BAB 3

Metodologi

Paradigma konstruktivis, strategi etnografi, pengumpulan data, subjek penelitian, analisis, dan keabsahan penelitian.

Key Insights

  • Penelitian kualitatif dengan metode etnografi dan jejak etnografi (trace ethnography).
  • Film dokumenter berperan ganda: sebagai data analisis sekaligus proyek kolaborasi komunitas.
  • Keabsahan dijaga melalui triangulasi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi audiovisual.

[Bab ini] menguraikan metodologi penelitian. Bab disusun dalam beberapa bagian dengan tujuan memberikan penjelasan yang lebih sistematis dan terstruktur untuk mengidentifikasi bagaimana setiap tahapan desain penelitian memiliki kontribusi dalam menjawab pertanyaan penelitian yang telah disampaikan dalam Bab Satu. [Bagian pertama bab ini akan menjelaskan paradigma yang digunakan. Paradigma dalam penelitian ini adalah konstruktivis yang secara epistemologi berasumsi bahwa realitas tidak tunggal k]arena realitas sosial dipahami secara berbeda oleh individu dan kelompok, sehingga hasilnya akan berbeda. Penelitian ini akan mengeksplorasi komunitas Bali Buja dalam upaya mempertahankan kesenian tradisional. Kedalaman makna yang terkandung dalam setiap karya cipta seni memberikan dorongan bagi Bali Buja untuk berinovasi dalam menyebarluaskan gagasan kearifan lokal. Paradigma konstruktivis diterapkan berdasarkan realitas yang dibangun peneliti melalui pengalaman hidup dan interaksi di dalam komunitas Bali Buja.

Bagian selanjutnya dalam bab ini akan menjelaskan pendekatan penelitian, yaitu kualitatif. Pendekatan kualitatif menawarkan cara yang efektif dalam menunjukkan peran komunitas Bali Buja untuk ketahanan budaya. Peneliti mendalami setiap realitas yang dibentuk Bali Buja, karenanya etnografi digunakan sebagai strategi penelitian. Bagian lain bab ini kemudian akan membahas posisi peneliti, mulai dalam pengumpulan data, melalui wawancara, observasi partisipan, dan metode video. Penggunaan video atau data visual sebagai bentuk representasi kehidupan sosial digunakan untuk memahami tujuan komunitas. Selanjutnya, penjelasan mengenai informan penelitian, analisis data serta interpretasi, dan keabsahan data juga menjadi komponen penting dalam bab ini.

3.1Paradigma dan Pendekatan Penelitian

[Bagian sub bab ini akan membahas asumsi yang menjadi dasar paradigma peneliti dalam mendeskripsikan sudut pandang kearifan lokal dari komunitas budaya Bali Buja.] Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis karena bertujuan memaparkan pemahaman dan peran Bali Buja dalam penciptaan media komunitas berbasis teknologi media untuk tujuan mempertahankan identitas dan kearifan lokal. Fokus yang dikaji peneliti adalah komunikasi kooperatif dari komunitas budaya untuk menyempurnakan fungsi media komunitas. Untuk itu gagasan konstruktivis digunakan dalam proses menggali pengalaman dan memaknai aktivitas komunitas budaya Bali Buja. []

[Andrews (2012) menyebutkan bahwa realitas ditentukan oleh pengalaman hidup sehari-hari yang subjektif. Ketertarikan peneliti terhadap pelestarian seni tradisional kemudian diaplikasikan dengan keterlibatan dalam komunitas Bali Buja. Pada bab sebelumnya, peneliti telah mengungkap beberapa konsep berkaitan dengan komunitas, yaitu: komunitas budaya, kearifan lokal, ketahanan budaya, serta inovasi teknologi media yang diterapkan dalam media komunitas. Aspek ontologi secara filosofis dipahami melalui interaksi komunikasi dalam operasionalisasi media komunitas. Peneliti menggali proses adopsi teknologi media yang digunakan "Bali Buja" melalui keberadaan inovasi media komunitas berwujud 'media hiperlokal'.] Disebut media hiperlokal, karena komunitas budaya menggunakan aplikasi-aplikasi yang menjadi syarat perwujudan hiperlokalitas.

[Media komunitas adalah wahana bagi komunitas yang kurang mampu dan terpinggirkan (Kar, 2010).] [Komunitas memilih media komunitas dibandingkan berharap dengan keberadaan media arus-utama.] Media komunitas merupakan solusi bagi gerakan komunitas budaya yang memperjuangkan ketahanan budaya. [Oleh karena itu penelitian ini mengkaji makna atas pilihan komunitas yang meyakini keberadaan fungsi independen media komunitas. Hal tersebut memperkuat alasan pilihan pendekatan kualitatif, sebagaimana disarankan Denzin dan Lincoln (2018) karena dapat secara mendalam untuk memahami perasaan, emosi, perilaku dan pengalaman individu (Carey, 2008).] Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami bagaimana media komunitas yang dikembangkan "Bali Buja" menciptakan pengetahuan dan memaknai realitas dari pengalaman subyektif antar anggota, pengelola media komunitas, dan aktor sosial.

Untuk tujuan analisis, dalam perjalanan penelitian, peneliti juga bertemu dengan tokoh masyarakat sebagai aktor sosial dalam pemberdayaan komunitas budaya. Realitas penelitian ini kemudian dibangun melalui pengungkapan makna dari aktor tersebut. [Bagaimana sinergi yang dibangun antara konsep berkomunitas, keterlibatan aktor komunitas, serta makna identitas budaya yang diperjuangkan adalah bagian fokus kajian peneliti. Schwandt (1994) menyebutkan bahwa dalam memahami dunia makna, seseorang terlebih dahulu harus menafsirkannya]. Kolaborasi antara aktor komunitas dengan anggota komunitas ditunjukkan melalui pemilihan konten dalam media komunitas. Pilihan konten kesenian adalah bentukan makna kearifan lokal dari komunitas yang kemudian disebarluaskan melalui media komunitas. Konten menjadi bagian dari realitas yang diungkap melalui kajian ini. Karena itu, pengamatan langsung digunakan dalam proses mendalami dan menunjukkan konten yang diproduksi komunitas budaya.

Dalam mendukung tujuan penelitian, aspek-aspek yang berkaitan dalam media komunitas menjadi fokus peneliti; seperti teknologi media untuk ketahanan budaya yang diupayakan komunitas budaya untuk mempertahankan ekspresi kesenian budaya; komunikasi kooperatif dikaji melalui kreativitas yang digunakan Bali Buja, [identifikasi organisasi dan peran media komunitas, kemampuan anggota komunitas dalam menggunakan teknologi media untuk produksi konten, strategi presentasi konten, bagaimana pengelola media komunitas berhubungan dengan komunitas, bagaimana pengelola media komunitas memungkinkan komunitas untuk mengakses dan berpartisipasi dalam media, rencana masa depan komunitas dalam memperkuat kapasitas media komunitas dan bagaimana rencana komunitas untuk memperluas akses dan partisipasi masyarakat.]

Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian
Gambar 3.1 Kerangka Kerja PenelitianSumber: Diolah oleh peneliti

<figure> <img src="media/image2.png" style="width:5.68545in;height:3.80899in" alt="Diagram Description automatically generated" /> <figcaption><p><span id="_Toc106542089" class="anchor"></span>Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian <em>(diolah oleh peneliti)</em></p></figcaption> </figure>

[Sifat eksploratif dari penelitian ini tidak hanya terbentuk karena rumusan masalah penelitian. Kompleksitas penelitian berangkat dari masih kurangnya kajian media hiperlokal sebagai inovasi teknologi media berbasis internet untuk komunitas budaya. Secara sistematis, kombinasi metode digunakan peneliti dalam proses memahami banyak aspek hubungan antara adopsi teknologi media dan dinamika komunitas budaya Bali Buja.]

[Studi ini mengajukan beberapa asumsi, seperti yang tertera di literatur yang diulas pada bab sebelumnya. Salah satu pendekatan konseptual yang mendasari penelitian ini adalah gagasan komunikasi partisipatif dan komunikasi kooperatif (Lull, 2020) berdasarkan komunitas Bali Buja. Tujuan penyajian asumsi pada bagian ini bukan digunakan sebagai bentuk spekulasi, melainkan sebagai antisipasi perjalanan eksplorasi. Pertama, seperti yang tercantum pada Bab Satu, menampilkan argumen terkait media arus-utama yang tampak semakin sedikit dalam memberikan ruang bagi komunitas budaya yang terpinggirkan. Kedua, pemaparan akan fokus kepada dinamika pengelolaan media komunitas berbasis teknologi. Partisipasi masyarakat dalam komunitas budaya akan dinarasikan guna menjelaskan misi komunitas, yaitu ketahanan budaya.]

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tujuan penelitian ini bukan untuk menggeneralisasikan fungsi teknologi media untuk media komunitas bagi komunitas budaya, melainkan untuk menunjukkan bahwa terdapat peran teknologi media untuk eksistensi media komunitas. Akibatnya, kesimpulan dan temuan penelitian dimaksudkan untuk memacu penelitian lebih lanjut pada komunitas budaya di lokasi lain. [Bagian berikutnya dalam bab ini akan menjelaskan lebih lanjut kombinasi metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian].

3.2Strategi Penelitian

Penelitian ini mengeksplorasi dinamika komunitas Bali Buja dalam pengembangan media komunitas untuk tujuan ketahanan budaya. Dalam mengurai keseluruhan arah penelitian, peneliti menggunakan strategi penelitian etnografi. [Etnografi disebut sebagai gambaran orang, sekelompok masyarakat, dan cara hidupnya (Angrosino, 2006; Bochner, 2016; Endraswara, 2021)]. [Penelitian ini membentuk gambaran yang komprehensif serta kontekstual] berdasarkan [cerita dan refleks dari individu atau masyarakat dalam komunitas Bali Buja,]

[Problematisasi muncul melalui orang-orang, cerita, dan kompleksitas komunitas Bali Buja selama melakukan aktivitas pelestarian budaya.] Keengganan masyarakat dalam berpartisipasi dalam penelitian, serta kurangnya penetrasi komunitas oleh peneliti, merupakan penghalang utama bagi penelitian komunitas (Carlson et al., 2006). Oleh karena itu, dalam memulai proses ini, peneliti mempertimbangkan keseharian komunitas budaya dan keterlibatan bersama anggota komunitas. [Interaksi sosial dan kelompok budaya, terlepas dari apakah kelompok ini dicirikan sebagai masyarakat, komunitas, organisasi atau tim, hendak dipelajari secara etnografis (Reeves et al., 2013).] Di awal observasi, peneliti menemukan adanya partisipasi aktif dari masyarakat dan kontinuitas program seni budaya yang dikelola komunitas Bali Buja. Dua media komunitas yang menjadi media pendukung dari kegiatan penyiaran konten komunitas Bali Buja adalah Radio Komunitas Bayat (RKB) dan Galuh Prambanan TV. Studi sebelumnya menunjukkan komunikasi partisipatoris sebagai media utama bagi komunitas untuk bertahan. Pengelola media komunitas tidak menjadikan keuntungan finansial sebagai tujuan utama operasionalisasi media. Definisi ini mirip dengan media komunitas yang digunakan Bali Buja sebagai media berekspresi kesenian.

Peneliti melakukan pengamatan secara offline dan online. Hal ini dilakukan karena media komunitas Galuh Prambanan TV dikembangkan sebagai media online. Pengamatan online dilakukan dengan mengamati laman Facebook Page dari Galuh Prambanan TV dan kanal Youtube. [Pendekatan offline untuk implementasi proyek penelitian ini diawali dengan kedatangan peneliti ke daerah Klaten untuk bertemu dengan komunitas Bali Buja. Komunitas ini merupakan paguyuban atau organisasi yang menaungi beberapa kelompok kesenian di Desa Tlogo, Klaten dan sekitarnya. Lokasi berkumpul komunitas ini berada di daerah Prambanan, yang merupakan area perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas Bali Buja didirikan untuk menciptakan peluang eksistensi bagi kelompok kesenian yang memilih menggunakan media komunitas daripada media arus-utama. Komunitas ini dipilih karena sebagai salah satu penggerak komunitas budaya yang secara mandiri memiliki inisiatif menyiarkan konten kesenian.]

[Selama proses penelitian, peneliti mencari tempat tinggal di Klaten, yang tidak jauh dari lokasi pusat kegiatan komunitas agar dapat mengikuti aktivitas yang dikoordinasi oleh komunitas Bali Buja. Sejak saat itu, peneliti juga melakukan tur ke daerah penelitian] Radio Komunitas Bayat (RKB) [yang turut berperan dalam melestarikan kesenian tradisional. Kegiatan tersebut mendukung aktivitas peneliti dalam mengamati pengelolaan media komunitas.]

[Peneliti juga berbaur dalam pergaulan komunitas Bali Buja selama di Klaten. Tidak hanya melakukan proses observasi dan wawancara, peneliti juga melakukan kegiatan yang bersifat partisipatif dengan berkontribusi memberikan rekomendasi proyek program berdasarkan kebutuhan komunitas, misalnya pengembangan situs web dan penggunaan media podcasting. Metode video digunakan untuk memperjelas gambaran dinamika anggota komunitas dalam mengelola media komunitas, kebersamaan yang dijalankan untuk nguri-uri budoyo Jawi (atau: melestarikan budaya Jawa) karena kepedulian atas makna kearifan lokal. Pada bagian lain pada bab ini akan dijelaskan fungsi film dokumenter sebagai penerapan metode video.]

3.3Metode Pengumpulan Data

Etnografi mengacu pada prosedur ketika peneliti sendiri mengumpulkan data secara langsung (Atkinson & Hammersley, 1998). Hubungan antara etnografer dan anggota masyarakat harus dapat dinegosiasikan melalui interaksi langsung dan pribadi. Penelitian ini mengumpulkan data dengan memanfaatkan tiga metode: wawancara mendalam, observasi, dan film dokumenter.

[Pada studi ini, seperti yang disebutkan pada bagian sebelumnya, peneliti turut terlibat dalam komunitas Bali Buja melalui partisipasi pengembangan gagasan media komunitas. Menurut Agar (1996), kecurigaan dapat dirasakan kelompok masyarakat atau organisasi jika terdapat 'orang asing profesional' yang mengharapkan akses secara intim. Namun, keterlibatan tersebut, kemudian menjadi bagian strategi sebagai perwujudan aktivitas penelitian aksi partisipatif. Seperti yang dikatakan Simmons (2007), peneliti harus mampu menyadari kompleksitas ketika etnografi dijalani sebagai 'orang dalam' di sebuah organisasi.]

[Penelitian ini memiliki pertanyaan yang akan dijawab melalui dua penelitian yang berbeda.] Metode yang tepat akan memastikan peneliti dalam mengeksplorasi apa yang dipahami. [Tiap penelitian menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan, dan pendekatan film dokumenter.]

[Implementasi pengumpulan data yang dilakukan peneliti, yaitu dengan merekam teks konten pertunjukan seni budaya, wawancara dengan pegiat komunitas budaya, dan pengelola media komunitas, kemudian ditunjang dengan kegiatan observasi terhadap komunitas budaya dan operasionalisasi media komunitas. Sementara itu, pelaksanaan kegiatan aksi partisipatif, diwujudkan melalui proyek kolaboratif produksi film dokumenter sebagai gambaran berkaitan aktivitas komunitas budaya.]

Wawancara Mendalam

[Wawancara adalah metode utama dalam mengumpulkan data. Wawancara memungkinkan peneliti untuk menetapkan komponen subjek yang paling relevan dalam mencapai tujuan tersebut (Lindlof & Taylor, 2017). Peneliti melalukan serangkaian wawancara informal dengan beberapa partisipan sebagai pelaku dalam komunitas budaya untuk mengumpulkan informasi tentang bagaimana pelaku berpartisipasi dalam praktik media komunitas. Wawancara mendalam dilakukan dengan mengunjungi pegiat komunitas budaya dan anggotanya di lokasi penelitian. Wawancara memungkinkan peneliti untuk memahami ide, perspektif, sikap, dan motif seseorang, terutama melalui diskusi langsung dan mengajukan pertanyaan (Berger, 2018). Interaksi antara peneliti dan narasumber dalam wawancara kualitatif ini berbentuk pembicaraan tatap muka yang berlangsung selama narasumber bekerja. Tidak adanya pedoman wawancara yang ketat dalam mengajukan pertanyaan menyebabkan informasi yang didapat dari narasumber semakin terbuka dan detai]l. [Melalui snowballing, wawancara narasumber lain dilaksanakan dengan memanfaatkan rekomendasi narasumber sebelumnya. Sebagian wawancara dalam penelitian ini juga disajikan melalui metode video.]

[Langkah pertama sebelum melakukan wawancara adalah membangun hubungan dengan partisipan. Peneliti mengenali subjek yang diteliti terlebih dahulu untuk mendapatkan hubungan baik, sehingga tidak ada batas antara peneliti dan orang yang diteliti. Komponen ini mengarah pada wawancara yang lebih nyaman dan mengundang peserta untuk mendiskusikan jawaban. Dengan demikian, peneliti lebih mudah terlibat bersama informan. Namun, peneliti tetap melanjutkan penelitian dalam koridor penelitian. Selama dua tahun, peneliti menjalin kedekatan dengan subjek penelitian sejak akhir 2018 hingga laporan penelitian ini disusun.]

[Di Desa Tlogo, Klaten yang merupakan lokasi penelitian, peneliti bertemu dengan pemimpin informal komunitas budaya yang menjadi informan, di antaranya Djaetun HS sebagai inisiator dari komunitas Bali Buja, Sentot yang merupakan penggerak komunitas budaya, Barun dan Winardi yang merupakan pengelola media komunitas, serta Sarjono, Suparno dan Saimin yang merupakan anggota dari komunitas budaya. Mereka dipilih atas dasar menjadi pegiat komunitas budaya yang mendukung media komunitas.]

Observasi Partisipan

[Langkah selanjutnya, peneliti menggunakan metode observasi partisipan untuk menyediakan data guna menganalisis partisipasi masyarakat dalam media komunitas yang dikelola komunitas Bali Buja. Atkinson dan Hammersley (1998) mendefinisikan observasi partisipan sebagai strategi lapangan yang menggabungkan wawancara responden dan informan, analisis dokumen, serta partisipasi dan observasi langsung. Dengan keterlibatan secara langsung dalam kegiatan komunitas Bali Buja, peneliti dapat menyatu dan menjadi 'anggota sementara' dalam kelompok. Keterlibatan tersebut memberikan jalan bagi peneliti untuk mempelajari maksud dari komunitas.]

[Peneliti menggunakan observasi partisipan sebagai strategi untuk mendengarkan anggota komunitas dan mengamati anggota Bali Buja; wawancara informan dilakukan sekaligus sambil mengamati partisipan (Spradley, 2016). Pengamatan tersebut memungkinkan peneliti untuk melihat dan memahami apa yang terjadi dalam kegiatan harian (O'Reilly, 2005) dari komunitas budaya yang dipilih dalam studi ini. Observasi membantu peneliti dalam menilai apakah hasil wawancara konsisten dibandingkan dengan pengamatan yang dilakukan. Misalnya, hasil wawancara menunjukkan bahwa selama ini sebagian orang ingin memberikan kontribusi sebagai aktivis seni dan budaya, mengingat dedikasi mereka terhadap ketahanan budaya. Hal ini ditunjukkan dengan pertemuan antara peneliti dan pihak-pihak yang berkomitmen dalam memajukan seni dan budaya yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal.]

[Peran peneliti adalah pengamat aktivitas komunitas budaya, peneliti bukan anggota dari media komunitas dalam penelitian etnografi ini.] Kerja lapangan yang dilakukan peneliti berkisar pada partisipasi aktif di lapangan melalui kehadiran acara dan pengembangan media. [Dalam proses pengumpulan data, interaksi ini memiliki manfaat. Sebagai outsider, peneliti mengikuti kegiatan komunitas budaya selama tiga tahun yaitu 2017 -- 2020. Posisi insider selama penelitian ditunjukkan pada saat berpartisipasi dalam pekerjaan pengembangan media komunitas Galuh Prambanan TV (media yang menjadi sarana penyiaran berbasis internet dari Komunitas Bali Buja). Kegiatan aksi partisipatif tersebut membantu peneliti dalam membangun interaksi yang akrab dengan pegiat komunitas (Endraswara, 2021).]

[Selama pengumpulan data, peneliti menggunakan catatan, perekam suara, serta kamera foto dan video.] Penelitian etnografi mencakup foto dan video yang menarik secara visual, kaya, dan bermanfaat [(Allan, 2013; Barley & Russell, 2019). Kamera video juga memiliki manfaat untuk implementasi penyajian data dengan pendekatan film dokumenter. Penggunaan kamera video dengan teknologi modern menciptakan peluang bagi peneliti dalam mengembangkan metode yang kreatif dan efektif (Rosenstein, 2002). Rekaman visual seperti film dokumenter membantu peneliti etnografi dalam melakukan dan menunjukkan interpretasi terhadap perilaku dalam komunitas masyarakat (Pink, 2021).]

Film Dokumenter

[Mengingat karakter eksploratif pada penelitian ini, diperlukan desain penelitian yang tepat dan praktis dalam menjawab tantangan tersebut. Kombinasi metode diterapkan dalam menjawab pertanyaan penelitian dengan informasi yang memadai atau perspektif kedalaman. Pada penelitian ini, data video atau audio-visual digunakan untuk mendukung penyajian data dari etnografi. Integrasi pengalaman etnografi dengan metode video dapat digunakan sebagai media edukasi pada khalayak yang lebih luas (Church, 2021).] Metode film dokumenter yang dipilih [merupakan bagian dari keterlibatan peneliti bersama komunitas untuk mewujudkan dan menyuarakan pesan komunitas budaya.]

[Penggunaan metode alternatif seperti film dokumenter memiliki sejumlah fitur yang menarik. Seperti yang dikatakan Margaret (2003) bahwa laporan penelitian kualitatif adalah sarana untuk menceritakan kisah.] [Film dokumenter digunakan untuk menggambarkan keadaan lapangan, interaksi komunitas, menunjukkan hasil dari observasi, dan menyajikan hasil pengamatan secara menyeluruh berkaitan dengan cerita yang muncul di dalam komunitas. Angrosino (2006) menyimpulkan bila etnografi mampu menggambarkan orang dan cara hidup. Etnografi merupakan proses dinamis antara sistem makna yang kuat untuk dipelajari dan diinterpetasikan (Clifford & Marcus, 1986). Pengelolaan teknik film dokumenter dalam penelitian ini juga dikombinasikan dengan metode etnografi partisipatif sebagai proses untuk membaca persepsi dan respons terhadap kegiatan yang diadakan oleh komunitas budaya. Film menjadi jalan untuk berbagi makna melalui cerita dan informasi yang ditemukan dalam penelitian ini.] Argumen ini memungkinkan film etnografi tidak hanya digunakan sebagai bentuk dokumentasi, tetapi sebagai objek kajian (Jacobs, 2009).

[Karya berbasis penciptaan seni yang kreatif seperti puisi dan film, mendapatkan perhatian sebagai mode alternatif pengumpulan dan berbagi data (Denzin & Lincoln, 2018). Mengomentari film dokumenter, Morgan (2018) berpendapat bahwa pemanfaatan penelitian film dokumenter memiliki potensi dan tantangan praktis dalam memperkaya proses penelitian akademis. Metode lain yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah penerapan dari pendekatan penelitian aksi partisipatif. Hal ini berangkat dari produksi film dokumenter yang dihasilkan peneliti bersama dengan tim khusus. Berdasarkan implementasi karya dan pengalaman produksi film dokumenter; peneliti berargumen bahwa memproduksi film dokumenter dapat dipertimbangkan menjadi metode yang tepat untuk menyampaikan hasil temuan dan sebagai sarana diskusi. Pemanfaatan film dokumenter menjadi sarana bagi komunitas Bali Buja untuk menunjukkan gambaran nyata yang bersifat ilustratif dan memungkinkan untuk lebih mudah dipahami. Denzin & Lincoln (2018) menulis: "kami tidak lagi hanya menulis budaya, kami menampilkan budaya". Film dokumenter akan memungkinkan peneliti menangkap makna dan membagikannya dengan khalayak, serta berjangkauan maupun berdampak lebih luas.]

[Pertanyaan pertama dalam penelitian ini akan dijawab dengan pendekatan metode video atau film dokumenter. Secara lebih detail metode pengumpulan data film dokumenter akan dijelaskan dalam Bab Empat. Pertanyaan kedua berkaitan eksplorasi strategi yang dikelola komunitas Bali Buja akan menggunakan observasi partisipan dan wawancara mendalam. Peneliti menggunakan metode wawancara mendalam untuk memahami, menginterpretasikan informasi dari aktor sosial komunitas yang diasumsikan sebagai penggerak utama komunitas Bali Buja.]

3.4Subjek Penelitian

[Kegiatan partisipatif yang dilakukan peneliti pada saat observasi awal memudahkan peneliti saat memilih subjek penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah personil atau individu dalam komunitas Bali Buja yang berperan dalam pelaksanaan pertunjukan kesenian, serta bertanggungjawab dengan media komunitas. Peneliti bersama-sama menggali informasi untuk memaknai kebenaran berdasarkan pengalaman subjektif. Informan merupakan aktor kunci dan sumber informasi yang bersedia bekerja sama dengan etnografer (Fetterman, 2019; Spradley, 2016). Informan dipahami sebagai subjek penelitian yang dapat menyampaikan informasi berkaitan topik kajian. Meskipun begitu, informan tidak dapat diidentifikasi sesegera mungkin dalam studi etnografi. Pemilihan informan akan bergantung pada unit kajian yang akan diperiksa, serta strategi peneliti dalam proses pencarian informan (Robinson, 2014). Dalam komunitas Bali Buja, peneliti bertemu informan kunci, yaitu Bapak Sentot dan Bapak Djaetun.]

[Landasan pendekatan purposeful sampling (Patton, 2014) digunakan untuk memastikan kasus paling informatif (information-rich case) yang berguna berdasarkan strategi dan tujuan peneliti. Pemilihan informan dalam komunitas juga mempertimbangkan metode snowball sampling. Informasi yang disampaikan oleh informan pertama dan kedua menciptakan peluang bagi peneliti untuk temukan informan lainnya. Selain itu, informasi yang diberikan juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana klarifikasi atas pernyataan wawancara yang dianggap kurang dipahami, sekaligus menjadi bahan eksplorasi data yang lebih mendalam.]

[Bapak Sentot merupakan informan pertama yang ditemui peneliti saat melakukan observasi awal di lokasi penelitian. Bapak Sentot dipilih karena terbuka dan informatif dalam memberikan informasi berkaitan komunitas. Bapak Sentot juga salah satu seniman yang turut berkontribusi dalam mengisi kegiatan kesenian. Informan pertama ini merupakan individu yang berperan dalam menjaga kolaborasi masyarakat dalam komunitas Bali Buja. Melalui informasi yang disampaikan Bapak Sentot, peneliti kemudian menetapkan Bapak Djaetun sebagai informan kunci karena ia memiliki peran besar dalam mewujudkan eksistensi komunitas budaya dalam menyiarkan pertunjukan kesenian yang mengandung makna kearifan lokal. Kedua informan tersebut bersedia membantu sekaligus bersinergi dalam menggali lebih dalam informasi yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan penelitian.]

[Informan pendukung berikutnya yang dipilih untuk keperluan eksplorasi data adalah salah satu aktor pengelola media komunitas, yaitu Mas Winardi. Pemilihan informan ini dilandasi dengan latar belakang Mas Winardi sebagai individu yang bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi media Galuh Prambanan TV. Berdasarkan informasi dari Bapak Sentot dan Mas Winardi, peneliti kemudian menemui Mas Barun sebagai informan berikutnya. Mas Barun adalah aktor kunci dalam operasionalisasi radio komunitas Radio Komunitas Bayat (RKB) yang paling awal berkolaborasi dengan komunitas Bali Buja dalam menyiarkan konten seni dan budaya.]

3.5Analisis Data

[Penelitian ini menggunakan tindakan simultan untuk proses pengumpulan data dan analisis data. Data-data dikumpulkan akan mendapatkan kode dan mengelompokkannya untuk dianalisis maupun diinterpretasikan. Data yang dihasilkan dari pengamatan, baik lapangan ataupun data online dianalisis dengan cara dikelola, dipahami, dinilai, didiskusikan, dan diinterpretasikan. Dasar untuk analisis adalah teks. Data sekunder visual dapat berupa gambar dan film, dianalisis untuk menghasilkan kata-kata setelah diinterpretasikan. Analisis data dilakukan dengan metode pengodean pada data utama. Corbin dan Strauss (2014) mendefinisikan pengodean sebagai proses penafsiran data untuk menunjukkan konsep untuk makna. Demikian pula, Charmaz (2014) mengatakan bahwa pengodean akan mengangkat pertanyaan analitis mengenai data sejak awal pengumpulan data.]

[Beberapa jenis teks yang diciptakan dalam penelitian ini adalah transkripsi wawancara, percakapan, foto, video catatan lapangan, serta studi literatur. Dalam penelitian ini, hasil wawancara direkam menggunakan alat rekam audio berformat digital dan kamera video. Tahapan berikutnya adalah menyalin data ke dokumen Microsoft Word. Wawancara, dalam hal ini untuk mengelola sejumlah besar informasi yang diperoleh dari kerja lapangan, dievaluasi secara kualitatif melalui CAQDAS (Computer Aided Qualitative Data Analysis Software) atau aplikasi perangkat lunak analisis data kualitatif berbasis komputer. Perangkat lunak yang digunakan adalah Atlas.ti™ versi 8.]

[Atlas.ti™ merupakan program komputer analisis kualitatif yang memungkinkan pengodean simultan untuk beberapa proses koding. Program ini membantu peneliti untuk mencurahkan lebih banyak waktu dalam menganalisis data, serta menunjang eksplorasi data yang lebih komprehensif.] Dengan [Atlas.ti™], peneliti menelusuri setiap materi dan menandai bagian, kutipan, atau seluruh bagian untuk mencatat fitur atau bagian berbeda dari data yang signifikan atau menarik. Penggunaan dan penamaan kode-kode ini diinformasikan oleh konsep, tema, dan pola yang telah muncul dari kerja lapangan, atau pola baru saat pengodean.

3.6Keabsahan Penelitian

[Empat aspek yang harus diperhatikan dalam penelitian kualitatif, yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Denzin & Lincoln, 2018; R. L. Jackson et al., 2007). Credibility atau kredibilitas, berkaitan dengan keyakinan pada kebenaran dalam temuan penelitian. Dalam menilai] kredibilitas, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan anggota kelompok pengelola media komunitas, anggota komunitas budaya, audience dari media komunitas, dan inisiator komunitas Bali Buja. [Transferability pada dasarnya mengharuskan peneliti untuk menggunakan temuan penelitian dan analisis dapat ditranster ke konteks lain. Konteks lain yang spesifik berkaitan dengan eksistensi media komunitas dalam tingkat lokal adalah pengembangan komunitas budaya untuk tujuan ketahanan budaya. Dependability dalam penelitian kualitatif dapat ditunjukkan dengan konsistensi antara data dan temuan penelitian. Sementara itu, confirmability berkaitan dengan aspek netralitas (Korstjens & Moser, 2018; Lincoln & Guba, 1985) yang merujuk pada penelusuran kualitas hasil penelitian dari data yang tersedia, seperti rekaman wawancara, catatan lapangan. Informan dalam penelitian ini dapat meninjau rekaman video untuk memastikan bahwa peneliti menangkap persepsi dan jawaban mereka dengan tepat.]

[Peneliti menggunakan triangulasi untuk mendukung kualitas penelitian ini. Peneliti menggunakan beberapa informan dengan latar belakang berbeda untuk proses cek data yang diperoleh. Creswell (2017) mengatakan peneliti melakukan triangulasi dari sumber data yang diperoleh dari observasi dengan data wawancara. Dalam kerja lapangan, peneliti menerapkan beberapa teknik pengumpulan data didukung dengan melibatkan informan yang latar belakang berbeda untuk turut melakukan tinjauan data. Penerapan proses triangulasi tersebut juga merupakan bagian dari upaya menggambarkan pemahaman yang mendalam atau thick description.]

3.7Kesimpulan

[Bab ini memaparkan cara peneliti dalam menjawab pertanyaan penelitian. Kombinasi metode digunakan menjawab pertanyaan penelitian utama dan menginvestigasi masalah dengan lebih dalam. Penggunaan metode tersebut juga dimanfaatkan untuk dukungan kredibilitas dan objektivitas dari penelitian ini, yang dibuktikan dengan deskripsi dan analisis yang mendalam. Hasil penelitian disajikan dalam dua bab berikutnya. Kemudian terdapat bab diskusi dan kesimpulan sebagai sintesis dari argumen-argumen yang dibangun dalam setiap temuan.]

Tabel 3.1 Pemetaan Metode
Pertanyaan PenelitianArea KajianMetodeInstrumenPemaparan Temuan
Bagaimana komunitas budaya mempertahankan kebudayaan lokal melalui penggunaan media komunitas berbasis teknologi informasi dan komunikasi?Komunitas Budaya berperan dalam tujuan Ketahanan Budaya Komunikasi Partisipatif Pesan Kearifan Lokal dalam Ekspresi Kesenian TIK empowerement Ketahanan Budaya dalam Media KomunitasKualitatifKajian LiteraturBab 2
MetodologiKombinasi MetodeKajian LiteraturBab 3
Bagaimana praktik kesenian yang digunakan komunitas dalam memproduksi pesan?Gambaran Komunitas Budaya Kreativitas Komunitas Budaya Peran Aktor SosialKualitatifFilm Dokumenter Wawancara Observasi Kajian LiteraturBab 4
Dengan tujuan apa teknologi internet digunakan oleh Media Komunitas Komunitas Budaya? Bagaimana strategi dan adaptif komunitas budaya dalam menggunakan teknologi untuk mengelola media komunitas?Teknologi Media Komunikasi Partisipatif Media KomunitasKualitatifWawancara Observasi\ Kajian Literatur Proyek Perancangan *Etnografis Aksi Partipatoris*Bab 5

: Tabel 3.1 Pemetaan Metode

[Penelitian ini bersifat eksploratif untuk menjawab pertanyaan penelitian berkaitan dengan eksistensi komunitas budaya dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam ekspresi kesenian. Penelitian ini juga kompleks, karena berupaya menjelaskan dinamika komunitas budaya dalam melakukan optimalisasi teknologi media untuk menyiarkan konten seni melalui media komunitas.]

[Tabel 3.1 merupakan gambaran pemetaan metode dalam penelitian ini. Tabel disusun peneliti dengan mencantumkan kembali pertanyaan penelitian dan area konsep penelitian yang akan dieksplorasi. Area konsep merupakan hasil pengembangan argumen konseptual yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya yaitu Bab Satu dan Bab Dua.]