenian musik yang memiliki peminat kelompok paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kesenian lainnya. Terhitung terdapat 416 kelompok seni musik karawitan. Seni karawitan mendominasi dibandingkan dengan jenis kesenian yang lain.
| ORGANISASI KESENIAN MUSIK DI KABUPATEN KLATEN | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| [Nama Kesenian] | Tahun | ||||||
| +---------------+---------------+---------------+---------------+---------------+---------------+---------------+ | |||||||
| 2009 | 2010 | 2011 | 2012 | 2013 | 2014 | 2015 | |
| KARAWITAN | 372 | 372 | 372 | 386 | 386 | 416 | 416 |
| LARAS MADYA | 186 | 186 | 186 | 188 | 188 | 206 | 206 |
| SALAWATAN | 49 | 49 | 49 | 45 | 45 | 155 | 155 |
| SAMPROH / RODAT | 15 | 15 | 15 | 14 | 14 | 54 | 54 |
| QOSIDAH | 41 | 41 | 41 | 18 | 18 | 51 | 49 |
| KOTEKAN | 10 | 10 | 10 | 10 | 10 | 16 | 16 |
| BAND */ OM* | 109 | 109 | 109 | 109 | 47 | 138 | 138 |
| MARCHINGBAND | 18 | 18 | 18 | 18 | 19 | 57 | 57 |
| KERONCONG | 93 | 93 | 93 | 93 | 82 | 102 | 102 |
| KULINTANG | 13 | 13 | 13 | 13 | 14 | 16 | 16 |
Bali Buja cenderung tidak menggunakan media promosi yang masif untuk memperkenalkan aktivitasnya. Bali Buja lebih mengutamakan bentuk media getok tular atau dari mulut ke mulut. Salah satu relawan Bali Buja, Pak Suparno mengungkapkan:
Dunia maju seperti ini.. Masih ada sesepuh kita yang tetap ingin mempertahankan budaya-budaya Jawa.. seni dan sebagainya.. Dan ini sesuai dengan cita-citanya Pak Djaetun membuat senang orang lain.. Dan ini akan menjadi suatu ajang bagi masyarakat..
Pak Suparno merupakan koordinator dari IPPK atau Ikatan Purnakaryawan Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Klaten. Sebuah wadah yang menghimpun pensiunan pendidik. Karena memiliki latar belakang yang sama yaitu kecintaan pada aktivitas seni dan budaya, mereka kemudian membentuk kelompok seni. Pada tahun 2018, mereka turut tampil dalam salah satu kesempatan pertunjukan yang diadakan oleh Bali Buja.

<figure> <img src="media/image8.png" style="width:3.60396in;height:2.0168in" alt="A group of people sitting in a room Description automatically generated with low confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015599" class="anchor"></span>Gambar 4.6 IPPK Menjadi Relawan Bali Buja</p></figcaption> </figure>
Bersama dengan IPPK, Bali Buja turut berpartisipasi untuk memfasilitasi kegiatan kompetisi karawitan yang diperuntukkan kepada kelompok-kelompok seni senior (pensiunan karyawan). Hal ini menjadi bentuk perwujudan komitmen dan kontribusi Bali Buja untuk memberikan ruang bagi seniman-seniman senior.
<figure> <img src="media/image9.gif" style="width:3.37624in;height:1.90432in" alt="A group of people sitting in a room Description automatically generated with low confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015600" class="anchor"></span>Gambar 4.7 IPPK Sebagai Relawan Bali Buja<br /> Sumber: Dokumentasi Peneliti</p></figcaption> </figure>
Kompetisi karawitan untuk IPPK adalah contoh inovasi aktivitas yang dilaksanakan Bali Buja. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Sentot bahwa hal esensial yang dibangun oleh Bali Buja adalah: siapa yang menginginkan, siapa yang membutuhkan, kita saling membantu, terutama dalam kegiatan budaya.
<figure> <img src="media/image10.gif" style="width:3.35652in;height:1.88804in" alt="A group of people sitting in a room Description automatically generated with medium confidence" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015601" class="anchor"></span>Gambar 4.8 Kompetisi Karawitan</p></figcaption> </figure>
Gagasan nyenengke wong akeh atau membuat banyak orang senang menjadi landasan dasar kegiatan Bali Buja. Landasan tersebut diungkapkan pertama kali oleh Pak Djaetun sebagai inisiator Bali Buja. Tujuannya adalah komunitas seni akan senang mendapatkan kesempatan untuk tampil dan diakui menjadi bagian dari pelestari seni budaya. Demikian pula warga yang menjadi khalayak turut senang karena mendapatkan hiburan dari komunitas seni. Seni sebagai hiburan memang diakui sejak lama sebagai bagian gaya hidup masyarakat Jawa. Panggung kesenian rakyat telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa. Mulai dari sandiwara rakyat (ketoprak, ludruk, wayang wong), kemudian pertunjukan wayang kulit dan seni musik khas Jawa seperti karawitan. Beragam kesenian rakyat tersebut kemudian ditampilkan sebagai bagian dari hiburan dan media penyampaian pesan kepada masyarakat (Geertz, 2016).
Fungsi panggung terbuka yang diadakan atau digelar oleh Bali Buja pada awal dibentuk jelas memiliki perbedaan fungsi dengan pengembangan radio komunitas. Fungsi radio komunitas digunakan Bali Buja untuk tujuan memperluas jaringan dan menjangkau khalayak. Keterbatasan akses pada media arus-utama adalah alasan Bali Buja untuk menempuh jalur media komunitas sebagai media alternatif. Pertimbangan lain pemilihan media komunitas adalah alasan finansial. Radio Komunitas Bayat (RKB) adalah media komunitas pertama yang diajak untuk berkolaborasi karena memiliki semangat yang sama dengan Bali Buja. Berangkat dengan sama-sama memenuhi kebutuhan komunitas dan keinginan untuk melestarikan budaya, RKB kemudian menjadi mitra awal Bali Buja dalam menyiarkan konten ekspresi kesenian. Pengelola RKB juga sekelompok seniman.
Kontribusi yang menguntungkan dari kerjasama RKB adalah bertambahnya jaringan kelompok seni yang dimiliki Bali Buja. Keberadaan Bali Buja dan misi pelestarian budaya perlahan mulai semakin dikenal oleh warga Kabupaten Klaten. RKB dikenal oleh warga Klaten khususnya daerah Bayat karena perannya dalam menyiarkan konten-konten seni dan budaya. RKB telah menjalin kerjasama dengan beberapa dalang di Klaten untuk mendapatkan hak siaran langsung ataupun merekam pertunjukan wayang secara audio untuk kemudian ditayangkan dengan sistem siaran tunda. Karena kesamaan visi dan misi antara Bali Buja dan RKB, kemudian kolaborasi secara kooperatif diwujudkan untuk kebutuhan target khalayak Bali Buja.
Sebagai konsekuensi dari keinginan untuk meraih khalayak yang lebih luas, Bali Buja mempertimbangkan penggunaan teknologi media seperti internet. Radio komunitas memang menjadi pilihan awal untuk menjangkau komunitas yang lebih banyak, khususnya yang menjadi target masyarakat di area lokasi yang tidak jauh dari Desa Tlogo, Klaten. Namun demikian, keterbatasan menjangkau komunitas yang tidak berada di area Desa menjadi salah satu pertimbangan Bali Buja untuk memanfaatkan teknologi yang lebih maju. Sebagai tambahannya, sebuah akun kanal dari platform YouTube yang telah ada sebelumnya yaitu Galuh Prambanan TV digunakan untuk menyebarluaskan siaran dari Bali Buja. Tidak hanya menggunakan media YouTube, Bali Buja juga mengelola akun media sosial Facebook sebagai sarana berbagi konten dengan nama akun Galuh Prambanan Televisi. Dalam bab selanjutnya pada laporan penelitian ini, peneliti mengkaji bentuk pemilihan media komunitas dan pengelolaanya.
Kreativitas Komunitas Budaya
Bali Buja memberikan ruang berekspresi kesenian untuk semua jenis seni. Seperti yang diungkap sebelumnya, Bali Buja dominan memberikan ruang bagi seni karawitan. Namun demikian, mereka juga peduli untuk memunculkan inovasi terhadap ekspresi kesenian di luar seni karawitan. Dalam pengamatan peneliti, Bali Buja juga mengadakan pertunjukan sendratari dengan tujuan memberikan kesempatan bagi seniman muda. Untuk mereka, ruang berekspresi bagi seniman muda merupakan salah satu bentuk upaya yang tidak kalah pentingnya untuk pelestarian seni tradisi.
"Pertama.. Dari Sanggar sanggar.. Sanggar itu seperti prajenan.. 1 sanggar itu mempunyai 12 anggota 12 nama klub.. 1 sanggar itu punya punya namanya satu apa a b c c.. jadi 12 ada.. Pernah 12 itu siaran di sini semua.. Tapi secara bergantian setiap malam Kamis lho ya.. tapi cuman yang yang yang yang jadi masalah kalau itu kan biasanya kan pelatihnya harus sama berarti kayak kita oplos.. Kita oplos tidak hanya monoton itu terus gitu lho.. Masalahnya kalau monoton kok yang lihat cuma ya itu saja.. Masa pengendangnya cuma itu.. Nah itu dari komunitas sanggar... Terus yang kedua dari desa atau kampung... nah dari kampung katakan.. Kampung A.. Kampung A ada 100 KK.. yang seneng karawitan itu 30.. 30 orang terus dikumpulkan 30 orang.. Tapi mengatasnamakan desa A gitu.. Terus ngundang pelatih sama pesinden.." (Sentot)
Bali Buja sebagai paguyuban berperan dalam mengumpulkan komunitas-komunitas seni yang memiliki kesamaan visi. Mereka memberikan ruang bagi komunitas yang merasa membutuhkan sarana berekspresi. Kesenian yang ditampilkan oleh penggerak seni dan budaya lebih dari sekadar menunjukkan keindahan, melainkan terhadap pesan yang ingin disampaikan dalam setiap konten.
Seni musik Jawa seperti karawitan menjadi bagian alat komunikasi masyarakat. Kesenian berupa gamelan Jawa atau karawitan merepresentasikan budaya Jawa dengan cara yang tidak dimiliki musik pada umumya (Pradana, 2021). Tembang Jawa sebagai aset budaya memiliki dampak sosial budaya, gamelan Jawa yang digunakan untuk melantunkan Karawitan pada pernah menjadi bagian media dakwah yang kemudian menjadi bagian dari identitas budaya Jawa (Udin et al., 2018; Wurianto, 2018). Tembang merupakan bentuk karya kreatif yang memadukan sajak dan lagu. Setiap tembang yang diciptakan memiliki maksud tertentu (Geertz, 1976), seperti sinom yang bernada moral dan ramalan. Kemudian bentuk dandang-gula yang berfungsi untuk pendidikan. Tembang kinanti yang diketahui bernada cinta. Lahirnya tembang-tembang yang mengandung beragam makna dan pesan spiritual, jika digaungkan dan kemudian disiarkan oleh penampil memberikan energi tersendiri bagi komunitas (Kartomi, 1973). Sehingga, alih-alih berharap atas keuntungan finansial, komunitas yang bergabung dengan Bali Buja cenderung untuk 'melampiaskan' keinginan dalam berbagi perasaan. Semangat untuk berkumpul, berbagi roso, rasa nyaman antar anggota menjadi landasan untuk guyub.
Istilah "karawitan" memiliki definisi yang luas. Semua pengelompokan alat musik yang menjadi bagian dari karawitan digolongkan menjadi gamelan (Hatch, 1979). Istilah "gamelan" digunakan untuk menggambarkan berbagai macam ansambel musik yang pernah dianggap sebagai bagian dari genre karawitan. Etimologi kata "gamelan" ini masih belum jelas. Dalam musik Jawa, nama "gamelan" telah menggantikan frasa Jawa Kuno "gendhing", "tabuhan", "tatabuhan" dan "tabeh-tabehan" sebagai deskripsi kegiatan pembuatan suara termasuk penggunaan pemukul atau palu. Dalam perspektif sistem gendhing, karawitan menurut Becker (2019) adalah praktek menciptakan suara melalui penggunaan sistem tuning slendro dan pelog. Karawitan mengacu pada harmonisasi musik vokal atau instrumental (gamelan) yang menggabungkan slendro dan pelog. Karawitan merupakan salah satu budaya Jawa yang berkembang sebagai jawaban atas tuntutan dan keinginan selera estetika musik masyarakat pendukungnya. Karawitan menjadi manifestasi dan kristalisasi dari rasa estetika masyarakat Jawa. Sistem nilai dan pengalaman sejarah masyarakat Jawa pada akhirnya membentuk identitas Jawa yang tergambar melalui musik Karawitan (Daryanto, 2019).
Gamelan adalah musik tradisional Jawa yang juga sangat dinamis. Pada dasarnya gamelan memiliki peralatan dengan jenis yang tidak terlampau sulit diingat, alat utamanya bisa berupa rebab, saron, gambang, gong. Rebab dikenal sebagai 'koordinator' utama dari permainan gending. Ada sebuah cerita dan literatur yang turut mendukungnya, bahwa ketika pengrawit akan digantikan dengan pemain instrumen lainnya dapat langsung melanjutkan irama di-tengah permainan sebuah tembang.
<figure> <img src="media/image12.gif" style="width:3.2299in;height:1.82178in" alt="A picture containing person, indoor Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106015603" class="anchor"></span>Gambar 4.10 Niyaga Perempuan (Penabuh Gamelan) di Bali Buja<br /> Sumber: Dokumentasi Peneliti</p></figcaption> </figure>
Hal ini juga diungkapkan oleh Geertz (1976) yang menyebutkan gamelan merupakan sebuah paduan irama musik yang meskipun terlihat kompleks karena beragamnya nama peralatannya, namun, sebenarnya inti utama gamelan ada musik tabuhan. Esensi dari musik gamelan adalah kebersamaan, sesama bisa merasakan tabuhan yang dibuat, kemudian bersimpati satu sama lain.
Gamelan baik ketika dimainkan ataupun didengarkan merupakan sebuah disiplin spiritual (Geertz, 1976). Permainan gamelan yang lebih sering dimainkan di malam hari, pada dasarnya adalah sebagai ajang berlatih kedisiplinan dan pengendalian diri. Masyarakat Jawa, meyakini kekuatan mendengarkan musik gamelan adalah ketika dapat ikut merasakan kemudian dengan irama yang halus, secara psikologis membawa diri untuk lebih alus. Dalam bagian sebelumnya peneliti menyebutkan bahwa toleransi menjadi 'bungkus' utama dari pertunjukan seni. Ketika masyarakat tradisional Jawa begitu semangat merangkai upaya pelestarian seni tradisional, pada dasarnya tidak hanya terkait ketahanan budaya dan bagaimana mempersiapkan diri mereka ketika bertemu dengan era globalisasi. Melainkan, permainan gamelan difungsikan sebagai bagian alat mindfulness, sebagai ajang media masyarakat Jawa untuk lebih bisa melakukan evaluasi diri. Gamelan yang dimainkan pada malam hari juga memiliki tujuan. Salah satu tujuan memainkan alat gamelan pada malam hari adalah untuk melatih emosi baik pengendalian diri dan disiplin.
Dalam konteks gamelan sebagai bidang seni musik Jawa, dikenal dengan konsep garap. Garap menjadi bagian yang disebut penting dalam gamelan karena akan memberikan warna, kualitas, karakter, serta sosok dari gending. Vokal dan karya kreatif dari instrumen akan menghasilkan bentuk gending. Garap merupakan rangkaian upaya kreatif baik seseorang ataupun kelompok musisi untuk membentuk komposisi musik yang menghasilkan bentuk (bunyi), dengan kualitas tertentu untuk maksud, kebutuhan, dan tujuan penyajian musik (Supanggah, 2009). Menurut Sumarsam (2002), garap adalah konsep memainkan pola melodi secara kooperatif dan kolektif, dengan setiap pemain karawitan menafsirkan balungan (alat gamelan yang menghasilkan melodi). Setiap pengrawit memiliki keleluasaan dalam menafsirkan atau mengubah balungan. Konsep ini sejalan dengan kreativitas dan inovasi. Gamelan dan pengrawit mencerminkan prinsip gending yang mampu beradaptasi.
Hal ini juga serupa dengan pertunjukan seni dan budaya selain seni karawitan, karena atas dasar kebutuhan masyarakat, sehingga pemilihan konten yang ditampilkan tentu tidak sembarang atau asal-asalan. Sebagai bagian dari ekspresi seni dan budaya, aktivitas Bali Buja merupakan internalisasi kebudayaan seperti yang diungkapkan oleh Peursen (1976), kebudayaan merupakan endapan dari aktivitas serta karya manusia. Seniman menciptakan karya dengan dibekali dengan pengetahuan keilmuan yang didukung kreativitas. Olahan antara wawasan dan kreatif akan melahirkan karya seni yang memiliki nilai baru.
Bali Buja menerapkan pola konsep garap termasuk dalam pemilihan konten tembang ataupun judul pertunjukan dalam kegiatan seni selain karawitan. Misalnya, judul cerita yang akan dipilih dalam pertunjukan wayang kulit atau wayang orang, akan disesuaikan dengan tren ataupun issue yang sedang berkembang di masyarakat. Untuk jenis seni cokekan, sebuah kegiatan seni yang lebih dekat dengan tujuan spiritual, pesan yang disampaikan pun menjadi lebih spesifik lagi.
Bali Buja dalam aktivitas berkesenian menggunakan landasan konsep form follows meaning, sebuah konsep penciptaan karya seni bermakna yang diabadikan dari pengalaman spiritual atau religius (Ruttonsha, 2016; Sunarya, 2005). Bali Buja menerapkan kebebasan berkreasi dalam menampilkan tembang yang akan disajikan. Peserta kegiatan Bali Buja akan memastikan pesan dan makna apa yang akan ditampilkan kepada masyarakat melalui tembang-tembang. Namun demikian, ada pula arahan dari pengelola Bali Buja untuk menampilkan sebuah tembang wajib, yaitu tembang berjudul Lir Ilir.
Peneliti melihat peran Pak Djaetun dan Pak Sentot sebagai relawan donor dan juga anggota Bali Buja sebagai penentu arah konten Bali Buja. Beberapa tembang dipilih secara khusus oleh Pak Djaetun. Pemilihan tembang Lir Ilir sendiri juga dilatarbelakangi pengalaman spiritual. Misalnya pilihan tembang seperti Lir-Ilir yang selalu diupayakan untuk hadir dalam setiap penampilan.
Lir Ilir memiliki sejarah khusus bagi masyarakat Jawa, khususnya dikaitkan dengan aktualisasi nilai masyarakat Jawa. Pesan filosofis yang disampaikan oleh lagu Jawa Lir-Ilir adalah bahwa masyarakat Jawa harus selalu menjaga kesadaran berdasarkan tingkat keimanannya. Secara aksiologis, tembang Jawa Lir-Ilir mengandung nilai intrinsik yaitu nilai religi dan nilai instrumental, yang meliputi nilai budaya, sosial, nilai moral, dan analisis kritis tentang bagaimana nilai diaktualisasikan dalam masyarakat Jawa (Tavini, 2021). Untuk masyarakat Jawa di Demak, tembang Lir Ilir atau Ilir-Ilir adalah lagu gubahan Sunan Kalijaga untuk menjalan misinya yaitu memperkenalkan Islam di Jawa (Pebrianti, 2013). Pradjapangrawit memaparkan gagasan Sunan Kalijaga menggunakan gamelan karena dianggap sebagai warisan Jawa dan yang disukai orang Jawa (Pradjapangrawit, 1990). Pandangan pemilihan lagu khusus oleh informan lebih kepada alasan yang subjektif dari Bali Buja. Pemilihan tembang Lir Ilir didasarkan karena minat pribadi. Khalayak Bali Buja merasakan 'roso' yang berbeda ketika menikmati tembang tersebut, ada rasa nyaman dan rasa teduh yang mereka rasakan.
Gamelan dan seni karawitan menjadi jenis seni diunggulkan Bali Buja. Di samping itu, gamelan juga digunakan sebagai pengiring untuk kreativitas wayang kulit. Wayang kulit, sebuah pertunjukan seni yang digemari warga Klaten juga mendapatkan ruang dan perhatian bagi Bali Buja. Pada awalnya, Bali Buja juga pernah mengelola beberapa dalang untuk dipersiapkan tampil dalam pentas wayang kulit. Secara bergantian mereka memberikan kesempatan kepada dalang senior dan dalang muda. Aktivitas wayang kulit juga disiarkan melalui media komunitas. Tentu saja ini menjadi daya tarik bagi dalang yang akan tampil ataupun masyarakat luas. Jika sebelumnya masyarakat Klaten hanya mendapatkan siaran dari dalang-dalang yang dikenal, melalui siaran media komunitas ini kesempatan untuk mengenali dalang-dalang muda yang berpotensi menjadi terkenal.
Namun demikian, khalayak juga tidak kemudian serta merta memberikan respon positif untuk aktivitas wayang kulit bersama dalang muda. Salah satu evaluasi yang mendapatkan perhatian dari khalayak adalah penguasaan dan kesiapan dari dalang muda. Kurangnya latihan, kurangnya pendalaman cerita, dan jam terbang untuk "ndalang" yang masih minim menjadi kendala bagi dalang mudah untuk mendapatkan sambutan yang lebih banyak dari masyarakat.
"Karena dapat kritikan banyak.. Bahwasanya kita ya waktu itu sebenarnya untuk ajang berani ujicoba gitu yo.. Ternyata banyak yang mentah.. Jadi ya kita.. Ya diselingi setahun dulu.. Nanti mungkin mudah-mudahan dia sudah mulai mateng.. Selama 2 tahun.. Ada 24 dalang.. "
Seperti yang diungkapkan oleh Pak Djaetun, pelaksanaan kegiatan wayang kulit bersama sekelompok dalang muda kemudian dihentikan terlebih dahulu untuk proses evaluasi. Oleh karena itu, kemudian solusi untuk keberadaan kegiatan wayang kulit dengan mengutamakan penampilan dalang senior.
Perkembangan pergerakan Bali Buja untuk seniman muda mendapatkan respon positif dari masyarakat. Seperti yang telah diungkap di atas, mereka bekerjasama juga dengan sekelompok seniman muda yang memiliki minat terhadap tari tradisional. Kegiatan sendratari termasuk menjadi aktivitas yang sering dilaksanakan oleh Bali Buja. Keterlibatan merek salahsatunya diwujudkan dalam sendratari berjudul "Jonggrang Love Story". Sebuah cerita yang berlatarbelakang kisah cinta Roro Jonggrang.
Inovasi adalah hal utama yang selalu menjadi acuan Bali Buja dalam berkesenian. Sebagai contoh, cerita Roro Jonggrang yang ditampilkan Bali Buja pun memiliki alur yang sedikit diubah dari cerita yang telah lama dikenal masyarakat. Pengembangan cerita disebut sebagai bukti inovasi mereka. Mereka merancang ulang cerita dan mengemas versi dengan sudut pandang yang berbeda untuk mendapatkan alternatif pemahaman dan makna dari masyarakat. Bali Buja sadar bahwa pengolahan cerita yang berbeda untuk kisah legenda "Roro Jonggrang" akan memunculkan ragam respon. Lebih-lebih lagi, tidak jauh dari lokasi Bali Buja yaitu Prambanan, masyarakat luas sudah mengetahui bahwa ada kegiatan rutin sejenis yang relatif lama telah dilaksanakan oleh pengelola Candi Prambanan. Untuk menunjukkan bahwa kisah yang ditawarkan Bali Buja berbeda sudut pandang, mereka berupaya mengadakan beberapa strategi. Misalnya diskusi dengan akademisi, memperkenalkan cerita alternatif kepada tour guide, dan mendokumentasikan melalui teknologi media.
Bali Buja peduli terhadap penyajian konten kesenian. Mereka dengan cermat memilih jalur teknologi media yang tepat untuk menyiarkan aktivitas beragam seni tradisional yang dikelola. Untuk tujuan tersebut, Bali Buja menggunakan sarana media komunitas. Dalam bab sebelumnya telah disebutkan media komunitas merupakan sebuah media yang lahir atas kemandirian masyarakat dalam melahirkan konten-konten sebagai bentuk alat representasi diri kelompok komunitas. Sebagai bagian dari mobilitas sosial, komunitas kemudian memanfatkan media komunitas untuk menyempurnakan tujuan dan visinya dalam 'berekspresi'. Dalam konteks berekpresi kesenian dan ketahanan budaya, seniman-seniman lokal yang tergabung dalam pengelola Bali Buja kemudian berupaya melahirkan solusi dari optimalisasi teknologi berbasis internet. Alih-alih menggunakan sarana yang telah disiapkan oleh pemerintah misalnya melalui akses televisi nasional, televisi lokal ataupun radio siaran pemerintah daerah, komunitas memilih untuk bergerak menggunakan jalur independen. Hal ini dibangun berdasarkan semangat lokalitas dan gairah pribadi dari pengelola media komunitas. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, kelahiran Bali Buja ini terbentuk karena gairah dan semangat untuk berbagi kebaikan oleh inisiator Bali Buja. Tidak terpusat kepada keinginan untuk mendapatkan keuntungan atas siaran-siaran kesenian yang ditampilkan oleh Bali Buja, tetapi lebih kepada membuka jalur kebaikan atas rasa bahagia yang muncul dari setiap penampil.
Jika sebelumnya pertunjukan kesenian hanya dapat disaksikan dalam bentuk panggung-panggung terbuka yang terbatas dapat dikonsumsi oleh warga sekitar. Namun, keberadaan teknologi membantu Bali Buja untuk menunjukkan inovasi kepada warga yang lebih luas. Hasil olahan seni tersebut kemudian disiarkan dengan dukungan teknologi media. Inovasi yang ditempuh Bali Buja adalah upaya untuk mendekatkan seni tradisional bagi generasi muda. Adaptasi dengan penggunaan teknologi merupakan bagian ketahanan budaya. Mereka meyakini bahwa kehadiran teknologi tidak mengurangi makna dan esensi dari kesenian tradisional. Untuk satu hal, teknologi media justru memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendefinisikan ulang 'anggota komunitas'. Dengan kata lain, jika sebelumnya mereka lebih fokus kepada komunitas warga di sekitar lokasi penampilan Bali Buja. Melalui teknologi, mereka akan lebih luas menjangkau komunitas masyarakat Jawa yang tersebar di lintas batas geografis. Teknologi digital memungkinkan kondisi tersebut.
Ketahanan budaya dapat direalisasikan melalui kolaborasi kooperatif antar anggota komunitas seni. Ketika generasi yang dianggap senior masih belum mengenal teknologi terkini, mereka pun memanfaatkan generasi muda yang cenderung lebih mahir mengoperasikan beragam peralatan pendukung siaran. Celah yang terjadi antara seniman senior dan yang lebih muda kemudian diarahkan kepada kesamaan tujuan Bali Buja. Partisipasi dalam Bali Buja dilaksanakan untuk melestarikan budaya dan tradisi yang mereka sebut dengan nguri-uri budoyo. Seniman muda dengan segala potensinya berupaya untuk menjaga eksistensi ekspresi seni dan budaya dengan memaksimalkan teknologi media yang menjadi penguasaannya. Hal ini ditunjukkan oleh pengelola radio komunitas yang memulai usahanya dengan menyiarkan secara live streaming pertunjukan wayang kulit, jika tidak secara langsung disiarkan, pengelola radio komunitas seperti RKB menggunakan cara dengan melakukan rekaman siaran wayang, kemudian disiarkan ulang melalui siaran khusus di RKB. Strategi yang dilakukan RKB kemudian dikembangkan Bali Buja untuk menyiarkan secara langsung kesenian karawitan.
Setiap unsur seni membawa simbol dan makna yang berbeda-beda, namun kesamaan yang didapat dari beragam unsur seni tersebut adalah nilai kearifan lokal seperti keluhuran budi. Tidak dipungkiri, nilai sejarah yang terkandung dalam ekspresi kesenian tradisional digunakan oleh masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Setiap seni yang digelar Bali Buja, selalu mengutamakan kepada landasan filosofi Jawa yang menjadi identitas anggota Bali Buja sebagai masyarakat Jawa. Secara selektif, Bali Buja menyoroti konten yang akan ditampilkan secara luas kepada masyarakat, misalnya menyoroti tembang-tembang yang akan dilantunkan melalui gending, cerita wayang yang akan ditampilkan harus memiliki bobot dan nilai kebaikan yang dapat dipelajari oleh khalayak.
Selama penelitian, peneliti juga mengamati beberapa perangkat gamelan yang memang disiapkan secara khusus oleh pengelola Bali Buja. Perangkat gamelan yang menjadi bagian utama untuk seni karawitan dan gending pengiring dalam wayang kulit serta sendratari, dijaga dan dirawat secara khusus. Perangkat gamelan yang digunakan oleh Bali Buja dimiliki oleh Bapak Djaetun sebagai inisiator Bali Buja.
Peran Bapak Djaetun sebagai inisiator Bali Buja dapat dikategorikan sebagai aktor yang berperan dalam menghimpun masyarakat, yaitu anggota komunitas Bali Buja. Berdasarkan hasil wawancara, salah satu alasan Bapak Djaetun dalam membangkitkan kesenian adalah tidak lain untuk memberikan kesempatan kepada warga sekitar dapat berekspresi. Esensi yang dipegang oleh Bapak Djaetun adalah nilai-nilai kebaikan. Sehingga, makna nguri-nguri budaya justru disebut sebagai bukan tujuan pertama. Tujuan utama membangun dan mengembangkan Bali Buja adalah sebagai sarana berbagi dan berekspresi bersama atas dasar kesamaan kesenangan yaitu menikmati seni dan budaya. Pak Djaetun menilai nilai kebaikan terlihat ketika anggota masyarakat senang dalam menikmati kesenian dan juga tampil memainkan kesenian.
Kooperatif komunikasi yang terjadi di dalam Bali Buja terbangun karena semangat kebersamaan untuk menikmati seni dan budaya. Sama halnya ketika generasi muda yang dengan mudahnya dapat mengkonsumsi musik-musik yang sesuai trend, beberapa kalangan masyarakat Jawa melihat seni dan budaya yang disajikan melalui tembang Jawa, irama gending, irama karawitan, cerita wayang, cerita sendratari, seni tari merupakan 'passion' kreativitas warga Jawa. Sama-sama tidak ingin 'kenyamanan' yang didapatkan dari kesenian itu, sehingga komunitas berupaya untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Langkah Bali Buja kemudian menjadi terlihat diferensiasinya ketika dibandingkan dengan beberapa gerakan kesenian yang serupa. Berdasarkan catatan peneliti, di Klaten tercatat terdapat beberapa seniman wayang yang telah memiliki kanal khusus di YouTube. Beberapa usaha pemerintah daerah Klaten juga diwujudkan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan seni yang menjadi media hiburan bagi masyarakat Klaten. Namun, apa yang kemudian menjadi perbedaan yang terlihat? Gerakan komunitas selain Bali Buja merupakan sebuah usaha mainstream oleh seniman-seniman yang sudah dikenal banyak orang. Ketika seniman yang sudah terkenal kemudian diberikan panggung akan menjadi nilai yang berbeda jika yang tampil adalah kelompok-kelompok seni yang 'masih belajar' dan bahkan tidak ada tujuan utama untuk menjadi terkenal dan memperoleh profit.
Jika menggunakan istilah dari musik yang dianggap tidak sesuai pakem atau tren yang dikenal dengan alternatif, begitulah dengan gerakan ketahanan budaya yang dikembangkan Bali Buja. Kelompok-kelompok seni yang tidak memiliki kesempatan tampil dalam media mainstream, baik itu berupa media konvensional, ataupun panggung bebas, kemudian diberikan ruang di Bali Buja. Jika dibandingkan dengan seniman-seniman yang telah berhasil tampil dalam media arus utama tentu dianggap memiliki kualitas yang kurang baik. Namun kelompok seni tersebut, tanpa perlu mengakui kekurangan mereka, tetap berusaha untuk tampil menggunakan perangkat kesenian untuk berekspresi. Di balik semangat mereka untuk tampil di Bali Buja, tidak lain adalah berusaha untuk menularkan atau berbagi. Bagi kelompok tersebut, ketika berhasil memainkan sebuah tembang, merupakan bentuk pelampiasan atas keinginan untuk berbagi. Semangat ini selaras dengan semangat 'alternatif' dan semangat 'komunitas' yang tidak melihat benefit atas profit finansial. Namun, ketika kesempatan berbagi ekspresi kebahagiaan dan menyampaikan pesan keluhuran budi atas budaya menjadi tersalurkan.
Masyarakat yang hidup dan berkembang dalam sebuah 'komunitas' cenderung memiliki niat tulus. Hal ini, memang menjadi kekuatan atau modal tersendiri bagi komunitas ketika mengembangkan sebuah organisasi, seperti media komunitas. Namun demikian, tetap kendala administrasi ataupun teknis akan dihadapi oleh pengelolanya. Sebagai contoh, dalam radio komunitas, kendala yang akan dihadapi yaitu ketersediaan dan kesiapan sumber daya manusia dan problem finansial. Kemungkinan untuk mendapatkan bantuan berupa dana tentu dapat diupayakan, namun pengelola harus tetap dengan teliti siapa donatur yang memberikan termasuk tujuan. Independensi menjadi ciri khas dari media komunitas, untuk alasan tersebut pengelola akan bertahan menjaga identitas dan visi media komunitas. Sebaliknya, jika modal muncul dari pemberdayaan anggota seperti iuran anggota komunitas ataupun relawan donatur dari anggota komunitas menjadikan kontribusi yang riil bagi media komunitas.
Pergerakan Bali Buja dalam mengelola komunitas juga dilandasi semangat kebersamaan dan utamakan modal sosial. Partisipasi masyarakat untuk Bali Buja yang ditunjang ketersediaan dan dukungan dari relawan donatur memberikan kemudahan untuk mereka dalam mengembangkan berbagai inovasi. Kolaborasi antara masyarakat atau anggota komunitas sebagai kreator konten dan relawan donatur sebagai pendukung fasilitas, kemudian menghasilkan infrastruktur yang layak untuk proyek ketahanan budaya. Inisiator Bali Buja dan pengelola komunitas fokus kepada infrastruktur, sedangkan anggota komunitas berupaya mempersiapkan konten dan penampilan terbaiknya. Tidak ada aturan resmi dalam mengembangkan komunitas, sehingga modal sosial yang dikumpulkan oleh anggota komunitas menjadi bentuk nilai tambah bagi eksistensi komunitas.
Kebersamaan yang dibangun oleh komunitas Bali Buja, di mana didalamnya terdapat orangtua yang dianggap sesepuh kemudian sebagian anggota yang mewakili generasi muda, terjalin sebagai perwujudan sifat sejati orang Jawa yang oleh Benedict Anderson (1965) disebut sebagai toleransi. Toleransi dapat diajarkan dengan berbagai cara. Bagi Bali Buja, seni karawitan adalah perwujudan seni asli gamelan Jawa yang kemudian dianggap sebagai strategi baik dalam mengajarkan toleransi. Tidak hanya untuk tujuan pelestarian budaya dan menghibur penikmatnya, tetapi untuk para pemain karawitan, toleransi dapat diwujudkan melalui paduan irama yang dihasilkan. Setiap pertunjukan karawitan akan menuntut para pemain gamelannya untuk secara kooperatif memadu harmoni untuk tujuan pencapaian musik standar estetika karawitan Jawa. Di dalam gamelan terdapat istilah laras. Laras merupakan bentuk penanda sebagai pencapaian harmoni dari seluruh pemain gamelan. Keterpaduan nada dapat ditunjukkan dengan besar kecilnya teknik memukul alat musik karawitan. Setiap jenis alat tabuh atau gending tidak dengan sembarang dapat dipukul.
4.3Peran Aktor Sosial dalam Bali Buja
Pada suatu malam pertunjukan. Di tengah kesibukan aktivitas komunitas Bali Buja, peneliti bertemu dengan Bapak Djaetun. Pak Djaetun yang merupakan inisiator sekaligus disebut sebagai relawan komunitas dan donatur memang berupaya untuk menyempatkan hadir dalam setiap pertunjukan seni yang ditampilkan. Di balik perjalanan Bali Buja, sosok Bapak Djaetun dianggap memiliki peran yang signifikan.
Jika sebelumnya telah dilakukan pendalaman terkait tujuan Bapak Djaetun dalam menyokong kegiatan Bali Buja. Kali ini, peneliti akan melihat ketulusan dan keikhlasan dari sosok senior bidang kesenian dan kebudayaan. Latar belakang beliau sebelumnya adalah pebisnis yang besarkan perusahaan di Jakarta. Setelah merasakan keadaan perusahan dapat ditinggalkan untuk diteruskan sang putra, Bapak Djaetun memilih untuk 'kondur' atau pulang ke tanah kelahiran, tempat beliau dibesarkan yaitu Klaten. Layaknya sosok profesional dari daerah yang kemudian memilih berjuang di Ibukota, terdapat 'rasa ingin kembali' pulang ke daerah, ketika tujuan utama untuk bekerja di Ibukota sudah dirasakan cukup. Artinya, ketika masa puncak kesuksesan dan keinginan mendapatkan sesuatu sudah terpenuhi, seseorang akan lebih memilih kembali untuk pulang kampung.
Begitu juga dengan sosok Bapak Djaetun, beliau memilih untuk kembali ke Klaten dengan tujuan 'mbangun deso'. Terlahir sebagai sosok manusia Jawa yang kental dengan keyakinan 'kejawen'-nya. Namun, juga mempelajari multi-kultural yang berkembang di Indonesia. Posisi spiritual beliaulah yang kemudian secara tidak langsung memberikan roso atau rasa terhadap setiap keputusan dan kebijakan yang diwujudkan melalui Bali Buja. Kecintaan terhadap seni dan budaya, diwujudkan dengan mengelola sebuah paguyuban yang memberikan payung besar bagi kelompok-kelompok seni terpinggirkan. Alih-alih bekerjasama dengan seniman yang telah memiliki nama di Klaten, Pak Djaetun cenderung untuk memberikan sarana ekspresi kesenian bagi kelompok seni yang selama ini tidak mendapatkan kesempatan di media komunikasi arus-utama.
"Jadi saya ingin memberikan pesan kepada dunia itu keberhasilan itu jangan dilihat akhir, tapi lihatlah sebelumnya. Mengapa orang itu berhasil, mengapa bagaimana. Itu sebenarnya mas yang ingin saya utarakan" (Djaetun)
Pak Djaetun melalui aktivitas Bali Buja juga memberikan gambaran kepada masyarakat khususnya kelompok seni yang masih belajar dan belum dikenal banyak orang bahwa proses merupakan bagian dari kehidupan dan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Bali Buja dibentuk dan dikembangkan menjadi bagian tempat belajar bagi kelompok seni untuk berekspresi. Salah satu yang diwujudkan dalam aktivitas Bali Buja adalah pertunjukan wayang kulit yang diisi dengan dalang-dalang muda. Meskipun dalam perjalanan mengalami banyak pro kontra ataupun keluhan dari khalayak, namun, melalui aktivitas tersebut dalang pun juga menjadi berkembang. Umpan balik dari masyarakat menjadi pemicu bagi seniman muda yang masih terus berproses.
Proses komunitas Bali Buja digambarkan dengan ungkapan filosofi Jawa yaitu ngeli ning ora keli (mengikuti arus tetapi tidak hanyut dengan keadaan). Faruk (2020) menjelaskan bahwa ngeli ning ora keli adalah sikap orang Jawa terhadap perubahan, yang dapat dipahami sebagai sikap menerima perubahan tanpa mengorbankan jati diri. Tata cara ngeli ning ora keli ini merupakan upaya untuk menggali lebih jauh kehidupan warga Bali Buja selama menjalankan aktivitas seni dan budaya. Keputusan Bapak Djaetun dalam mengelola Bali Buja ditunjukkan dengan pendalaman keyakinan nilai-nilai kearifan lokal dari Jawa seperti ngeli ning ora keli. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, meskipun memberikan tempat bagi budaya asing untuk masuk ke masyarakat, ternyata menjadi salah satu bagian inovasi untuk tujuan ketahanan budaya.
Berangkat dari pengalaman mengembangkan bisnis di Ibukota, kemudian Pak Djaetun untuk menerapkan inovasi melalui penggunaan teknologi bagi pengembangan aktivitas kesenian di Klaten. Berdasarkan pengamatan peneliti, tidak sedikit anggaran ataupun investasi yang disiapkan untuk mendukung aktivitas Bali Buja. Ketertarikan untuk mendalami tujuan dan niat tulus Bapak Djaetun menjadi salah satu alasan peneliti untuk semakin menyelami dan 'merasakan' apa yang sebenarnya menjadi motivasi utama.
Sebuah argumen yang disampaikan Bapak Djaetun memberikan gambaran bahwa niatan utama dalam mengelola Bali Buja adalah kepedulian terhadap seniman-seniman lokal yang dianggap melarat atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Karena anggaran itu tidak ada kaitannya dengan pemerhati atau kemudian pelestari.. Nggak ada.. Kaitannya saya kemudian hanya saya ingin membuat seneng banyak orang.. Nah.. banyak orang itu diantaranya adalah Seniman.. Itu sebenarnya saya di situ.. Karena saya melihat Seniman itu yang paling melarat hidupnya.. Sebagian besar.. Jangan yang top top jangan.. Seniman terutama karawitan itu melarat sebagian besar.. Nah yang perlu saya openi" (Djaetun)
Seperti yang juga disampaikan oleh Pak Sentot, koordinator Bali Buja. Bahwa keinginan utama dari Bapak Djaetun adalah bentuk pengabdian untuk masyarakat di sekitar tempat kelahiran. Keinginan untuk membuat banyak orang senang diwujudkan dengan cara memberikan modal (baik modal sosial ataupun anggaran) kepada kelompok seniman yang terpinggirkan atau belum dikenal banyak orang. Beberapa kali Bapak Djaetun menyebutkan (dengan kerendahan hati) bahwa beliau bukan sosok pemerhati budaya dan pelestari budaya.
Niatan untuk menolong sesama ditunjukkan oleh Bapak Djaetun tidak hanya melalui memberikan fasilitas kepada seniman. Hal lain yang menjadi perwujudan beliau yaitu dengan membeli seperangkat gamelan. Berdasarkan pernyataan beliau, Bapak Djaetun memiliki seperangkat gamelan berjumlah lima. Itupun dibeli bukan tujuan koleksi. Karena pada dasarnya seperangkat gamelan pun dianggap sudah cukup. Namun, keinginan dalam menolong orang lain adalah salah satu alasan beliau. Salah satu cerita yang diungkapnya adalah ketika membeli seperangkat gamelan dari sosok pembuat gong yang sudah sepuh di Solo dan mengaku sedang terdesak karena memiliki sakit stroke. Karena niatan utama adalah untuk membantu, sehingga Pak Djaetun memutuskan seperangkat gamelan.
"Tujuan saya membuat senang banyak orang.. Yang sering berikan kepada siapapun.. Manusia yang paling manusia.. Utama..utomo utomoning menungso.. Sebenarnya manusia yang paling mulia..itu seperti beriman seperti Muhammad bekerja seperti Yesus dan mencari Tuhan seperti Siddharta.. Di dalamnya harus ada.. Selain beriman... kan beramal.. Amalan-amalan soleh.." (Djaetun)
Sebuah filosofi Jawa yang Bapak Djaetun pegang untuk lebih banyak menolong orang lain adalah utomoning menungso, yang memiliki arti yaitu keutamaan dari manusia utama adalah membantu sesama. Beliau memberikan gambaran seperti kehidupan Nabi Muhammad, Yesus dan Siddharta. Selain keimanan yang kuat, keinginan beramal baik merupakan landasan utama untuk Bapak Djaetun dalam menjalani kehidupan.
Dari pernyataan Bapak Djaetun, peran aktor sosial dalam Bali Buja diimplementasikan melalui konsep utomoning menungso sebagai taksu dalam pengelolaan amal baik dan pemberdayaan kelompok seni. Taksu merupakan istilah yang berarti daya atau kekuatan atau aura mengubah pola pikir peserta seniman lokal di Klaten. Keinginan untuk berbuat amal sebanyak mungkin menjadi landasan utama Bapak Djaetun. Sebagai sosok yang dianggap sesepuh di wilayah tinggal dan berpengaruh menciptakan kepercayaan bagi kelompok-kelompok seni untuk berkontribusi. Meskipun tidak menjadi bagian dari pemerintahan, namun, dengan taksu yang diterapkan dapat membuat masyarakat Klaten secara sukarela berkesenian.
Beberapa kegiatan kesenian didorong Pak Djaetun, yaitu mulai dari pertunjukan wayang kulit, seni karawitan, kesenian daerah keroncong, wayang orang, festival gerobak sapi khas Klaten. Selain itu, Pak Djaetun juga membangun sebuah tempat pertunjukan atau teater yang memfasilitasi semakin banyak kesenian. Dengan pola pikir yang sama atau tujuan sama, pembangunan teater ini menjadi harapan banyak orang dan harapan untuk mendapatkan nilai kebaikan yang semakin besar. Pak Djaetun mengkaitkan keberadaan teater tentu akan mendorong banyak karyawan atau pekerja seni yang beraktivitas, sehingga ini akan membuat senang banyak orang.
4.4Diskusi
Penelitian ini berangkat untuk menggali peran komunitas penggerak seni budaya dalam mengekspresikan budaya lokal melalui media komunitas berbasis teknologi, hal tersebut dilakukan di tengah semakin berkembangnya inovasi yang dikembangkan oleh media arus utama. Secara empiris produksi makna oleh media arus utama menghasilkan realita populer dan meredupkan kearifan lokal. Kehadiran sistem media komersial global seperti media arus utama, memang diakui tidak sepenuhnya menjadi negatif, ada bagian promosi pesan kebaikan yang muncul dalam konten, seperti pesan nasionalisme, pesan anti-rasis, anti-seksis yang memang masih bisa diterima (Iwabuchi, 2019; Kaur, 2020). Namun, sistem tersebut dianggap memiliki kelemahan dalam upaya mewakili kepentingan publik. Seperti secara kritis dikemukakan McChesney (1997) bahwa sistem media komersial global beroperasi untuk mempercepat tujuan pasar global dan melakukan promosi terhadap nilai komersial termasuk diantaranya mencemari jurnalisme dan budaya yang tidak kondusif.
Dalam menghadapi budaya populer yang masuk melalui globalisasi diperlukan ketahanan oleh masyarakat, merujuk kepada Quaritch Wales, bahwa kearifan lokal diperlukan dalam menghadapi pengaruh yang ditimbulkan dari budaya asing saat kedua budaya saling berhubungan (Ayatrohaedi, 1986). Dalam konteks globalisasi, muncul kekhawatiran dari masyarakat yang selama ini memiliki perhatian dengan keberadaan budaya lokal yang mengusung kearifan lokal berupa simbol kesenian (Karsidi, 2017) terancam karena harus berhadapan langsung dengan cepatnya arus budaya populer yang masuk (Ravi & Guru, 2016). Sarjana menyatakan simbol-simbol kesenian adalah bentuk eskpresi simbolik yang bersifat non-artefak (Muktiyo, 2014; Pawito, 2007; Zhang & Moe, 2017). Contohnya adalah tari, tembang, pentas teater/drama, musik, dan puisi. Dengan pemanfaatan teknologi masyarakat dapat beradaptasi dan transformasi dengan teknologi, strategi tersebut memberikan peluang lebih luas dalam misi pelestarian budaya lokal (Mubah, 2011; Surahman, 2016).
Akselerasi globalisasi serta teknologi komunikasi telah memfasilitasi pertukaran ide, pengetahuan, dan budaya antara populasi dan lintas batas, seringkali secara real time. Sebaliknya, media komunitas sering ditentukan oleh konten lokal mereka yang eksplisit. Media komunitas sering ditentukan oleh wilayah geografis tempat mereka diproduksi dan target khalayak. Meskipun demikian, media komunitas yang diproduksi secara lokal di satu bagian dunia terkadang dapat memiliki dampak sosial, budaya, atau ekonomi di tempat lain.
Studi lain menegaskan keberhasilan strategi dari media komunitas bergantung pada dua kriteria (Granger et al., 2018). Pertama, materi yang dihasilkan secara lokal harus menginspirasi dan membangkitkan kepercayaan pada target komunitas. Kedua, anggota masyarakat harus mengidentifikasi diri dengan peserta yang terlibat dalam produksi. Pemodelan peran yang ditunjukkan oleh aktor sosial juga menjadi gagasan penting dalam perubahan perilaku yang direpresentasikan dalam program media komunitas. Anggota komunitas termotivasi untuk mengikuti kegiatan komunitas ketika mereka melihat aktor sosial sebagai panutan.
Globalisasi mendorong pengelola media komunitas untuk menciptakan konten lokal agar dapat dipublikasikan secara lebih luas. Penelitian sebelumnya (Bogaerts, 2017) menunjukkan media arus-utama masih minim untuk sediakan ruang bagi budaya lokal. Sebgai bagian dari produk industri media, media arus utama melakukan seleksi terhadap konten budaya ke khalayak. Alih-alih memberikan tayangan yang memiliki tujuan mulia yaitu memperbaiki perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik, tetapi konten yang dihadirkan justru tayangan yang melanggar etika. Kekuatan pemodal di belakang kepemilikan media arus utama memengaruhi kebijakan konten media. Hal ini dapat dijelaskan dengan konten yang tidak lagi berbasis kepada kebutuhan masyarakat, melainkan sebagai media untuk memenuhi ambisi pemodal. Komodifikasi media menjadikan media arus utama tidak lagi disebut sebagai saluran utama masyarakat untuk memperoleh layanan informasi dan hiburan. Sedangkan media komunitas dalam beragam jenis teknologi, seperti radio komunitas, televisi komunitas ataupun media komunitas platform yang berbasis daring, modal dan sumber daya terpenting mereka yaitu pengetahuan dan kreativitas. Media komunitas tetap disebut sebagai bagian dari sebuah produk industri kreatif meskipun tujuannya tidak fokus kepada mendapatkan keuntungan finansial.
Industri kreatif semakin berkembang di era digital, namun demikian istilah industri kreatif telah menjadi bahan diskusi sejak tahun 1994 (Moore, 2014). Hartley (2005) menyebut industri kreatif sebagai gagasan manusia, kemampuan, pengalaman yang disertai usaha keras. Industri kreatif saat ini bergantung pada modal sosial, jaringan komunikasi, dan komunitas. Aktivitas Bali Buja merupakan bagian dari industri kreatif untuk tujuan penguatan identitas yang ditanamkan antar generasi. Merasa bahwa nilai keluhuran budi atau berperilaku merupakan kearifan lokal yang tertanam dalam seni budaya perlu dilestarikan. Bagi, masyarakat Bali Buja, seni dan budaya yang terekspresikan melalui seni karawitan, kemudian wayang kulit dan wayang orang adalah bagian dari wujud latihan toleransi antar warga. Seperti yang disampaikan oleh Sumarsam (2018) bahwa setiap irama dan tabuhan (pukulan) yang dilakukan oleh pengrawit memiliki makna. Kesadaran diri baik antara pengrawit, seperti gending dan pesindhen memerlukan keterlibatan toleransi rasa. Kebiasaan memainkan seni karawitan akan menjadi bermanfaat bagi kebutuhan psikologis masyarakat Bali Buja. Ada sesuatu keuntungan yang tidak didapatkan melalui uang, lebih dari sekadar kebutuhan finansial. Melainkan, kepuasan akan menyadari diri bahwa ketika memainkan musik dengan berhasil menyesuaikan irama, tujuan untuk 'ngelaras' menjadi pencapaian personal.
Peneliti melihat keinginan awal dari penggagas Bali Buja yaitu Pak Djaetun pada dasarnya adalah keinginan pribadi untuk menyenangkan banyak orang, sesuai kemampuan Pak Djaetun. Hal tersebut merupakan perwujudan rasa syukur dan pengabdian Pak Djaetun sebagai seorang sesepuh dari Klaten yang telah merasa cukup bekerja dan berkarir di Jakarta, kemudian memilih untuk kembali ke kampung halaman. Selain tujuan menyenangkan banyak orang, Pak Djaetun juga memiliki semangat moral yang menginginkan berbuat baik kepada banyak orang. Kecintaannya dengan seni tradisi, layaknya masyarakat Jawa pada umumnya, kemudian langkah untuk menyenangkan banyak orang diwujudkan melalui pembentukan paguyuban kelompok seni budaya di wilayah tempat tinggal. Jika dibandingkan dengan kegiatan sejenis, berdasarkan observasi sebelumnya peneliti menemukan kanal-kanal sejenis yang berkaitan dengan seni. Seniman wayang kulit, Ki Seno Nugroho juga dikenal secara luas melalui kanal khusus yang dibentuk melalui YouTube. Di Klaten pun, sudah mulai berkembang seniman-seniman lokal yang mulai menggunakan platform internet untuk menyiarkan kegiatan seni dan budaya. Namun, sesuai dengan pemaparan Pak Djaetun sebelumnya bahwa perbedaan Bali Buja adalah untuk memberikan kesempatan kepada seniman-seniman muda, kelompok seni yang terpinggirkan dan tidak memiliki akses pada media arus-utama. Media arus-utama yang dimaksud dalam bagian ini adalah televisi nasional, televisi lokal, radio siaran swasta dan kanal YouTube.
Alih-alih sebagai senior seniman yang ingin melestarikan budaya Jawa, Pak Djaetun menganggap Bali Buja justru lebih memilih untuk menggunakan paguyuban ini menjadi sebagai sarana silaturahmi untuk berbagi kebaikan. Seni pertunjukan seperti karawitan dan lainnya, jika terus dikembangkan kemudian dikelola secara berkelanjutan pada setiap generasi, akan memberikan peluang kearifan lokal dan keluhuran budi yang tersirat dalam seni bisa diaplikasikan seterusnya. Kekhawatiran akan globalisasi yang membawa aneka ragam budaya masuk ke daerah, kemudian beralih menjadi perwujudan masyarakat Jawa yang memahami keadaan atau disebut oleh literatur Jawa dengan 'ngelmu kahanan' sebuah konsep dari kultural Jawa yang bertujuan menyiasati keadaan.
Satu-satunya yang konstan dalam perkembangan sosial dan teknologi adalah perubahan. Lingkungan yang bergejolak memerlukan perubahan berkelanjutan pada tingkat individu - aktor sosial, generasi - dan pada tingkat masyarakat. Dinamika perubahan sosial membutuhkan respon yang cepat dari para aktor sosial, yang harus dibekali dengan pengetahuan dan kompetensi teknologi untuk merespon perkembangan sosial. Dalam masyarakat pengetahuan, para ahli yang berkualifikasi tinggi perlu terlibat dalam pembelajaran seumur hidup proaktif agar lebih mampu menghadapi perubahan sosial saat ini.
Banyak aktor terlibat dalam mewujudkan tujuan ketahanan budaya melalui pengembangan komunitas budaya. Pada bagian ini, penelitian fokus pada peran aktor sosial dalam pengembangan aktivitas seni dan budaya oleh Bali Buja. Studi ini menegaskan bahwa aktor sosial (Lamb & Kling, 2003) memainkan berbagai peran untuk menghasilkan produk melalui interaksi dengan aktor lain dalam berbagai konteks. Aktor-aktor sosial tersebut kemudian berinteraksi satu sama lain lintas tingkat organisasi maupun dengan aktor organisasi eksternal melalui berbagai mekanisme untuk bertukar sumber daya. Seorang profesional, kelompok perusahaan, atau anggota organisasi yang bekerja secara kolektif, atau organisasi yang berinteraksi dengan otoritas lingkungan adalah contoh aktor (Lamb, 2003). Lamb & Kling (2003) mendefinisikan aktor sosial ke dalam empat dimensi yaitu lingkungan, afiliasi, interaksi, dan identitas. Di dalam Bali Buja, aktor sosial tidak sebatas menjadi pengguna dari media komunitas ataupun sebagai khalayak; mereka juga dapat menjadi pencipta dan pelaksana, memainkan berbagai peran dalam penggunaan dan penerapan teknologi di dalam media komunitas.
Media komunitas disebut sebagai komunikasi perubahan sosial (Granger et al., 2018). Media komunitas menggabungkan kemampuan teknologi dalam menyampaikan pesan pemberdayaan masyarakat baik untuk kesejahteraan mereka dan meningkatkan semangat. Peneliti berargumen bahwa media komunitas sebagai media apa pun yang didukung teknologi yang dibuat, digunakan untuk keperluan komunitas. Beragam alat dan bentuk media komunitas menjadikannya pilihan menarik untuk komunikasi ketahanan budaya. Pengelola media komunitas terus berkembang saat mereka melakukan integrasi dan memanfaatkan teknologi media yang muncul dengan saluran komunikasi untuk melayani kebutuhan khusus komunitas dengan lebih baik. Kapasitas media komunitas untuk meningkatkan keterlibatan, akses, pembelajaran sosial, keterlibatan masyarakat semakin dimungkinkan dengan fungsi teknologi informasi dan komunikasi (Carpentier, 2015; Škripcová, 2016). Teknologi menguntungkan komunitas untuk menyesuaikan pendekatan media komunitas dengan budaya, lingkungan dan visi mereka sendiri. Kemampuan beradaptasi ini memungkinkan media komunitas berkembang dalam menanggapi perubahan kebutuhan masyarakat dan kemajuan teknologi. Media komunitas memposisikannya untuk terus berfungsi sebagai alat yang memungkinkan individu dalam berbagi pengalaman mereka guna operasionalkan fungsi ketahanan budaya. Bagian selanjutnya dalam penelitian ini, peneliti akan mensintesis penelitian tentang media komunitas, menawarkan prinsip dan rekomendasi yang praktis untuk membantu pengelola media komunitas dalam mengevaluasi penggunaan berbagai bentuk platform pada media komunitas